AKSI PENYAMPAIAN TUNTUTAN OLEH ALIANSI BEM MALANG RAYA

 47 kali dilihat

Aksi Mahasiswa yang Digelar oleh Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Malang Raya, Selasa (12/04). Foto: Asa Amirsyah

MALANG KAV.10 Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Malang Raya menggelar aksi “Perjuangan Melawan Ketertindasan” pada Selasa (12/04) di depan gedung DPRD Kota Malang. Aksi ini bertujuan untuk menyampaikan beberapa tuntutan permasalahan dalam skala regional maupun nasional. Permasalahan skala regional yang dituntut yaitu terkait konflik agraria di Kabupaten Malang dan revisi Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Batu. Sedangkan, permasalahan skala regional yang dituntut terkait penundaan pelaksanaan Pemilu 2024 dan perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo menjadi tiga periode.

Dalam aksi kemarin terdapat 25 poin tuntutan yang dibawa oleh BEM Malang Raya, tapi hanya enam poin yang dijadikan fokus tuntutan, yaitu menolak kenaikan BBM dan minyak goreng, penundaan Pemilu 2024, wacana perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo, konflik agraria lokal, revisi Perda RT/RW, dan kebijakan politik IKN.

Muhammad Nurcholis Mahendra selaku Presiden EM UB mengatakan terkait statement Presiden Jokowi bahwa Pemilu 2024 akan tetap dilaksanakan serta perpanjangan masa jabatan presiden ditiadakan tidak dapat langsung dipercaya, karena masih banyak hal yang terjadi sebelumnya atas keputusan atau kebijakan yang sudah ditetapkan tanpa melibatkan partisipasi masyarakat secara utuh.

“Kita tidak mau terlena, dan secara tegas tidak langsung mempercayai hal tersebut. Kita tetap harus megawasi dan mengontrol, memastikan kalau perpanjangan dan penundaan Pemilu itu ditiadakan. Jadi memang tanggal 14 Februari 2024 itu harus tetap harus (dijalankan, red.) Pemilu”, ujarnya.

Jika seminggu setelah aksi hari ini tidak ada tindak lanjut dari DPRD yang sudah merespon aksi ini, maka Aliansi BEM Malang Raya akan mengadakan konsolidasi kembali untuk menggelar aksi lanjutan. Aliansi BEM Malang Raya tidak hanya mengawal isu-isu pusat, tetapi juga mengawal isu-isu agraria dan isu-isu regional lainnya.

“Kita akan bikin gelombang kedua dan itu lingkupnya tidak hanya regional. Kita bisa langsung menyebar ke Jawa Timur dan kita juga bisa menyebarkan eskalasi pergerakan ini sampai lingkup nasional”, ujar Muhammad Nurcholis Mahendra selaku Presiden EM UB.

Meski aksi kemarin cukup berlangsung damai dan kondusif, namun tetap saja hadir sejumlah oknum yang memprovokasi. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Zulfikri Nur Fadilah selaku Koordinator BEM Malang Raya yang menyatakan bahwa di dalam segala bentuk eskalasi pergerakan dan demonstrasi, akan selalu ada penunggang gelap. Tetapi sebagai mahasiswa harus tegas mengambil sikap; apa yang seharusnya disuarakan dan apa yang jadi tujuan. Manajemen aksi harus tetap dikuatkan, karena tidak ada satu pun gerakan mahasiswa yang tanpa ditunggangi dan tanpa provokasi.

Aksi “Perjuangan Melawan Ketertindasan” dihadiri oleh sekitar 15 kampus domisili Malang yang jika dijumlah dihadiri oleh sekitar 1700 massa aksi. Mahasiswa yang turun aksi diwajibkan menggunakan almamater kampus sebagai identitas serta untuk mengantisipasi adanya berbagai macam bentuk provokasi.

Penulis: Mahesa Fadhalika Ninganti
Kontributor: Alya Firdaus
Editor: Alifiah Nurul Izzah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.