Ilustrasi: Rosa Rizqi Amalia

​”Surat Buat Wakil Rakyat” adalah salah satu lagu yang membuat saya terkejut saat pertama kali mendengarnya. Bukan karena kritik yang disampaikan Iwan Fals kepada “wakil rakyat”, melainkan karena lagu tersebut dirilis pada tahun 1987. Ya, lagu itu rilis 11 tahun sebelum reformasi dan jauh dari hari ini, betapa hebatnya Iwan Fals membuat lagu yang benar-benar tak lekang oleh waktu. Sekarang beriringan dengan relevansi lagu tersebut, timbul pertanyaan. Mengapa dan bagaimana fenomena itu terjadi?

​Banyak yang berpendapat bahwa itu terjadi karena masyarakat terlalu mudah untuk melupakan keburukan-keburukan para “wakil rakyat”. Contohnya dibandingkan dengan isu skandal selebriti, masyarakat lebih cepat melupakan isu-isu korupsi para “wakil rakyat”. Ya, memang harus diakui bahwa masyarakat lebih tertarik dengan isu-isu selebriti dibanding politik dan budaya korupsi yang pelik, seperti saat ini. Kebebasan tersangka kasus mega korupsi hambalang, Angelina Sondakh kini diwarnai dengan timbulnya simpati masyarakat. Entah bagaimana hukum kita selama ini, hingga masyarakat mulai memaklumi terjerumusnya “wakil rakyat” dengan tindak korupsi. Sungguh apakah kita benar-benar tidak tahu?

Nyatanya masyarakat juga tidak benar-benar melupakan keburukan-keburukan para “wakil rakyat”.  Masih banyak juga yang menjaga api amarah terhadap tikus-tikus pencuri itu, siapa yang bisa terima jika pencuri-pencuri itu masih punya kuasa.   Setelah dihukum dan bebas mereka masih bisa berkuasa, berharta dan tertawa. Saya kasihan dengan tikus-tikus yang selalu disamakan dengan si serakah itu, padahal mereka tidak pernah menimbun keju di lubangnya.

​”Wakil rakyat seharusnya merakyat”
“Jangan tidur waktu sidang soal rakyat”

​Berapa banyak kejadian yang anda ingat setelah membaca potongan lagu Iwan Fals ini? Rencana anggaran pakaian mewah saat pandemi? Rencana anggaran gorden rumah dinas DPR yang fantastis nominalnya? Atau sederet foto rapat paripurna dengan sosok menganga, menunduk dan bersandar? Perlu diingatkan lagi bahwa lagu tersebut rilis tahun 1987, 35 tahun yang lalu. Yang artinya sekarang itu mungkin sudah menjadi sebuah identitas diri, akarnya masih lebih dalam daripada yang kita kira. Sampai disini siapa yang benar-benar tidak tahu? Saya rasa itu bukan sebuah pertanyaan yang harus dijawab.

Orang-orangnya telah berganti, tapi ini sudah menjadi budaya. Orang-orang yang dulu menuntut reformasi, kini masuk menjadi bagian dari ironi ini. Saat ini yang harus dibenahi adalah budaya berpolitik para “wakil rakyat”, ini tidak merujuk kepada satu instansi tertentu, melainkan kepada sosok yang memegang kuasa. Yang diberi kuasa harus tahu diri, yang memberi kuasa harus jaga diri. Bagi saya ini sudah benar-benar jelas, kita semua tahu kenapa. Pura-pura tak tahu sama saja dengan menyerah, tak menyelesaikan masalah. Budaya ini harus dirombak. Tidak menutup kemungkinan aku, kamu, atau dia mengubah budaya ini, dan mungkin juga kita masuk kedalam budaya ini.

Mengubah budaya korup ini tidak bisa dilakukan sendiri, setiap individu harus sadar dan berusaha menahan rasa serakah, yang berkuasa harus lebih terbuka dan mendengar, negara harus lebih tegas dengan semua tindak curang didalamnya, dan terakhir kepada puan tuan di dalam sana, jangan lupa bagun dan membangun. Sebuah kehidupan utopia rasanya memang tidak mungkin kita dapatkan disini, namun kehidupan sedikit lebih baik  masih bisa kita perjuangkan.

“Indonesia itu nggak sempurna, tapi dia layak diperjuangkan”

– Pandji Pragiwaksono

Penulis: Senia Nefalina
Editor: Mahesa Fadhalika Ninganti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.