Ilustrasi: Kreatif Kavling10

Di suatu pagi yang cerah, bersama kicauan burung tetangga juga bunyi alarm yang kencang nan merekah, saya bangun tidur seperti biasanya. Sebagai manusia generasi Z, bangun tidur bersama smartphone bukan menjadi suatu hal yang asing. Selesai mematikan alarm di ponsel, biasanya hanya ada dua kemungkinan yang terjadi pada saya: buka aplikasi Whatsapp atau TikTok. Lumayan, sebagai penyegar dan pembugar mata.

Hari itu saya putuskan untuk melihat-lihat isi FYP (For You Page) saya di TikTok sebentar. Lima menit pertama, isi video yang lewat masih seperti biasanya. Penampilan girl group Korsel kesenangan saya, konten lawak dan meme luar negeri yang agak receh, live dagangan tas cantik buatan Bandung yang sudah pernah saya tonton sejak sebelum tidur, sampai cuplikan drama “Grey’s Anatomy” season dua yang lagi-lagi saya lihat sampai harus lanjut ke part-part video berikutnya.

Sampai ketika jari saya terhenti sesaat, pause video yang membahas Helen Keller, tokoh yang sejak kecil saya kenal sebagai wanita ber disabilitas buta-tuli pertama di dunia yang berhasil jadi sarjana, dari sebuah kaset pemberian susu bubuk ketika saya berusia delapan tahun. Jujur, waktu kecil saya sudah kagum dengan beliau dan perjuangannya dalam berprestasi. Hanya saja, dahi lebar saya memberi respon kerutan kecil saat saya melihatnya. 

Saya masih ingat rasa kaget sekaligus heran melihat video tersebut. Menampilkan seorang bule perempuan seumuran saya yang lipsync (memeragakan suara) yang entah berasal dari mana di TikTok, “I wouldn’t wish that upon my worst enemy, unless of course, we’re talking about my enemy, Gwyneth Paltrow (Saya tidak akan berharap itu pada musuh terburuk saya, kecuali jika kita berbicara tentang musuh saya, Gwyneth Paltrow).” Namun, kalimat Gwyneth Paltrow digantikan dengan Helen Keller berikut dengan foto lawasnya yang sedang memegang bunga.

Karena masih penasaran, saya klik salah satu tagar yang digunakan dalam video tersebut, #helenkellerisfake. Bum! begitu kira-kira respon jantung saya. Kaget bukan main, ujaran kebencian terhadap tokoh kelahiran abad ke-19 seperti Helen Keller baru-baru ini trending di TikTok. Intinya, banyak dari orang-orang di tagar tersebut yang berspekulasi jika Helen Keller adalah tokoh fiktif belaka. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala, ternyata Helen Keller ada konspirasi gelapnya sendiri.

Siapa itu Helen Keller?
Helen Adams Keller lahir secara sehat pada 27 Juni 1880 di Alabama, Amerika Serikat, dari pasangan Arthur Keller dan Katherine Adams Keller (Keller, 2011). Sayang, di tahun 1882 atau di saat usianya yang memasuki 19 bulan, Helen mengidap penyakit radang otak yang menyebabkan ia harus kehilangan indera penglihatan dan pendengarannya. Lambat laun, perilakunya jadi lebih susah untuk dikontrol karena ia kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya (Fathoni, 2020).

Keadaan perlahan mulai membaik semenjak ia dipertemukan Anne Sullivan, selaku guru lulusan Institut Tunanetra Perkins yang disarankan oleh Alexander Graham Bell yang ketika itu juga sering membantu menangani anak-anak tuli (Nielsen, 2008). Semenjak saat itu, perilaku Helen perlahan semakin membaik. Ia bahkan bisa membaca huruf-huruf isyarat yang diajarkan Anne Sullivan pada telapak tangannya, membaca huruf braille, bahkan mengucapkan kata “water” dengan memegang mulut serta dagu lawan bicaranya (Nielsen, 2008).

Helen yang senang dengan karya seni William Shakespeare sejak ia mahir membaca huruf braille ini mengantarkannya pada pendidikan formal. Puncaknya pada saat ia kuliah, Helen Keller bahkan sudah bisa juga untuk mengetik, berbicara, dan mengeja huruf demi huruf lewat jari jemarinya (Fathoni, 2020). Helen yang cerdas ini akhirnya mampu membuktikan kalau dirinya bisa lulus dengan predikat cum laude, sekaligus menjadikan dirinya sebagai penyandang disabilitas ganda pertama yang berhasil menjadi sarjana (Hitz, 1906).

Selain cerdas akademis, Helen juga punya jiwa sosial yang tinggi. Ia aktif menjadi anggota Partai Sosialis yang rajin menulis tentang hak perempuan, hak difabel, kepentingan sosialisme, dan lain sebagainya (Nielsen, 2008). Jiwa sosial Helen juga terbentuk lewat institusi kepeduliannya yang ia bangun tahun 1921, American Foundation for the Blind (AFB) (Fathoni, 2021). Dari sanalah lama kelamaan namanya bisa dikenal kalangan masyarakat luas, bahkan ia juga pernah dipanggil Ratu Victoria dari Inggris karena dedikasi dan prestasi besarnya.

Uniknya, karena kepedulian dan kecerdasannya yang menarik hati banyak orang, Helen pernah diberi kesempatan untuk menerbangkan pesawat berkat bantuan interpreternya, Polly Thomson di tahun 1946 (American Foundation for the Blind, 2015). Tak hanya itu, ia juga diberi akses mengendarai sepeda tandem yang tetap aman, karena bisa memuat dua orang di dalamnya (Perkins School for the Blind, 2020). Sama seperti orang-orang lain yang memiliki pasangan, Helen juga menikah dengan Peter Fagan, sekretarisnya sendiri di tahun 1913 (Eschner, 2017).

Sepanjang hidupnya, Helen Keller dikenal di seluruh penjuru dunia, terutama lewat publikasi buku-buku biografinya yang salah satunya berjudul ‘Story of My Life’, keluaran tahun 1903 dan menjadi buku yang tetap laris dan diterjemahkan dalam puluhan bahasa hingga saat ini (Giffin, 1984). Helen kemudian wafat di tahun 1968, hanya beberapa minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-88 (Scharff, 2008)

Tagar yang Miris Sekaligus Memilukan
Sampai sekarang, kalau saya ingat-ingat lagi, tagar #helenkellerisfake benar-benar membuat pagi hari saya saat itu dipenuhi perasaan greget. Memang sih, kebanyakan video TikTok di tagar itu lebih banyak dibuat bule-bule pemuda–yang saya perkirakan kebanyakan berasal dari Amerika Serikat–yang seumuran dengan saya. Tapi, mau bagaimanapun, saya yang asalnya dari Indonesia ini juga berhak bersikap kontra terhadap teori konspirasi bodong Helen Keller ini. Toh, di saat yang bersamaan saya juga tidak akan pernah mengira kalau saya akan menjadikan kasus ini sebagai objek esai opini yang Anda baca saat ini.

Oke, saya jelaskan sedikit banyak tentang macam-macam video yang ada di tagar yang miris tersebut. Banyak dari video-video yang disukai secara masif berkonotasi jelek yang tujuannya untuk mengejek, skeptis, dan bermain-main dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki Helen Keller. Bentuknya ada yang parodi-parodian di sekolah (iya, anak-anak sekolah yang buat videonya), di halaman belakang bersama teman-teman, dan yang bentuknya seperti video yang saya lihat sebelumnya, lipsync dari sound (suara) TikTok yang sedang naik daun, dan lain sebagainya.

Konspirasi palsu Helen Keller ini juga menurut saya termasuk yang ‘tahan lama’. Video-video yang ada di tagar tersebut banyak yang berasal dari tahun 2020 dan 2021. Itu artinya, selama kurang lebih tiga tahun berturut-turut, Helen Keller dibenci berdasarkan konspirasi yang beredar di TikTok. Meski tidak begitu paham dengan algoritma TikTok, sampai saya mendapati video orang luar negeri secara acak pagi hari itu, saya justru semakin tertarik dengan isu ini. Sebab, apa yang saya bisa simpulkan adalah, gerakan tagar tersebut menjadi perwujudan nyata sikap ableism di media sosial yang berdampak sangat buruk terutama bagi kaum muda-mudi generasi Z, seperti saya ini.

Ableism: Sikap Superior yang Sama Sekali Tidak Superior
Istilah ableism yang berangkat dari kata able dari Bahasa Inggris yang apabila diartikan berarti mampu. Termin yang diperkenalkan tahun 1981 ini sebenarnya berbentuk labelling yang digunakan untuk orang-orang yang diskriminatif, berprasangka buruk, atau bahkan tidak peduli terhadap kehadiran penyandang disabilitas, sehingga menghasilkan perlakuan yang tidak adil juga setara kepada orang-orang yang memiliki disabilitas.

Kalau Anda pernah belajar Sosiologi di bangku SMA, pasti tahu istilah In-Group dan Out-Group. Nah, itu dia, penyandang disabilitas bagi kaum-kaum ableism ini akan dipandang sebagai suatu kelompok luaran, yang sayangnya kebanyakan berujung pada upaya merendahkan dan membatasi daya potensi bahkan karakter para penyandang disabilitas ini.

Ableism di dalam realitas sosial seakan memberi batas tak berwujud bagi para penyandang disabilitas untuk bisa ikut terlibat secara penuh di dalam berkehidupan bermasyarakat (Universitas Pembangunan Jaya, 2015). Mereka yang cenderung bersikap ableism setidaknya memiliki salah satu ciri-ciri seperti mengucilkan, tidak mau berinteraksi, tidak memberi kesempatan atau ruang kepada para difabel, bullying, atau yang lebih ekstrim dan makro lagi cakupannya seperti menetapkan undang-undang atau peraturan yang tidak sensitif terhadap kaum difabel. Ya, pada intinya ableism ini semacam perasaan superior terhadap orang-orang disabilitas yang memberi efek samping merugikan secara sepihak. 

Untuk alasan mengapa seseorang bisa mengidap racun ableism ini sendiri sebenarnya ada banyak sekali faktornya. Titisan turun temurun dari orang tua atau keluarga, kurang atau tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman yang tepat tentang kelompok difabel, terkena pengaruh framing media yang negatif terhadap kelompok difabel, sampai kebijakan atau peraturan yang tidak menyetarakan kaum difabel menjadi asal sebab musabab seseorang bersikap ableism. Harapan saya, semoga Anda tidak pernah mengalaminya, atau paling tidak mulai sekarang Anda bisa mengurangi sikap ableism.

1001 Tips Menghindari Sikap Ableism
Sub judul di atas sebenarnya hanya sebagai pancingan, hehehe. Tapi memang benar kok, ada banyak hal kecil yang sebenarnya akan sangat berharga di hati orang-orang difabel ketika kita sudah tahu dan paham bagaimana berperilaku baik dan toleran terhadap mereka. Ini beberapa tips dari saya yang mungkin bisa membantu Anda untuk menjadi makhluk Tuhan YME yang lebih baik.

Dimulai dari meminimalisir pemberian stigma dan stereotip buruk terhadap kaum difabel, karena buat saya itu cara pertama dan yang paling mudah. Ingatlah bahwa sikap baik akan selalu berkorelasi dengan sikap diri yang toleran. Selanjutnya, Anda bisa juga mempelajari kebudayaan, atau perilaku do’s and don’ts-nya jika kita sedang berpapasan dengan orang-orang difabel. Salah satu contohnya seperti boleh atau tidaknya menggunakan istilah tuna yang berarti rusak atau cacat terhadap penyandang disabilitas, dan menggantinya menjadi istilah yang lebih bersahabat seperti tuli, disabilitas netra, dan lain-lain.

Selain itu, Anda juga bisa memberikan dukungan atau apresiasi terhadap kelompok difabel, memberikan kemudahan akses bagi mereka, memberikan fasilitas yang setara, bahkan mengadvokasi kebijakan/undang-undang supaya bisa berpihak kepada mereka yang difabel. Semua bisa dilakukan, asal Anda memiliki kepedulian bersikap inklusif terlebih dahulu. Saya yakin, hal-hal baik lainnya akan mengikuti Anda terutama di saat Anda berinteraksi dengan kelompok difabel seiring berjalannya waktu.

Apa yang sedang terjadi di tagar #helenkellerisfake saat ini jelas tidak berdasar. Ya, berdasar sih, tapi berdasarkan omongan dan gosip-gosip konspirasi belaka. Kemampuan Helen Keller yang luar biasa ini perlu diakui tak pernah lekang oleh waktu. Elsa Sjunneson, seorang perempuan ber-disabilitas netra dan tuli yang berasal dari Inggris adalah salah satu contohnya di era modern ini. Ia menjadi sesosok inspirasi dan berprestasi bagi saya, yang mengenalkan saya pada dunia dan kebudayaan tuli di luar Indonesia sejak akhir tahun 2021 lalu setelah saya membaca tulisannya di portal berita Metro.co.uk. 

Helen Keller, seorang disabilitas netra dan tuli yang akan selalu saya kagumi sejak kecil. Lewat buku dan pemikirannya, saya percaya beliau memang ditakdirkan cerdas baik dari sisi akademisnya maupun dari sisi hatinya yang besar, peduli terhadap sesama. Andai saya bisa lebih cakap menulis menggunakan Bahasa Inggris, saya akan memposting curhatan kecil saya ini ke portal berita luar negeri. Itikad saya hanya sebatas tulisan ini, tapi besar harapan saya membuat perubahan kecil yang berangkat dari tren TikTok di kalangan muda-mudi Indonesia saat ini.

Penulis: Alifiah Nurul Izzah
Editor: Mahesa Fadhalika N.


Sumber Referensi:

American Foundation for the Blind. (2015). Newspaper article entitled “Wonderful Helen Keller Flies a ‘Plane.” June, 1946. Diakses pada 25 Mei 2022. https://www.afb.org/HelenKellerArchive?a=d&d=A-HK01-02-B034-F01-009&e=——-en-20–1–txt——–3-7-6-5-3————–0-1
Eschner, K. (2017). Three Big Ableist Myths About the Life of Helen Keller. Smithsonian Magazine. Diakses pada 22 Mei 2022. https://www.smithsonianmag.com/smart-news/three-big-ableist-myths-about-life-helen-keller-180963793/
Fathoni, R., S. (2020). Melawan Stigma: Biografi Helen Keller (1880-1968). Wawasan Sejarah. Diakses pada 24 Mei 2022. https://wawasansejarah.com/biografi-helen-keller/
Giffin, F., C. (1984). The Radical Vision of Helen Keller. International Social Science Review. Vol. 59:4.
Hitz, J. (1906). Hellen Keller. American Anthropologist, New Series. Vol. 8:2
Keller, H. (2011). Aku Buta dan Tuli Sejak Bayi. Jakarta: Keyla Publishing.
Keller, H. (2011). The Story of My Life. Jakarta: Genta Pustaka.
Nerdlover228. (2022). #greenscreen i just have a disgusting hatred towards her, for no reason #hellenkeller #hellenkellerwasntreal #hellenkellerisfake #cancelled #fyp #xyzbca #WomenOwnedBusiness #OscarsAtHome #SeeHerGreatness #VenmoSpringBreak #foryoupage [TikTok Video]. Diakses pada 22 Mei 2022. https://www.tiktok.com/@nerdlover228/video/7077364627738234155?_t=8Sc0wqoNjST&_r=1
Nielsen. (2008). The Radical Life of Helen Keller. New York: New York University Press.
Perkins School for the Blind. (2020). Q&A: A factual look at Helen Keller’s accomplishments. Diakses pada 25 Mei 2022. https://www.perkins.org/qa-a-factual-look-at-helen-kellers-accomplishments/
Universitas Pembangunan Jaya. (2015). Kuliah XI Isu-Isu Dalam Psikologi Komunitas: Ableism [Powerpoint Slides]. http://www.ocw.upj.ac.id/files/Slide-PSY505-PSY505-Slide-11.pdf
Schraff, A. (2008). Helen Keller. California: Saddleback Educational Publishing.
Sjunneson, E. (2021). Calling Helen Keller a fraud for her ‘unbelievable’ accomplishments is ableist.  METRO. Diakses pada 23 Mei 2022. https://metro.co.uk/2021/01/17/the-helen-keller-conspiracy-theory-is-ableist-satire-or-not-13895724/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.