Ilustrasi: Alya’ Firdaus

Ngiiiiiiiiiiiiiiiing………………………

Allahu akbar…Allaaahu Akbar.”

Lantunan azan Wak[1] Sukri terdengar nyaring di sepertiga malam itu. Lengkingnya membangunkan ayam-ayam yang tak seharusnya bangun lebih dahulu. Kaji Parman yang sedang bertahajud di rumahnya tersentak dengan suara itu. Kenapa sudah azan? Gumamnya. Dilihatnya jam di dinding kamarnya. Sontak dipotongnya doa dan wirid pagi yang istiqomah ia baca. Dengan sorban yang dapat menangkal dingin, ia pergi ke mushola di dekat rumahnya. Ada Sukri di sana, sedang menikmatui lantunan azannya sendiri.

Melihat Sukri keasyikan azan, Kaji Parman langsung menegurnya.

“Kri! Mandek Kri! Mandek![2]” teriaknya dari luar.

Wak Sukri menoleh, ia bingung kenapa disuruh berhenti.

“Ngapain kamu azan? Jam berapa ini?” tanya Kaji Parman sambil masuk menghampiri Wak Sukri.

“Kenapa se, Wak Kaji? Inikan waktunya azan!” jawabnya kebingungan.

“Lihat! Jam berapa ini Kri!” bentak Kaji Parman.

“Setengah lima Wak Kaji!”

“Setengah lima gundulmu! ini masih setengah empat”

Wak Sukri melihat jam di musala. Dikucek-kucek matanya. Ternyata benar, masih jam setengah empat. “Astofirwoh!” Wak Sukri istighfar. Ia salah melihat jam rupanya.

Karena speaker belum dimatikan, percakapan itu masuk mik dan didengar warga lain yang mulai berdatangan. Tentu saja dengan sedikit marah. Wak Poneri, tukang becak itu, datang bersama Wak Sugeng, Wak Dol, Wak Pri dan wak-wak lainnya.

“Ada apa se ini?” tanya Wak Poneri.

Mboh![3] Wak Dol menjawab.

Sebelum rasa penasaran itu terjawab, Kaji Parman keluar musala bersama Wak Sukri. Warga yang berkumpul itu mengurungkan kemarahannya, karena ada Kaji Parman, tokoh masyarakat yang mereka hormati.

Pun[4], bapak-bapak tidak ada apa-apa, ini tadi Sukri salah lihat jam,” jelas Kaji Parman menenangkan warga. Mereka pun bisa memaklumi dan sebagian memilih pulang, melanjutkan tidur yang tertunda. Kaji Parman juga pulang, begitu pula Wak Sukri.

Kejadian itu sudah dilupakan warga yang kembali lelap dalam tidurnya. Dan satu jam kemudian,

Ngiiiinggg………….

Warga terbangun kembali mendengar azan Wak Sukri yang kedua. Kali ini benar-benar waktunya. Kaji Parman datang dan menjadi imam. Meskipun dengan sedikit kantuk, masih ada beberapa warga, yang rata-rata sudah tua, ikut dalam jama’ah itu. Dan yang lain, bisa dipastikan masih lelap dalam tidurnya setelah semalaman bermain dadu.

Terbitnya mentari disambut hangat oleh para pedagang di pasar desa itu. Di sisi timur, menghadap ke barat, ada bakul pecel blitar di sebelah warung masakan padang. Orang-orang Madura juga menjajakan mangganya, bersama orang-orang Jawa sendiri yang berjualan duku. Sementara ibu-ibu berangkat mencari pangan, anak-anak SD hingga SMA pergi ke sekolah.

Seorang siswa bercelana panjang dan berkopyah itu duduk di sebelah siswa bercelana pendek dan bertopi di sebuah angkutan umum. Dengan mulut berasap, si supir memanggil segerombolan siswi berkerudung itu di seberang jalan. Melalui jalanan yang ramai, mereka saling bergandengan tangan.

Seperti itulah kehidupan warga Pakisaji ketika pagi datang. Berada di antara dua kota besar, kecamatan yang punya dua belas desa itu selalu dilalui truk-truk pengangkut tebu ke pabrik gula, di Desa Kebon Agung sana. Begitu pula mobil-mobil nggilap[5] yang datang dan pergi ke kota. Maka tak heran kalau banyak warga sini yang berjualan. Meskipun tak sedikit pula yang masih matun[6] ke sawah.

Di kecamatan ini pun warganya bermacam-macam, mayoritas memang muslim. Tapi yang Hindu, Budha dan Kristen, baik Protestan maupun Katolik, juga banyak. Mereka hidup berdampingan. Kalau hari raya Idul Fitri, tetangga yang kristen juga berkunjung ke rumah-rumah yang merayakan. Dan mereka juga menyediakan kue kering di rumahnya. Begitu juga ketika nyepi, warga kampung biasanya menuntun motornya ketika lewat di perkampungan orang Hindu.

Kaji Parman adalah tokoh masyarakat muslim di Kecamatan itu. Meskipun berdarah Madura, ia punya langganan beli nasi padang di Warung Padang Uda Iskandar. Biasanya siang-siang Kaji Parman ke sana. Sedang paginya, Kaji yang sudah berumur itu, suka makan pecel Blitar. Dan kalau sudah malam, kadang-kadang ia juga makan sate Madura, yang dijual orang Madura tulen.

Maklum saja, Kaji Parman sudah lama menduda. Anak-anaknya memang juga mendakwah, tapi di tempat yang jauh. Bagi kaji Parman, pendidikan di pesantren memang dikedepankan. Tidak lain karena memang ia dulu juga keluaran pondok pesantren. Kesehariannya adalah mengajar anak-anak kecil belajar alif, ba’, ta’ di sore hari. Sedang malamnya, kitab-kitab tipis ia ajarkan pada murid-murid tuanya, ya wak-wak itu tadi.

Untuk membeli sepiring pecel Blitar, Kaji Parman harus berjalan ke pasar yang tidak jauh dari rumahnya. Melalui jalan raya, Kaji Parman lewat depan toko elektroniknya Engkong Han. Biasanya kalau pagi-pagi, Kaji Parman melihat Engkong sedang beribadah di depan foto para leluhurnya. Kalau belum selesai beribadah, Kaji Parman diam hanya lewat. Tapi kalau terlihat sudah selesai, mereka biasanya saling bertegur sapa.

Di toko itu, Kaji Parman sering mampir untuk mengobrol. Tapi kadang kalau toko sedang ramai, ia hanya lewat dan senyum-senyum sendiri melihat Engkong sibuk dengan pelanggannya yang suka menawar harga.

Hari di mana seperti biasanya, Kaji Parman ingin sarapan di warung pecel Blitar itu. Hari memang masih pagi, buktinya, masih ada beberapa siswa menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Melewati depan toko Engkong Han, Kaji Parman melihat pemiliknya sudah duduk-duduk di depan toko.

“Wak Kaji? Pripun[7] kabarnya?” ujar Engkong melihat Kaji Parman di depan tokonya.

“Wah, bagus, sehat!” jawab Kaji Parman yang juga dipanggil Wak Kaji itu.

“Tadi pagi ada apa, kok rame-rame di musala?” tanya engkong.

“Oh, nggak papa itu, Sukri salah lihat jam, dikira sudah subuh” jawab Kaji dengan senyuman khasnya.

“O, ya sudah, kok mruput[8] sekali azanya,”

“Ya maaf ya kong! Memang Sukri itu agak rabun, dia kan kerjanyakan jadi kuli, mungkin kecapean,”

“O tidak papa Wak Kaji, anak-anak saya masih tinglur[9] kok, tidurnya,” jawab engkong menutup pembicaraan. Kaji Parman segera pamit supaya tidak kehabisan pecel favoritnya itu.

—…—

Zuhur adalah waktu istirahat bagi para kuli, juga bagi para buruh rokok yang ternyata dilarang merokok di pabriknya. Karena tidak jauh dari tempat kerjanya, Sukri biasanya pulang untuk azan dan salat berjamaah di mushola yang ia turut membangun dengan sukarela itu. Dihidupkannya speaker dan mengambil mik. “Ngiiiiiiiiiing……..” Terdengar lagi dengungan yang memang selalu mendengung sebelum Sukri azan. Tapi tiba-tiba saja Kaji Parman memanggil Wak Sukri tiba-tiba.

“Sebentar Suk!” ujar Kaji Parman.

“Apalagi seh, Wak Kaji?”

“Kecilkan volumenya! Jangan keras-keras!”

“Lah kenapa?” Tanya Wak Sukri kebingungan.

“Suk! Sekarang tanggal berapa? Tetangga kita ada yang lagi nyepi, biar nggak ganggu, kecilkan ya!” jelas Kaji Parman sambil beranjak duduk. Dengan volume yang lebih kecil, Wak Sukri mulai mengumandangkan azan. Di tengah-tengah kumandangnya,  tiba-tiba saja speaker mati.

Beberapa kali Wak Sukri mengetuk-ngetuk mic nya tanpa memotong azan. Tapi hingga ia selesaikan takbir terakhir, mik itu tak kunjung kembali menyala. Kaji Parman yang tadi hanya duduk, kini mengecek masalah apa pada ampli speaker nya. Namun karena memang dia tidak mengerti, tidak juga ia temukan permasalahannya. Jamaah salat zuhur tetap dilaksanakan meskipun dengan iqamah yang dikumandangkan tanpa speaker.

Rusaknya speaker ternyata berlanjut pada jamaah-jamaah salat yang lainnya pula. Ashar, Maghrib, Isya, hingga Subuh tidak terdengar bunyi azan dari mushola itu. Wak Poneri yang katanya pernah lulus SMK sudah berusaha memperbaiki amplifier beserta speaker, namun nihil, ia bilang semuanya normal-normal saja. Padahal sudah jelas, kalau mik tidak menyala. Bahkan Wak Dol juga nekat naik ke atap mushola untuk melihat secara langsung, apa ada kabel yang putus. Tapi ia juga tak menemukannya.

Sound Sistem bagi musala sangatlah penting. Selain untuk azan, biasanya juga untuk pengajian-pengajian umum yang dilaksanakan di desa itu. Dan rusaknya sound system itu berefek pada berbagai keberlangsungan kegiatan di sana. Tentu saja Kaji Parman tidak membiarkan kejadian ini berlarut-larut. Di keesokan harinya, Kaji Parman pergi ke toko engkong Han. Tentu saja untuk membeli perlengkapan sound system yang baru.

Kali ini ia tidak sendirian, ada Wak Sukri sebagai orang paling bertanggung jawab atas mik itu. Mereka berdua berjalan bersama. Hari ini Wak Sukri tidak masuk kerja. Kepada mandornya ia sudah izin. Tentu saja gajinya harus terpotong satu hari.

“Wak Kaji, kenapa se kok beli di engkong Han? Biasanya mahal,” ujar Wak Sukri.

“Ya memang kenapa? Kamu bisa jamin kalau di toko lain bisa lebih murah?” jawab Kaji Parman.

“Ya, nggak juga se, tapi kan kalau beli ke sama-sama orang Jawa, atau orang Madura, kan biasanya lebih murah. Dari pada beli ke orang itu…..”

“Memang ada di sekitar sini orang Madura jual barang elektronik? Gak ada Suk! Tokonya Wak Bedul di Gang Wayang juga sudah tutupkan. Tokonya engkong itu sudah paling bagus di sini” jelas Kaji Parman. Dan mereka terus berbincang hingga tiba di toko Engkong Han.

Kaji Parman yang pertama kali masuk ke toko itu. Sedang Wak Sukri terlihat enggan masuk ke dalam. Ia hanya menunggu di luar. Barulah ia masuk setelah beberapa kali dipanggil Kaji Parman.

“Ini Kong! Kita mau beli salon buat musala,” kata Kaji Parman mengawali perkataan.

“Oh iya, saya dengar rusak ya, makanya saya kok lama gak denger Sukri azan,” jawab engkong Han sambil menatap Wak Sukri yang terlihat lebih cemberut.

“Kangen suaraku toh!” jawab Wak Sukri ketus.

“Udahlah Suk! Kamu ini kenapa? Sama orang kok begitu,” kata Kaji Parman menenangkan. Sebelum Wak Sukri menjawab, terlebih dahulu engkong Han menyahut.

“Wak Kaji mau salon yang bagaimana?”

“Yang biasa saja, pokoknya bisa didengar enak, nggak ganggu orang”

“Wah, sekalian saja Wak Kaji! Beli yang bagus. Nanggung kalau setengah-setengah”

“Iya Wak Kaji, beli yang sekalian bagus” sahut Wak Sukri.

“Orang yang biasa saja sama kok Suk!” jawab Kaji Parman.

“Ya kan suaraku bisa kedengaran lebih bagus lagi toh, Wak Kaji!”

“Iya itu itu! Bener kata Sukri!” ucap engkong Han setuju.

“Ya sudah, saya lihat dulu” jawab Kaji Parman pasrah. Engkong Han menyuruh pegawainya mengambil barang yang dimaksud. Ketika Kaji Parman dan Sukri sedang melihat-lihat barang yang mereka maksudkan, datang Uda Iskandar, si pemilik Warung Padang itu. Sebagai tuan rumah, engkong Han langsung menyambut tamunya itu. “Hei Uda Iskandar! Mau cari apa, mari-mari!” sambut engkong. Lalu keduanya masuk dan bertemu Kaji Parman dan Wak Sukri. Uda Iskandar melempar senyum pada mereka berdua.

Terlihat engkong dan Uda Iskandar yang berbincang-bincang. Sudah merasa cocok, Kaji Parman berniat mengambil barang yang sedari tadi dicobanya itu.

“Kong! Ini jadi berapa?” tanya Kaji Parman.

“Oh, itu harganya ….” ujar engkong sambil menyebutkan sebuah nominal.

“Apa tidak bisa kurang?” tawar Wak Sukri.

“Ya boleh-boleh, kurangi dua puluh ribu deh!” jawab engkong.

“Masak cuman segitu kong!?” Kaji Parman ikut-ikutan menawar.

“Waduh, segitu itu sudah murah, di toko lain malah lebih mahal, harga pas itu Wak Kaji”

“Kalau begitu beli yang biasa saja” sahut Kaji Parman.

“Wah janganlah Wak Kaji, ini sudah cocok sama saya” jawab Wak Sukri.

“Lah uangnya nggak cukup” ujar Kaji Parman sambil mengeluarkan segepok uang amal musala. Satu-satu persatu dihitungnya. Mulai dari seratus perak hingga dua puluh ribuan ada. Yang banyak seribu, dua ribu. Setelah mengetahui kurangnya masih setengah dari uang amal itu, Kaji Parman memutuskan untuk beli kualitas di bawahnya.

Tapi, sebelum akad jual beli itu deal, Uda Iskandar menghampiri mereka.

“Kenapa se, Wak Kaji?”

“Ini uang saya kurang buat beli yang bagus, jadi saya beli yang biasa”

“Kurangnya berapa Wak Kaji?” tanya Uda Iskandar. Kaji Parman pun menyebutkan nominal. Mengetahui jumlah itu, Uda Iskandar mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya. Diserahkan uang itu pada Kaji Parman.

“Ini buat kurangnya Wak Kaji!”, ujar Uda sambil memberikan uang itu. Tampak bingung Wak Kaji menerima uang itu. Bukan karena apa, tapi karena uang dari Uda Iskandar masih kurang.

“Waduh terima kasih Uda, tapi ini masih kurang, jadi tetap beli yang biasa saja”

“Maaf Wak Kaji! Saya punya itu saja, ya sudah tidak papa”

Melihat hal itu, engkong Han menyuruh pegawainya kembali mengambil sound bagus yang sudah dicoba tadi. Tapi Kaji Parman menolak. Ia bilang  uangnya tidak akan cukup untuk membeli yang bagus. Tapi engkong malah mengemas soun itu tadi.

“Sudah tidak papa Wak Kaji! Kurangnya tidak usah dibayar. Itu amal saya untuk musala ya” ujar engkong Han. Mendengar perkataan itu, Kaji Parman merasa sangat berterima kasih. Terlebih Wak Sukri yang sudah membayangkan azan dengan sound system terbaik.

Dengan senang hati dan membawa sepaket sound system yang baru, mereka berdua meninggalkan toko engkong Han. Di perjalanan, tak henti-hentinya Wak Sukri menyatakan kegembiraannya pada Kaji Parman yang hanya senyum-senyum saja.

“Alhamdulillah Wak Kaji, engkong Han baik orangnya, meskipun nggak salat di musala, tapi mau sumbang buat musala” ujar Wak Sukri.

“Ya ini disyukuri Suk! Orang hidup itukan memang harus saling membantu” jawab Kaji Parman.

—…—

Alla…..hu, akbar. Alla……..hu, akbar”

Terdengar azan Wak Sukri menandakan waktu magrib telah tiba, tanpa suara ngiiiiiiingg…… sebelumnya. Ada yang berbeda, kini suaranya terdengar lebih enak dari biasanya. Tentu saja berkat sound baru itu.

Engkong Han yang duduk-duduk di depan TV mengecilkan volume dan menikmati suara Wak Sukri yang, meskipun dengan sound baru, masih ada melengking falsnya. Tapi itulah yang orang-orang kenal. Lengking azan Wak Sukri selalu terdengar di telinga engkong Han dan warga non-Islam lainnya. Tapi, suara khasnya itu tak pernah menyulut permasalahan diantara mereka. Justru lengking itulah yang menyatukan mereka dalam kebersamaan.

Seperti itulah warga sana hidup berdampingan. Lengking azan Wak Sukri membangunkan warga di waktu Subuh, juga menghentikan pekerjaan para buruh di waktu Zuhur, menyuruh anak-anak kecil mandi di waktu Ashar, memanggil jamaah untuk pergi ke musala di waktu Maghrib, menyuruh mematikan TV di waktu Isya’ dan yang lebih penting, telah menyatukan warga yang hidup berdampingan.


[1] Wak berasal dari kata Pak yang diucapkan orang Jawa, karena terlalu sering diucapkan, menjadi wak.
[2] Kri! Berhenti Kri! Berhenti!
[3] Tidak tahu
[4] Sudah
[5] mengkilat
[6] menyiangi gulma di sawah atau di kebun.
[7] Bagaimana.
[8] Pagi.
[9] nyenyak

Penulis: Moch. Fajar Izzul Haq
Editor: Mahesa Fadhalika Ninganti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.