JADI ANAK RANTAU: SENANG SEMENTARA ATAU SELAMANYA?

 164 kali dilihat

Tiga bulan sudah penulis jadi anak rantau. Merasakan gimana senangnya lepas dari awasan orang tua, gimana senangnya ketemu lingkungan baru, temen baru, diajak ngopi sana sini, makrab sana sini. Semua ajakan bisa dijawab dengan mudahnya lewat tiga huruf “gas”. Hari-hari di awal bulan diisi dengan makan enak, trip bareng teman-teman sampai kehabisan baju buat dipakai. Lalu image mahasiswa mulai melekat perlahan-lahan di diri penulis. Setiap hari punya kegiatan di luar kos sampai kamar kecil itu cuma jadi tempat untuk tidur. Nugas di luar itu perlu, cari makanan murah itu harus, dan ngucek baju itu wajib.

Penulis pikir itu hal wajar, namanya adaptasi. Menyesuaikan diri dengan rutinitas baru yang sebenarnya termasuk ke pola hidup tidak sehat. Tapi penulis sama sekali tidak keberatan dengan kegiatan yang segitu padatnya, karena satu tahun terakhir melihat teman-teman lewat aplikasi biru dan hijau akhirnya terbayar saat ini. Sangat disayangkan kalau sehari-hari hanya ngampus pulang-ngampus pulang, atau masyarakat biasa menyebutnya mahasiswa kupu-kupu. Jiwa ekstrovert penulis seakan-akan mendorong kuat untuk terus mencoba hal baru yang belum terjamah di kota kecil ini. Lagi pula kalau memang ada waktu dan kesempatan, apa salahnya meng-iyakan semua ajakan itu.

Sampailah pada titik di mana penulis merasakan ‘indahnya’ akhir bulan, semua kebutuhan bulanan habis dan uang saku yang tersisa cuma cukup untuk parkir di minimarket, bahkan untuk beli bensin satu liters aja kurang, oh iya harganya baru naik sih soalnya.  Fisik penulis diserang oleh virus musim pancaroba dan diperparah sama pola hidup penulis yang udah terlanjur hancur. Semua rutinitas yang biasa dilakukan lenyap begitu saja karena untuk bangkit dari kasur ke kamar mandi perlu usaha yang sama seperti berlari mengelilingi lapangan bola sepuluh kali putaran. Siklus dalam sehari berubah total jadi refleksi, meditasi, tidurisasi, repeat.

Tiba-tiba rindu rumah dan keluarga, kepingin pulang tapi terhalang oleh jadwal kuliah dan jarak. Yah, pada intinya semua orang punya porsi masing-masing. Kalau ditanya gimana rasanya jadi anak rantau? Sudah pasti jawabannya senang, tapi apa rasa senang itu bertahan selamanya? Sudah pasti jawabannya tidak. Semua kesenangan itu bisa hilang dalam satu kali kedipan ketika kita tidak bisa mengontrol sampai mana kapasitas diri kita sendiri. Yang mau tahu kabar penulis sekarang, untungnya sudah lebih baik dan lebih bisa memilah semuanya.

Penulis: Sahnaz Istiqomah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.