SEBELUM AKSI 12 APRIL DI MALANG, AKUN WHATSAPP PRESMA MALANG DIRETAS

 43 kali dilihat

Suasana Aksi Mahasiswa Selasa (12/4). Foto: Asa Amirsyah Al-Kindi

MALANG – KAV.10 Aksi mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM Malang Raya pada Selasa (12/4), di depan kantor DPRD Kota Malang, berjalan damai. Akan tetapi, sebelum aksi tersebut dilakukan, sejumlah akun WhatsApp Presiden BEM di Indonesia mengalami peretasan. Tak terkecuali Presiden BEM di Malang.

Nurcholis Mahendra, Presiden Mahasiswa Universitas Brawijaya, menjadi salah satu pihak yang akun WhatsApp-nya diretas pada Senin, (4/4) lalu. “Saya sadar WhatsApp saya keluar pukul 22.21 (WIB, red.), dan 22.34 (WIB, red.) saya memastikan kalau WhatsApp saya discam oleh orang tidak bertanggung jawab,” ujarnya pada reporter Kavling10 pada Minggu (11/4) melalui pesan teks.

Tiga hari setelah itu, pada hari Kamis (7/4), peretasan akun WhatsApp juga dialami oleh Naufal Taufiqur, Presiden BEM Universitas Negeri Malang. Ia mengatakan bahwa akunnya diretas pada pukul 18.40 WIB. Naufal menambahkan, akun yang diretas tidak sampai mengirim pesan pada orang lain. Hanya saja, “Banyak chat yang di-read oleh penyadap tersebut,” jelas Mahendra.

Sementara akun WhatsApp-nya diretas, Naufal tetap dapat menjaga komunikasi dengan rekan-rekan aksi. “Yang masuk di dalam grup tidak hanya dari ketua BEM saja, ada wakil dan lainnya, sehingga informasi masih bisa berjalan lancar,” ujarnya melalui pesan teks.

Usaha untuk masuk kembali sudah dilakukan oleh keduanya, tapi nihil. Untuk komunikasi mereka berdua yang banyak menggunakan aplikasi tersebut, dialihkan pada akun dan media sosial lain. Peristiwa peretasan ini dicurigai berkaitan dengan rencana aksi mahasiswa yang dilakukan Selasa (12/4) kemarin. “Bisa dilihat dari beberapa mahasiswa yang terkena scam merupakan Presiden Mahasiswa yang sedang merencanakan pergerakan konsolidasi dan aksi,” terang Mahendra.

Baik Mahendra maupun Naufal, keduanya sempat khawatir akan bocornya informasi yang didapat dari akun WhatsApp-nya yang dicuri. Akan tetapi, anggota aliansi telah berusaha untuk mengamankan mana informasi yang bisa disebar serta yang tidak.

Selain kekhawatiran akan kebocoran informasi, kerugian lain yang dirasakan Mahendra adalah terbatasnya jalur komunikasi. Kendati demikian, baginya, kerugian lain justru dirasakan oleh negara. “Kerugian saya pribadi hanya sebatas jalur komunikasi yang terbatas dan kerugian negara semakin memperlihatkan matinya demokrasi di negara ini,” tutur Mahendra.

Mahendra telah melakukan upaya lain untuk mengembalikan akses akun WhatsApp-nya, seperti melaporkannya pada pihak pengembang aplikasi terkait. “Ada (usaha melaporkan, red.), tidak melalui polisi yang jelas,” tuturnya di akhir wawancara.

Penulis: Moch. Fajar Izzul Haq
Kontributor: Oyuk Ivani S.
Editor: Alifiah Nurul Izzah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.