Perpustakaan UB. Foto: Alifiah Nurul

Per tanggal 8 Maret 2022 Perpustakaan Universitas Brawijaya (perpus UB) kembali membuka layanan secara offline setelah tiga minggu tutup karena meroketnya kasus positif virus Covid-19 varian Omicron di kalangan civitas akademika. Penerapan maksimal 150 orang pengunjung mengikuti jumlah loker yang disediakan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Suprihatin selaku koordinator bidang layanan pengguna di perpus UB menuturkan bahwa jumlah pengunjung yang ada di dalam mengikuti jumlah loker yang terpakai. Hal ini memungkinkan maksimal jumlah pengunjung hanya terbatas 150 orang. 

“Jadi kemarin tanggal 8 maret kita buka fisik lagi tapi dengan ketentuan sama seperti sebelumnya, kita batasi juga 100 orang tapi kadang ya ada 150 orang ya. Tapi itukan ada yang keluar masuk ya. Jadi untuk loker itu saya siasati 150 loker,” tutur Suprihatin pada awak Kavling10 saat ditemui di ruangannya pada Selasa, (22/03).

Akan tetapi, pada kasus bulan November 2021 pengunjung perpus UB melebihi 150 orang. Melalui kepala perpustakaan yang dikoordinasikan dengan Wakil Rektor 1 menghasilkan jalan tengah bahwa seluruh kelebihan pengunjung tetap akan diterima, selama protokol kesehatan tetap berjalan. 

“Dulu memang pernah sampai habis, 150 itu habis lokernya. Akhirnya saya izin sama kepala perpustakaan terus katanya gapapa diterima aja. Sering kita juga koordinasi dengan Warek 1. Sekitar bulan November kemarin lalu sempat kejadian ternyata habis lokernya dan akhirnya ada antrian masuk. Ya gimana ya masa terus dibatasi gak boleh, sudah penuh, kan ya gak bisa kita, gak sebegitunya. Tapi yang penting itu masih tidak yel-yelan di dalam. Sini aja juga sepi karena area segitu kalo 100 ya kursi-kursi banyak yang kosong,” lanjutnya.

Meskipun kini jumlah pengunjung per hari sudah jauh menyusut sekitar dua kali lipat, protokol kesehatan di dalam perpus UB tetap diberlakukan. Hal ini berkorelasi positif dengan syarat mengunjungi perpus UB yang saat awal masuk mengharuskan scan peduli lindungi terlebih dahulu, lalu memakai hand sanitizer, cek suhu, mengisi absensi kunjungan, terakhir menuju ke loker untuk menitipkan barang. Namun protokol kesehatan yang berjalan tidak selalu berlangsung sesuai peraturan yang ada.

“Sebenernya, kalo masuk masih ada yang gak dikontrol, dan itu pun sebenarnya masih bisa masuk. Terus kadang bapaknya yang jaga satu, bahkan kadang ada kadang gak ada,” terang Syahrul Ardiansyah, Mahasiswa FMIPA 2020 selaku pengunjung Perpustakaan UB (22/03).

Pernyataan mahasiswa FMIPA itu pun selaras dengan penjelasan Suprihatin bahwa tidak selalu ada petugas yang berjaga di depan dan beberapa kali beliau juga menemukan satu sampai dua mahasiswa yang lolos dari protokol kesehatan. Hal ini disinyalir karena terbatasnya SDM di enam bidang pengelolaan Perpustakaan UB akibat pembagian jatah pekerja online dan offline

Penulis : Jihan Nabilah Yusmi dan Emha Ilhami Rais
Editor: Alifiah Nurul Izzah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.