sumber gambar: freepik

MALANG, KAV.10 Telah dibuka Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan (ULTKSP) untuk melayani kasus kekerasan seksual dan perundungan di Universitas Brawijaya (UB). Sejak beroperasi di 14 fakultas, Fakultas Hukum menemui beberapa tantangan. Salah satunya terkait SDM yang mengelola layanan ini.

“Dikarenakan adanya kenaikan kasus Covid, membuat pegawai hanya bisa masuk 25%. Kemudian kalau konsultasi secara daring juga nggak nyaman,” jelas Setiawan Noerdajasakti selaku Wakil Dekan (Wadek) III Bidang Kemahasiswaan FH saat diwawancarai awak Kavling10 secara langsung pada Senin, (24/9).

Diwawancarai di waktu yang berbeda, Lucky Endrawati salah satu dosen FH juga menggarisbawahi bahwa sebaiknya ULTKSP tidak hanya dihandle oleh orang yang itu-itu saja atau dosen.

“Sangat dibutuhkan orang yang dapat menjaga privacy korban, berpikir realistis, tidak mudah menyimpulkan. Jadi sangat dibutuhkan pelatihan khusus apalagi dibutuhkan skill untuk mendorong seseorang (korban, red) untuk dapat bercerita tentang kasusnya ini.”

Sehingga Lucky menekankan pada perlunya pelatihan khusus bagi orang-orang yang menangani kasus kekerasan seksual dan perundungan ini.

 “Lalu kendala lainnya terkait dengan lintas lembaga yang sering kali belum ada kerjasamanya. Misalnya ada korban dari fakultas X yang meminta visum. Nah, kerjasama ini belum ada,” ungkapnya saat diwawancarai Minggu, (19/9).

Pembentukan ULTKSP didasari oleh Peraturan Rektor Nomor 70 Tahun 2020 yang mengharuskan tiap fakultas membentuk layanan ini. Di dalamnya mengamanatkan bahwa dalam waktu 6 bulan setelah Pertor berlaku, maka harus segera dibuat Perdeknya.

“Tapi sepertinya kita agak molor, sampai waktu itu Biro Keperempuanannya mengingatkan kami. Harusnya dari bulan Juni sudah ada Peraturan Dekan (Perdek, red) dan unitnya di fakultas (karena Pertornya berlaku Desember 2020, red),” tutur Setiawan.

Oleh karena itu, FH sendiri sedang menunggu penomoran dari unit HTL (Hukum Tata Laksana) terkait peraturan dekan mengenai ULTKSP agar peraturan tersebut dapat segera berlaku. Namun tim ULTKSP beserta ruangannya telah disiapkan oleh pihak FH UB.

 “Kita sudah ready. Kalau ada kasus kita sudah siap. Tapi ya mudah-mudahan aja tidak ada kasus. Ini kan fungsinya untuk njagani (jaga-jaga, red) aja kalau misalnya terjadi kasus.”

Dalam penanganannya, pelayanan ULTKSP sendiri bergantung pada jenis kasus yang terjadi.

“Ya kita mengikuti yang diamanatkan Pertor. Misalnya ada sexual harassment dan korbannya merasa stress, maka harus ada pendampingan. Nah nanti kita upayakan adanya pendampingan psikolog,” ujar Setiawan lagi.

Sedangkan mekanisme pelaporan kasus, dijelaskan oleh Lucky Endrawati dapat dilakukan langsung ke pihak ULTKSP atau Nur Hanifah selaku dosen Departemen Hukum Islam sekaligus Ketua ULTKSP FH UB.

“Jadi kita nggak boleh membuat ketentuan yang terlalu birokratis karena itu kasus. Jadi langsung lapor saja bisa lewat chat WA, telepon dan lain-lain. Kalau untuk teknis teknis administratifnya baru menyusul,” jelas Lucky.

Sasaran ULTKSP ini lanjut Lucky, tidak hanya untuk korban atau mahasiswa saja. Tetapi juga seluruh civitas kampus seperti dosen, karyawan, dan lain-lain yang berada dalam ruang lingkup UB.

Tindakan-tindakan preventif pun dilakukan sebagai sikap serius FH UB terhadap kasus kekerasan seksual dan perundungan. Misalnya dalam BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FH yang terdapat Biro Keperempuanan yang aktif mengadakan webinar-webinar terntang ULTKSP.

“Kemarin dalam kegiatan PKKMABA yang diselenggarakan di Samantha Krida, itu juga sudah ada semacam ceramah tentang kekerasan seksual dan perundungan kepada mahasiswa baru,” pungkas Setiawan.

Terkait latar belakang terbitnya Pertor mengenai ULTKSP ini, menurut Lucky tidak lain karena pihak kampus tidak menutup telinga bahwa terjadi kasus kekerasan seksual dan perundungan di UB sendiri. Serta tidak banyak korban yang memiliki keberanian untuk menceritakan dan melaporkan apa yang dialaminya.

“Ya, paling tidak kami mewadahi dan menegakkan hak-hak korban,” tutup Lucky.

Penulis: Jihan Nabilah Yusmi dan Mahesa Fadhalika
Kontributor: Oyuk Ivani Siagian
Editor: Ranti Fadilah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.