Foto: Ranti

MALANG-KAV.10 Rencana perkuliah luring UB telah mengalami dua kali pembatalan karena kasus yang tak kunjung melandai. Per 17 November kemarin, sejalan dengan penurunan kasus Covid-19, UB akhirnya mencanangkan perkuliahan luring terbatas (hybrid). Hal itu tertuang melalui Surat Edaran Rektor Nomor 12245/UN10/TU/2021. Beberapa persyaratan diberlakukan guna menunjang kesiapan perkuliahan hybrid tersebut. Penerapan protokol kesehatan menjadi salah satunya.

“Semua berdasarkan syarat protokol kesehatan, seperti sudah 2 kali menjalankan vaksin dan yang dari luar kota sudah punya (hasil) swab antigen saat pertama masuk kampus,” tukas Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. drh. Aulanni’am, DES pada Selasa (23/11).

Izin dari orang tua pun menjadi poin utama dalam pelaksanaan kuliah hybrid. Mahasiswa yang tidak mendapatkan izin orang tua, diperbolehkan untuk mengikuti perkuliahan secara daring.

“Proses kuliah hybrid ini mengikuti pola fleksibel, tidak ada kewajiban semua harus masuk sesuai dengan jadwal yang ada. Ketentuan-ketentuan yang dipakai untuk peserta salah satunya memang izin orang tua, sehingga jika tidak ada izin, otomatis dapat mengikuti kuliah secara daring,” lanjut Aulianni’am.

Guna menunjang perkuliahan hybrid ini, fasilitas kamera serta sound yang memadai di ruang kelas juga disediakan oleh masing-masing fakultas. Persiapan lain pun dari mulai penjadwalan serta pembagian kapasitas di setiap ruang kelas diserahkan kembali ke masing-masing fakultas.

Mekanisme penjadwalan akan ditampilkan melalui SIAM dan website masing-masing fakultas. Pihak fakultas punya tanggung jawab untuk mengkoordinir mekanisme pendaftaran mahasiswa yang hadir agar menghindari kerumunan di dalam kelas.

“Semua proses jadwal akan diinformasikan di SIAM dan web fakultas. Siapa saja yang hadir di kelas juga pasti ada mekanisme pendaftarannya/daftar yang bisa hadir, agar batasan yang ada di kelas tetap dapat dikondisikan,” jelas Aulianni’am pada awakKavling10.

Mengenai perkuliahan daring ini, UB yang sekarang sudah berstatus sebagai PTN-BH telah mantap untuk untuk menanggung beban biaya dan resikonya sendiri.

“Semua kebijakan yang diambil pasti mengandung resiko untuk dihadapi, tapi kita sudah antisipasi sebaik mungkin dengan banyak hal yang sudah UB siapkan. Untuk beban biaya semua ditanggung UB sendiri, karena kalau diakumulasi tidak banyak (memakan biaya, red) seperti operasional lainnya,” tutup Aulanni’am.

Pelaksanaan perkuliahan hybrid pun menimbulkan beberapa perbedaan pendapat dari mahasiswa.

“Menurutku pribadi lebih memilih kuliah offline, karena materi yang didapat bisa lebih mudah. Jika offline penjelasan dosen akan lebih enak dan jelas. Info antara mahasiswa dan dosen bisa lebih pasti dan kemungkinan miskomunikasi rendah,” ungkap salah satu mahasiswa FH UB 2021.

Sedangkan pendapat lain mengungkapkan bahwa perkuliahan daring dinilai jauh lebih nyaman karena dapat melakukan banyak kegiatan secara lebih leluasa, kegiatan organisasi misalnya. Hal itu dipaparkan oleh salah satu mahasiswa FISIP UB 2021, Abdul Muis Nawawi.

“Soalnya udah nyaman online. Dengan online bisa melakukan banyak hal,” ungkap Abdul pada wawancara Senin, (22/11).

Pihak rektorat sendiri menilai bahwa perkuliahan hybrid dilakukan guna menunjang capaian belajar mahasiswa yang dinilai menurun saat perkuliahan daring dilaksanakan. Terutama dalam bidang sosial dan softskill yang dirasa membutuhkan penyesuaian secara tatap muka.

Penulis : Laras Ciptaning Kinasih, Alifiah Nurul Izzah
Kontributor: Della Amanda Putri (anggota magang), Ayu Rahma Putri
Editor: M Izzul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.