NODA REKTORAT IAIN AMBON TERHADAP LPM LINTAS

 58 kali dilihat

Ilustrasi: Alifiah

Di era kolonial Belanda terhadap Hindia-Belanda, ada sebuah koran bernama S.N. v/d D, yang berkantor di Surabaya. Koran itu merupakan “Koran Gula”, yaitu koran yang diberi modal dan menjadi media yang memberitakan kesuksesan Pabrik Gula di Tulangan. Memang, segala sesuatu diberitakan, asal tidak merugikan pabrik gula. Semua tentang gula, lahan perkebunan tebu, dan para petani, harus nampak baik-baik saja. Segala bentuk kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan oleh pabrik gula, haram diberitakan.

Itu tidak terjadi di kehidupan nyata, hanya karya fiksi dalam novel Anak Semua Bangsa, seri kedua dari Tetralogi Pulau Buru. Yang terjadi dalam kehidupan nyata adalah pembredelan dan pembungkaman atas LPM Lintas oleh kampusnya sendiri, IAIN Ambon. Alasannya, LPM Lintas dianggap tidak sejalan dengan visi-misi kampus. Pertimbangan lain adalah penertiban terhadap peran dan fungsi kepengurusan LPM Lintas.

Sedikit kronologi permasalahan yang menerbitkan SK pembekuan tersebut, terjadi ketika LPM Lintas menuliskan berita perihal terjadinya skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu dosen. Dalam berita tersebut, telah dituliskan kronologi terjadinya pelecehan itu, selengkapnya Anda dapat membacanya di website kami. Kami telah menerbitkan ulang berita itu. Beberapa narasumber telah ditanyai keterangan, sekaligus tersangka pelaku. Namun, setelah berita yang berjudul “Noda Dosen di Cincin Mahasiswa” diterbitkan, bukannya kasus tersebut diusut, justru yang memberitakan mendapat represi.

Nama baik kampus, barangkali, menjadi suatu pertimbangan, bahwa berita perihal dugaan kasus pelecehan seksual, mengotori nama baik kampus. Padahal, tindakan pembungkaman justru menimbulkan anggapan bahwa IAIN Ambon melindungi pelaku kejahatan seksual. Maka, sebenarnya, siapa yang lebih pantas dibekukan, rektorat atau LPM Lintas?

Sudah jelas bahwa pembungkaman seperti ini bukan suatu tindakan yang benar dan patut. Dalam tulisan yang tulis oleh Yosep Adi Prasetyo, ketua dewan pers Indonesia, mengimbau kepada seluruh rektor di Indonesia agar menghargai dan memberi ruang untuk kebebasan berekspresi bagi Pers Mahasiswa. Masih dalam tulisan yang sama, Yosep Adi mengatakan, “Peranan kebebasan pers mahasiswa itu ada di dalam ranah pembinaan rektor dan pimpinan kampus.” Dan cara terbaik dalam memberikan pembinaan tersebut, tentunya bukan dengan pembungkaman, terlebih aksi kekerasan.

Beberapa waktu setelah kejadian, kami telah menghubungi Pemimpin Redaksi LPM Lintas -kami tidak menyebutnya mantan. Dari keterangannya, terduga (atau tersangka) pelaku belum mendapat tindakan apa pun. Sedangkan semua alat: komputer, printer, proyektor dll., sudah disita. Lalu di balik pembekuan ini, rektorat sedang mempersiapkan pengurus baru LPM Lintas. “Mungkin SK Pembekuan itu akan ditarik jika anggota baru dari pilihan kampus sudah selesai,” begitu katanya.

Noda dosen di cincin mahasiswa dibiarkan begitu saja, setelah mahasiswa yang menjadi korban tercerabut harga dirinya. Sedangkan mereka, orang-orang yang membela, yang berusaha menghapus noda itu, justru dinodai dengan pembredelan, pembungkaman, pembekuan. Miris!

Penulis: Redaksi LPM Kavling 10

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.