Ilsutrasi : Priska Salsabila

Terlalu banyak dosa yang dikubur di kampus kalau kita bicara kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Skandal yang demikian banyaknya oleh satu orang mungkin dapat menjadi heboh ketika terjadi pada taraf SMA.

Beda halnya ketika terjadi pada lingkup kampus. Skandal pelecehan dan kekerasan seksual jadi sulit dan bahkan tidak terungkap, apalagi di Kampus UB.

Biar saya beri satu contoh. Anggap saya orang ketiga serba tahu. Ada salah seorang petinggi mahasiswa yang dikagumi orang-orang karena wajahnya. Entah pakai cara apa, dia berhasil “tidur” dengan perempuan-perempuan di sekitarnya. Perempuan-perempuan, catat ya!

Mulai dari adik-adik yang dikader sampai yang berada di luar organisasinya. Tentu terlambat kalau saya bilang ke mereka, “jangan mau” karena saya berani taruhan kalau cara-cara yang dipakai melibatkan bentuk-bentuk manipulasi, paling tidak grooming.

Mengapa saya berani berkata demikian? Karena jumlahnya tidak wajar. Selain itu, jabatan yang diemban membuat dirinya cukup leluasa memengaruhi orang-orang sesuai kemauannya, hasrat seksual!

Saya tadi sebut di awal kalau dosa-dosa ini dikubur. Kata “di” artinya sengaja, baik oleh si pelaku maupun organisasi tempatnya berproses. Mungkin memang citra organisasi lebih punya urgensi untuk dijaga ketimbang dampak yang dirasakan korban.

Karena saya tahu, beberapa orang di lingkaran pelaku juga tahu tapi memilih bungkam dan membiarkan. Apalagi dalam hal ini, petinggi kampus yang saya maksud punya relasi dengan pihak-pihak yang “kuat” di kampus. Jadi lah, selamanya namanya akan terus baik.

Dalam posisi yang tahu dan memilih untuk tidak cuma diam ini, berbagai kebimbangan melingkupi saya. Pertama, para penyintas mungkin tidak tahu kalau dia adalah penyintas.

Nama mereka padahal disebut di “bawah tanah” sebagai bentuk pencapaian tersendiri bagi pelaku. Iya! pencapaian sudah pernah tidur dengan “mahasiswi cantik”, layaknya mendapatkan trofi.

Kedua, rasa pesimis bahwa pengusutan akan muncul dan tidak tiba-tiba tenggelam. Karena jika dilihat pada pasal 14 Peraturan Rektor (pertor) Universitas Brawijaya No. 70 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual dan Perundungan, dikatakan bahwa pemeriksaan dan rekomendasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Dekan (Perdek).

Peraturan Dekan? Satu tahun semenjak pertor tersebut terbit, saya belum melihat satu fakultas pun mengeluarkan perdek yang mengatur perihal hal teknis tersebut!

Bagaimana jika melakukan pengaduan ke unit yang ada di bawah EM? sepertinya juga kasus berpotensi tidak diusut. Karena nyatanya, tidak pernah ada publikasi kasus yang sedang diadvokasi. Publikasi mereka hanya menempatkan penyintas dalam angka dan diagram. Padahal, menurut saya, bahkan satu angka itu sudah bendera merah.

Ketiga, sudah barang tentu saya akan dicari dan dipermasalahkan untuk kemudian balik dilaporkan. Mengapa? Yaaa karena saya hanya seorang biasa yang tidak memiliki latar yang kuat serta relasi kuasa.

Oleh karena itu, saya mengajak para perempuan yang merasa menjadi penyintas, memiliki indikasi bahwa kalian adalah penyintas karena pernah merasa diperlakukan secara janggal, maupun yang punya informasi dan bukti yang kuat, untuk mulai bicara!

Jangan cuma diam dan ujung-ujungnya hanya masuk dalam presentase angka pada diagram. Karena menurut saya kasus-kasus seperti ini harus mulai dibongkar dan pelaku harus menerima sanksi yang pantas, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Seperi yang saya sebutkan sebelumnya, pembiaran akan membuat nama pelaku tetap baik, entah sampai kapan. Di kampus ini hampir tidak pernah ada kasus yang mencuat. Mentok-mentok hanya sampai pada obrolan dari mulut ke mulut ala tongkrongan di warung kopi.

Hal seperti ini patut dicurigai. Di mana letaknya kasus-kasus terhenti? Mengapa kasus sampai berhenti? Saya rasa tidak membesarkan kasus karena alasan tidak cukup bukti adalah langkah yang salah.

Padahal dari laporan satu penyintas, bisa diusut lebih lanjut mengenai motif calon pelaku. Kemudian, bisa terbentuk solidaritas antar penyintas agar tidak bergerak sendiri-sendiri untuk berani bicara. Lebih lanjut lagi, pengembangan kasus dengan mencari tahu pelaku-pelaku lainnya.

Kasus yang saya sebutkan cuma satu tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kasus seperti itu juga terjadi di ruang-ruang yang tidak memungkinkan korban untuk berbicara.

Mengutip salah satu hadist Riwayat Muslim yang terkenal,

“barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Mungkin saja, orang-orang yang mengetahui kasus ini dan membiarkannya sama sekali, memang tidak sanggup berbicara. Jika ada yang diam-diam mengecam korban, memang kemampuannya satu centimeter lebih baik.

Tetapi saya tidak mau hanya mengubah dari dalam hati karena saya tahu, kasus seperti ini perlu diusut tuntas dan tidak akan berhasil kalau tidak ada yang mau berbicara. Tidak lagi soal mampu dan tidak mampu!

Penulis : Mawar (bukan nama asli)

Editor : Octavio Benedictus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.