Ilustrasi: Alifiah Nurul Izzah

MALANG-KAV.10 Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., MS. akan menutup perjalanannya selaku Rektor Universitas Brawijaya dalam hitungan hari ke depan. Setelah empat tahun masa jabatannya, sedikit demi sedikit waktu memperlihatkan petunjuknya untuk berakhir tidak lama lagi. Siapa yang akan menggantikan posisinya pun juga sudah dapat dilihat oleh seluruh mata dari segala penjuru. Prof. Widodo, S.Si.,M.Si.,Ph.D.Med.Sc, resmi dinobatkan sebagai rektor Universitas Brawijaya yang baru, periode 2022-2027, Sabtu (21/05) lalu.

Semua terjadi melalui satu acara tahunan yang secara runut dilakukan di dalam sejarah Universitas Brawijaya. Pemilihan Rektor (Pilrek) periode 2022-2027 seakan menjadi titik kunci dari perubahan Universitas Brawijaya yang saat ini menggandeng status Perguruan Tinggi Badan Hukum (PTN-BH). Perubahan ini tentu membawa butir-butir dinamika di dalam arusnya. Seluruh pihak sivitas akademika UB seperti dibawa untuk beradaptasi selama Pilrek kali ini berlangsung.

Tahun Pertama Pilrek Bersistematika PTN-BH untuk UB 

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pergerakan Senat Akademik Universitas Brawijaya (SAUB) dalam menyiasati Pilrek kali ini tidak mendominasi secara utuh. Mengingat UB yang sudah menjadi kampus dengan status PTN-BH, menjadikan Majelis Wali Amanah (MWA) sebagai pihak yang hanya bertugas untuk menentukan panitia SAUB, mengumumkan informasi Pilrek, menghimpun pendaftaran, sekaligus menjaring bakal calon rektor yang akan terlibat dalam Pilrek periode 2022-2027.

Di tahun 2018 lalu, SAUB dan Menristekdikti menjadi satu-satunya pihak yang memegang penuh jalannya Pilrek. SAUB yang saat itu hanya dipenuhi oleh para petinggi kampus dari kalangan profesor serta guru besar, dianggap tidak melibatkan mahasiswa, dosen, dan karyawan dalam proses pemilihan rektor. Hal tersebut akhirnya sempat melahirkan tuntutan yang diajukan Eksekutif Mahasiswa bersama dengan 14 BEM Fakultas lainnya secara terang-terangan, dan berhasil ditandatangani oleh para calon rektor saat itu meskipun panitia SAUB bertindak menolak untuk menanggapi.

Hampir tidak ada perbedaan yang signifikan dengan SAUB dalam Pilrek di tahun ini. Prof. Dr. Ir. Ariffin, MS. selaku Ketua Panitia SAUB menerangkan bahwa, “SAU itu merupakan perwakilan dari profesor dan yang non-profesor. Masing-masing fakultas itu, tiga profesor dan dua profesor.” Pernyataan tersebut menandakan panitia SAUB tahun ini memutuskan untuk mengikutsertakan pihak dosen, terutama yang non profesor.

Adapun untuk MWA sendiri memiliki tugas dan wewenang untuk mengangkat maupun memberhentikan rektor, seperti yang disebutkan dalam Pasal 31 ayat (1) dalam PP No. 108 Tahun 2021 tentang PTN-BH Universitas Brawijaya.

“Peran MWA akan berfokus dalam kedua hal itu,” ujar Arifin ketika diwawancarai awak Kavling10 dalam Pilrek periode 2022-2027 pada (19/04).

Mengutip dari Kanal24, sejak diresmikannya pada (3/12), Majelis Wakil Amanat Universitas Brawijaya (MWA UB) yang diketuai menteri Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., memiliki jajaran Wakil, Sekretaris, Sekretaris Eksekutif, dan 17 anggota dan salah satunya adalah perwakilan mahasiswa. Namun, perlu digarisbawahi bahwa MWA UB memiliki suara mayoritas dalam pemilihan rektor. Sebab, suara MWA memiliki persentase pemilihan sebesar 65% sedangkan 35 % persentase pemilihan dari Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Akhirnya, Mahasiswa Punya Kesempatan Memberi Suara

Jika di Pilrek tahun 2018 lalu mahasiswa sampai harus melangsungkan aksi tuntutan kepada pihak kampus karena tidak dilibatkan secara langsung dalam pelaksanaan Pilrek periode 2018-2022, tahun ini mahasiswa akhirnya diberi kesempatan untuk memilih calon rektor Pilrek periode 2022-2027. Meski begitu, rupanya mahasiswa masih harus bersabar karena suara mereka masih harus diwakilkan pemimpin lembaga Eksekutif Mahasiswa, sebagai perwakilan mahasiswa di dalam MWA.

Hal tersebut diterangkan dalam Pasal 32 ayat (8) dalam PP No. 108 Tahun 2021 tentang PTN-BH Universitas Brawijaya. Nurcholis Mahendra, sebagai perwakilan resmi mahasiswa dalam Pilrek 2022-2027, mengawal isu Pilrek ini melalui program EM bersama BEM Fakultas untuk menampung suara dan aspirasi mahasiswa Universitas Brawijaya berupa melakukan survei online yang hasilnya disalurkan lewat audiensi terbuka terhadap mahasiswa yang ingin selangkah lebih dekat dengan para calon rektor.

“EM bersama dengan BEM Fakultas pertanggal ini sedang menyebarluaskan survei kepada seluruh mahasiswa sebagai bentuk evaluasi dalam mengulik permasalahan yang saat ini terjadi dan juga menyusun beberapa saran yang akan diberikan kepada calon rektor terpilih nanti nya”, jelas Enda selaku Presiden EM UB tahun ini pada Sabtu, (07/05).

Survei tersebut ia klaim menjadi bukti keseriusan seluruh mahasiswa UB dalam mengawal Pilrek periode 2022-2027. Penyebaran survei dilakukan secara terbuka untuk menampung ragam keluh kesah mahasiswa yang diharapkan menjadi bahan evaluasi empat tahun masa jabatan rektor Nuhfil, sekaligus membentuk rekomendasi kebijakan kepada seluruh calon rektor, agar kinerja mereka bisa lebih baik ketika sudah terpilih nantinya.

Akan tetapi, nyatanya, Enda sebagai perwakilan mahasiswa tidak memberikan komentar apa pun perihal alasan utama terpilihnya Prof. Widodo sebagai rektor. Kavling10 telah menghubunginya, namun belum ada tanggapan perihal itu.

Persaingan Sengit Antar Calon Rektor

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, SAUB menjadi lembaga yang bertanggung jawab untuk membuka pendaftaran untuk para pendidik kampus yang berminat menjadi rektor Universitas Brawijaya selanjutnya. Di tahun ini, SAUB mendapatkan enam bakal calon yang sudah lolos dari tahap tes administrasi maupun tes kesehatan. Di antaranya adalah Drs. Andy Fefta dari FIA, Prof. Candra Fajri A. dari FEB, Prof. Imam Santoso dari FTP, Prof. Marjono dari FMIPA, Prof. Unti Ludigdo dari FV, dan Prof. Widodo dari FMIPA.

Keenam bakal calon ini diberi kesempatan untuk berkampanye oleh SAUB, sekaligus menjadi penentu ke dalam tiga nama bakal calon rektor yang nantinya akan diserahkan penilaiannya kepada pihak MWA dua hari kemudian. Proses tersebut dilaksanakan secara terbuka di gedung Samantha Krida (19/04), dan disiarkan secara langsung melalui akun Youtube Universitas Brawijaya.

Hampir semua bakal calon memiliki visi maupun misi yang searah. Memajukan Universitas Brawijaya di tingkat nasional dan/atau internasional, lewat infrastruktur, penelitian, dan lain sebagainya dengan waktu penyampaian yang dibatasi dalam beberapa menit. Saat itu (19/04), keenam bakal calon ini juga diberi pertanyaan-pertanyaan wawasan dari jajaran panelis sidang pleno sebagai upaya penilaian orang-orang yang tergabung di dalam SAUB saat memilih tiga nama terbesar nantinya.

Memasuki hari dimana pemungutan suara tiga besar bakal calon rektor UB periode 2022-2027 (21/04), SAUB kembali membuka dan menyiarkan rapat pleno nya lewat Youtube Universitas Brawijaya. Ariffin mengawali sidang dengan mendahulukan musyawarah sebagai proses berjalannya sidang, tetapi kesepakatan antar audiens jatuh kepada sistem voting untuk memilih tiga nama bakal calon rektor yang akan diserahkan kepada pihak MWA

Sebelum itu, Ariffin sempat menjelaskan sistematika pemilihan rektor hanya dihitung untuk tiap-tiap suara yang diambil dari SAUB dan MWA, sedangkan suaranya hanya akan dianggap resmi jika anggota MWA dan SAUB hadir secara langsung di dalam sidang pleno. Hal itu ternyata benar dibuktikan ketika dilaksanakan sidang pleno penentuan tiga nama bakal calon rektor (21/04). Hanya sebanyak 91 dari 93 anggota SAUB yang dihitung sah surat suaranya karena absteinnya dua orang anggota SAUB tersebut.

Terlepas dari hal tersebut, sidang tetap menghasilkan tiga buah nama calon rektor teratas untuk dipertimbangkan pihak MWA. Ada Prof. Imam Santoso dari Fakultas Teknologi Pertanian yang memperoleh total 29 suara, diikuti oleh Prof. Unti Ludigdo dari Fakultas Vokasi dengan 27 suara, dan Prof. Widodo dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang mendapatkan 19 suara.

Selanjutnya, Giliran MWA yang Bergerak

Ketika diwawancarai pada (19/04), Ariffin bersikeras bahwa tugas SAUB dianggap sudah menjalani mandat sesuai undang-undang selama tiga nama calon terpilih sudah diumumkan.

“Ketiga nama bakal calon itu kemudian akan diserahkan kepada MWA, dan selain itu, (sudah, red.) bukan wilayah saya, itu sudah (tanggung jawab, red.) MWA. Tinggal menunggu waktunya saja nanti dari MWA,” begitu ujarnya.

Mulai (22/04), tongkat estafet pergerakan Pilrek periode 2022-2027 sudah beralih ke tangan MWA. MWA akan menilai, menimbang hingga menentukan siapakah yang nantinya akan menjadi rektor terpilih periode 2022-2027. Selama kurang lebih satu bulan, MWA melaksanakan wewenang tersebut secara tertutup melalui sistem musyawarah mufakat. Sementara itu di waktu yang bersamaan, pihak mahasiswa bergerak menyebarkan survei terbuka evaluasi empat tahun masa jabatan rektor Nuhfil sekaligus membentuk rekomendasi kebijakan kepada seluruh calon rektor.

Selamat untuk Rektor Terpilih, Prof. Widodo

Sabtu (21/05), akhirnya MWA mengumumkan siapa yang terpilih menjadi rektor Universitas Brawijaya periode 2022-2027 pada sidang pleno tertutup pemilihan rektor di lantai 6 Gedung Rektorat UB. Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med., Sc., dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam resmi menjadi rektor terpilih mulai tahun 2022 ini, hingga 2027 mendatang. Pelantikannya sendiri akan diselenggarakan pada Juni 2022 oleh MWA, setelah masa jabatan rektor Nuhfil sudah dianggap selesai.

Sebagai yang terpilih, Prof. Widodo berterima kasih sekaligus mengatakan bahwa semua proses transparansi dan pemilihan telah dilakukan dengan sangat baik. Ia juga berharap untuk seluruh teman-teman sivitas akademika agar saling bekerja sama dalam meneruskan program-program yang dirintis dalam empat tahun ke depan.

Meski pada kenyataannya, transparansi tersebut terbatas pada keputusan musyawarah mufakat. Di dalam sidang pleno tertutup tersebut, Ketua MWA UB Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. menyatakan, “Hasil pemilihan telah dilaksanakan dan disepakati secara musyawarah mufakat yang dihadiri anggota MWA lengkap. Intinya, semua bulat, dan menetapkan bahwa Prof Widodo sebagai rektor UB periode 2022-2027.”

Pernyataannya tersebut agaknya sedikit disayangkan oleh beberapa pihak. Alasan utama di balik terpilihnya Prof. Widodo, Prof. Muhadjir Effendy sebagai ketua MWA UB tidak ia beberkan dengan jelas. Bahkan, saat ditanya dalam konferensi pers pasca Sidang Pleno Pemilihan Rektor selesai dihelat, ia justru menjawab, “Pertanyaan sulit itu. Ini kan masalahnya begini, ini kan dipilih satu dari tiga, beda dengan nikah. Seandainya nikah saya pilih semua itu.”

Setelah diumumkannya rektor terpilih, MWA UB tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melantik Prof. Widodo sebagai rektor baru yang resmi untuk Universitas Brawijaya periode 2022-2027. Tak hanya MWA, seluruh sivitas akademika akan menanti pelantikan rektor terpilih hanya dalam hitungan hari lagi, meski dalam realitanya 76,9% mahasiswa tidak mengetahui pemilihan rektor sedang berlangsung berdasarkan hasil survei Departemen Penelitian dan Pengembangan Kavling10

Penulis : Alifiah Nurul Izzah

Editor : Alda Silvia Fatmawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.