Pamer koleksi. Ilustrasi: Priska Salsabiila

Saya sempat membaca tulisan Mawar dan sekarang saya akan menjadi seperti Mawar! Memutuskan untuk berbicara mengenai kasus yang saya ketahui. Posisi saya dan Mawar sepertinya sama, pihak yang tahu mengenai kasus pelecehan dan kekerasan seksual.

Saya di sini tidak berkaitan dengan korban – bukan teman atau siapapun yang punya relasi dengan korban, hanya tahu nama dan rupa beberapa korban – tetapi mengetahui aksi busuk pelaku.

Tindakan yang dilakukan berbeda dengan apa yang dilaporkan Mawar dan pelakunya juga kemungkinan besar berbeda. Namun, saya yakin ini adalah tindakan bejat, apapun istilahnya.

Pelaku – sampai seterusnya – akan saya beri nama Kaca, sapaan lebih singkat dari “Kacamata”. Kaca adalah aktivis yang menurut saya memiliki nama yang mentereng di UB. Pada berbagai gerakan mahasiswa, dia sering muncul.

Pun di berbagai diskusi kaum golongan “pintar”. Berbagai kajiannya yang mendalam mengenai berbagai isu, agaknya saya bisa acungkan jempol. Tetapi selain berdiskusi, aktivis yang pintar ini sepertinya juga seorang kolektor handal. Mengoleksi apa? Ssst… video dan foto perempuan!

Semua tersimpan rapih di ponsel pintarnya. Video dan foto tersebut dikumpulkan dalam album-album yang diberi keterangan nama si empunya video. Banyak jenisnya, mulai dari foto perempuan telanjang dada, yang belum buka baju, yang merancap, maupun yang sedang ditiduri.

Sejujurnya saya tidak peduli kalaupun dia tidur dengan perempuan-perempuan itu. Atau malah mereka dengan sukarela mengirimkan video telanjang mereka kepada Kaca. Mungkin memang banyak yang tertarik pada otak dibanding tampang.

Tetapi yang menjadi masalah, album berisi foto dan video ini disebar ke tongkrongannya. Sungguh, dijadikan bahan untuk sharing!

Setidaknya, dua nama lain turut terciprat sebaran video ini. Kalaupun lebih, saya tidak kaget karena nampaknya Kaca tidak cukup pintar untuk melindungi album-album miliknya. Entah disengaja atau memang tidak pintar saja.

Penamaan album-album dengan nama si empunya foto – bahkan saya juga melihat dinamakan dengan username IG nya – ini sejujurnya membuat saya penasaran. Untuk apa? Segitu banyak kah perempuan yang tidur dengan Kaca sampai dia takut lupa nama?

Kalau di akun atau situs bokep, biasanya album-album yang diberi nama lengkap kemudian dijual atau hanya bisa diakses video full-nya jika masuk ke grup berbayar yang katanya sekali bayar bisa akses seumur hidup.

Kebutuhan rancap-merancap ini memang bejat. Sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya kalau oknum penyebar video dan foto porno bisa jadi orang-orang macam Kaca ini.

Lantas, yang membuat saya lebih penasaran lagi, apakah perempuan-perempuan tadi tahu kalau foto atau videonya tidak hanya dilihat Kaca tapi juga dinikmati konco-konconya?

Karena menurut hemat saya, hampir tidak mungkin perempuan mengirimkan video telanjangnya dan bilang, “kamu boleh kok bagikan ini ke teman-temanmu,” malah lebih mungkin mereka bilang, “jangan disebar ke mana-mana ya.”

Untuk mengembalikan marwah tulisan ini sebagai  opini, saya akan memperkuat standing point alasan saya mengecam keras aksi Kaca dan orang-orang seperti Kaca. Saya akan membahas lebih lanjut kemungkinan yang akan terjadi dari tindakan Kaca.

Kita sama-sama tahu seberapa ramainya kasus pelecehan maupun kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia saat tulisan ini dibuat. Bahkan mungkin, masih ramai saat tulisan ini naik ke publikasi.

Maka, saat melihat dampaknya untuk korban, saya mulai berpikir kalau kasus ini pun memiliki banyak potensi berakhir kepada para korban.

Pertama, mari bicara dulu mengenai cara Kaca mendapatkan foto dan video tadi. Apakah benar didapatkan dengan cara meminta? Karena korban bisa jadi memberi video yang dimaksud karena telah berhasil dimanipulasi.

Atau sadarkah korban saat foto atau video itu diambil? Karena korban bisa jadi dalam keadaan mabuk atau tidak sadar karena satu dan lain hal. Ini celah pertama yang mungkin dapat terbukti menjadi tindak pelecehan maupun kekerasan seksual jika satu saja terbukti. Sebut saja jenisnya, bisa perkosaan atau intimidasi seksual.

Kedua, potensi yang terjadi setelah penyebaran video-video tersebut. Bayangkan jenis tindak KBGO yang mungkin terjadi. Malicious distribution, penyebaran konten untuk merusak reputasi korban.

Revenge porn, penyebaran sebagai bentuk ancaman maupun balas dendam. Belum lagi potensi korban untuk mendapatkan pelecehan lain dari orang-orang yang sudah melihat foto atau videonya.

Tatapan lelaki yang tidak lagi sama kepadanya yang seolah-olah saat melihat bisa membayangkan korban dalam kondisi telanjang. Fantasi yang berkeliaran sedemikian rupa tanpa pernah korban tahu ruang amannya terenggut sebegitu banyak.

Memunculkan keinginan yang tinggal menunggu adanya kesempatan. Penyalahgunaan kekuasaan juga sangat bisa terjadi di sini, apalagi jika melihat pergaulan orang-orang seperti Kaca yang kenalan-kenalannya “orang kuat” di kampus.

Kalau ini sekadar draft anonim, mungkin saya bisa mengakhiri dengan menulis sepatah pesan untuk Kaca: “tobat. Hapus foto dan videonya.”

Tetapi karena memang ini lagi-lagi adalah tulisan opini dan kasus ini tidak semestinya diselesaikan dengan cara yang demikian mudah, saya tetap dalam posisi mengecam semua tindakan yang dilakukan Kaca.

Penyebaran foto dan video tadi amat tidak pantas dilakukan dengan berbagai risiko yang sedemikian besar membahayakan perempuan yang tercatut. Dan siapapun yang melakukan tindakan serupa sebaiknya mencamkan tulisan ini juga!

Ingat juga seberapa jauh dampak psikis yang dirasakan korban kekerasan maupun pelecehan seksual dari kasus-kasus yang beredar.

Terakhir, bila kasus ini terbukti merupakan tindak pelecehan maupun kekerasan seksual, saya minta pelaku diusut tuntas. Pun semestinya dilakukan pelacakan lebih lanjut pula pada teman-temannya.

Saya teringat kata Mawar dalam tulisannya, bahwa tidak sebaiknya korban hanya berakhir pada angka. Bicara dan usut tuntas sampai pelaku dapat ganjaran yang setimpal.

Jangan sampai dibiarkan dan diredam sendiri dari dalam oleh kampus tercinta lewat lembaga-lembaga “pelayanan”nya.

Sekian dan terima kasih.

Hidup korban!

Penulis: Jati (bukan nama yang sebenarnya)
Editor: Octavio Benedictus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.