Aksi mahasiswa di depan gedung DPRD Kota Malang (12/04). Sumber: Moch. Fajar Izzul Haq

Beragam aksi demo mahasiswa yang berlangsung di beberapa kota di Indonesia cukup menyita perhatian publik. Salah satunya mengenai poster yang dibentangkan oleh massa aksi. Ribuan mahasiswa hadir dan membawa poster yang berisi tuntutan-tuntutan serta penolakan terhadap pemerintah. Kata-kata yang dituliskan di poster pun beragam, mulai dari yang ‘tajam’ hingga unik dan nyeleneh berisi sambatan khas anak muda.

Sayangnya, di antara beberapa poster yang dibentangkan tersebut, ada yang menimbulkan kritik dari masyarakat karena dinilai kata-kata yang tertuang dalam poster tersebut tidak pantas dan secara tidak langsung terkesan menormalisasikan seksisme. Dan ironisnya, yang membentangkan poster berbunyi seksis tersebut adalah mahasiswi.

Salah satu contoh poster yang saya lihat saat saya menghadiri aksi di depan gedung DPRD Kota Malang pada 12 April lalu bertuliskan, “Daripada BBM naik mending ayang yang naik”, “Turunkan harga BBM atau turunkan harga dirimu”.

Tidak hanya aksi yang digelar di Kota Malang saja, namun aksi yang berlangsung di Jakarta pun demikian. Yang saya lihat di sosial media, terdapat beberapa poster yang dibentangkan mahasiswa yang bernuansa seksisme tersebut memuat kalimat seperti, “Lebih baik bercinta 3 ronde daripada harus 3 periode” dan “Harga minyak kayak harga Mi-Chat, mahal!”.

Hal ini pun kemudian menjadi viral di berbagai sosial media. Tak sedikit netizen yang mengkritik bahkan berkomentar pedas karena merasa risih dengan poster yang cukup vulgar ini. Tindakan tersebut dinilai mencederai aksi demo karena seksisme termasuk salah satu bentuk diskriminasi berdasarkan gender.

Tentunya saya sebagai masyarakat sekaligus mahasiswa bertanya-tanya, “Emang harus begitu posternya?”, “Emang nggak malu ya megang poster yang tulisannya kayak gitu?”, dan masih banyak lagi pertanyaan di kepala saya.

Pada hakikatnya, manusia sebagai kontrol sosial di mana sudah seharusnya melakukan kontrol kepada hal-hal yang bertentangan dengan nilai keadilan di masyarakat. Cara yang dapat dilakukan oleh mahasiswa misalnya memberi saran, kritik, serta solusi untuk permasalahan sosial di masyarakat.

Maka dari itu, sudah seharusnya sebagai mahasiswa kita dapat memepertimbangkan mana yang pantas dan tidak pantas serta dapat mempertimbangkan juga apa yang harus kita bawa saat aksi. Tindakan poster tersebut justru akan merendahkan kita golongan mahasiswa karena akan dianggap tidak bermoral dan beradab, apalagi jika yang membentangkan poster tersebut adalah perempuan. Yang mana seharusnya perempuan menjaga hakikatnya sebagai seorang perempuan, jangan malah merendahkan dirinya seperti itu.

Dengan adanya perspektif yang seksis ini dapat menimbulkan masalah baru dalam hal mewujudkan kesetaraan gender dalam masyarakat. Memang rasanya sangat sulit untuk menghapus pemikiran yang seksis dalam pola pikir masyarakat karena kita sudah dibentuk dengan norma dan budaya patriarki.

Dalam keseharian masyarakat, seksisme juga dianggap sebagai salah satu akar masalah atas ketidaksetaraan gender karena hal ini berkaitan dengan konstruksi masyarakat yang tidak setara dalam memandang kedudukan antara laki-laki dengan perempuan. Konstruksi-konstruksi inilah yang dengan sendirinya akan terwujud dan masyarakat akan terjebak di dalamnya. Sehingga, akan terbentuk perlakuan, ucapan, dan aturan yang bersifat diskriminatif yang akan merugikan laki-laki dan atau perempuan.

Salah satu dampak yang bisa kita lihat adalah semakin tingginya kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan. Ini artinya, seksisme dapat berdampak terhadap ruang aman dan nyaman bagi perempuan sehingga tidak menutup kemungkinan akan terganggunya keharmonisan dan keamanan masyarakat.

Saya berharap jika ada aksi-aksi selanjutnya, massa aksi yang didominasi oleh mahasiswa bisa lebih bijak dalam menyampaikan aspirasi dan fokus dengan tujuan yang ingin dicapai. Jika ingin menyuarakan pendapat, sampaikanlah dengan kalimat yang memang sesuai dengan konteks. Jangan rusak niat baik demonstrasi mahasiswa dengan menormalisasi pandangan seksis. Be smart and be wise!

Penulis: Mahesa Fadhalika Ninganti
Editor: Moch. Fajar Izzul Haq

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.