KUBAM, KESURUPAN, DAN PELECEHAN

 243 kali dilihat

Kami tidak diam, meski tidak semua hal di muka bumi ini harus kami kawal. Kemunculan beberapa isu yang terjadi, tidak serta merta disajikan dengan serampangan. Pers bukan lah Lambe Turah yang bisa dengan bebas menyebarkan isu dan informasi secara anonim, tanpa bisa dipertanggung jawabkan.

Di sini lah peranan penelusuran jurnalistik bekerja. Pendekatan jurnalistik memang tidak pernah seketat metodologi penelitian sejarah yang rumit dan sulit demi tervalidasinya sebuah kejadian-kejadian lampau. Mengutip perkataan editor Tempo, karya jurnalistik dicukupkan dengan menceritakan sebuah fakta berdasarkan sumber yang valid. Kita perlu menggarisbawahi “sumber yang valid”.

Kevalidan sebuah sumber tidak bisa dinilai dari apa saja yang nampak. Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Seorang jurnalis memiliki kode etik yang memang harus dipatuhi dan dihormati sepenuhnya. Hingga sampai pada publikasi, masih ada proses-proses lain yang tidak boleh terlewat.

Apa yang terjadi belakangan ini, tidak harus ditanggapi berlebihan. Memang banyak kejadian yang perlu kita tahu, kita pahami, mengerti, dan tindak. Idealnya demikian. Setidaknya, kita lebih peduli. Kebijaksanaan adalah kuncinya. Setiap informasi yang kita terima, harus dicerna dan dipikir menggunakan akal sehat, sekali pun kejadian-kejadian yang menimpa akhir-akhir ini seolah jauh sekali dari akal sehat.

Begitu banyak akun-akun yang mendermakan diri sebagai wadah bergosip. Setiap orang berhak memancing keributan di dalamnya. Dan akan menjadi hal miris apabila kita menganggap diskusi di kolom komentar adalah kebenaran paripurna.

Sebagai manusia, terlebih yang dituntut untuk cerdas, tentu verifikasi merupakan hal penting. Bisa jadi, dari sebuah pantikan isu yang beredar, memiliki maksud tertentu. Bukan hanya menyebarkan kabar burung, melainkan juga mengambil banyak keuntungan politis secara praktis. Sangat praktis.

Salah satu contohnya adalah bagaimana tanggapan kawan-kawan perihal acara karaoke yang diwarnai agenda minum-minum yang mana acara itu masih terbungkus nama fakultasnya? Berbagai tanggapan muncul di media sosial, untuk menorehkan opininya, juga untuk turut meramaikan. Kita cenderung menyukai keramaian.

Perilaku tersebut memang jauh dari etika kita sebagai warga Indonesia, khususnya kultur orang Jawa. Memang tabu, meski pun semisal bagi kebanyakan penyelenggara hal tersebut dianggap normal dan pantas. Tentu saja tidak.

Apresiasi baik untuk DPM setempat yang menindak hal tersebut. Memang perlu tindakan tegas dengan tujuan tidak ada pintu terbuka bagi usaha menormalisasi hal tersebut. Akan tetapi, akan jauh terhormat bila sudah ada usaha preventif sehingga hal-hal tersebut tidak sampai terjadi.

Harapan kami, penindakan yang dilakukan DPM didasari oleh kebijaksanaan tanpa mengambil kesempatan dari kesalahan lawan politiknya. Dengan anggapan bahwa ketika pelanggaran itu dilakukan oleh kawan politiknya, tidak ada tindakan dan justru membantu menutupi permasalahan itu. Bukan hal yang asing ketika memandang badan Eksekutif dan Legislatif saling main mata.

Kejadian kedua terjadi di lingkungan fakultas paling sehat. “Kesurupan masal” ternyata bisa terjadi di lingkungan kampus. Memang sudah ada penjelasan logis perihal kejadian itu. Tapi kita masih saja menyebutnya kesurupan.

Angkat topi untuk para dosen dan panitia yang mampu memberikan tindakan dengan tepat. Begitu pula adanya press rilis yang memberikan penjelasan dan klarifikasi sehingga tidak menimbulkan asumsi berlebihan. Istilah “klarifikasi” begitu akrab di benak kita akhir-akhir ini.

Yang telah terjadi bisa menjadi sebuah penelitian bagi peneliti yang konsentrasi di bidang itu. Bisa jadi dibahas secara ilmiah dunia kedokteran, atau pun pandangan etnografi. Sungguh menarik, sekaligus membuat bulu kuduk berdiri.

Kejadian terakhir adalah yang paling klise, naif. Bukan yang pertama kali: pelecehan seksual. Kita bisa bertindak cepat setelah peristiwa memalukan itu terjadi. Tapi bagaimana dengan cara untuk mencegah?

Adanya kepolisian tidak berarti profesi maling dan tindakan kriminal lain punah dari muka bumi. Begitu pula peranan ULTKSP dan berbagai macam lembaga perlindungan lainnya. Bekerja efektif sekali pun, predator seksual masih sulit dimusnahkan. Apalagi kalau tidak berjalan secara efektif.

Maka yang harus dibentuk adalah kesadaran untuk saling melindungi. Hal ini dapat dilakukan dengan kultur dan budaya yang dibangun. Membangun sebuah kebudayaan memang membutuhkan sebuah proses yang tidak instan, dan itu harus dimulai.

Usaha untuk mencegah sudah seharusnya diartikan sebagai usaha untuk membangun tembok pertahanan, bukan hanya penanganan setelah itu terjadi. Mantan pelaku mungkin tidak akan mengulang, tapi predator baru selalu terlahir.

Begitu lah yang terjadi belakangan. Kita perlu sebuah informasi yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan. Sekali lagi, di sini lah pers bertindak.

Salah satu bentuk kebijaksanaan dalam membaca sebuah isu adalah dipahaminya sebuah sumber informasi: akun gosip atau sumber kredibel. Dalam kajian jurnalistik, sebuah informasi tidak disebarkan tanpa proses panjang. Pers memiliki sebuah mekanisme wajib yang dilakukan demi kebenaran dan kredibilitas media.

Demikianlah beberapa kejadian yang memang harus dipahami dengan bijaksana dan penuh kedewasaan. Tentu kami berharap hal-hal baik memiliki umur panjang.

– Redaksi LPM Kavling 10

Ilustrasi: Alifiah Nurul Izzah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.