Ilustrasi : Ach Rizal Fahmi Ilhami

Siang hari saat saya dan Agis, sedang membahas lagu nazi punk fuck off milik Dead Kennedys, tiba-tiba ia mengajukan email dari Band Bengkulu “WHY 70” untuk dibuatkan tulisan tentang lagu barunya “Doorway”. Saya jujur tidak tahu mereka ini band seperti apa dan saya tidak mudah berjoget ria selain headbang mendengarkan musik Stoner dan Sludge Metal tetapi kali ini saya cukup terpukau mendengar lagu Doorway dari band baru asal Bengkulu itu.

Kesan di menit awal ialah dentuman bass dari Yola kemudian dilanjutkan permainan drum dari Dika dan dimasukkan vokal dari Iyam beserta iringan gitarnya. Saya tidak mudah mengatakan bagaimana gaya mereka bermain karena keterbatasan pengetahuan tentang teknik bermain musik, tetapi dari cara mereka bermain bisa digambarkan dengan bass ala Queen pada lagu another one bites that dust, permainan Snare, bass dan Hi-Hats pada drum ala Electro pop dan New wave. Vokal Iyam yang tegas, mendayu (agak sulit dikatakan), sangat cocok dan membaur dengan ciri khas lagu ini ditambah dengan alunan musik tradisional sekaligus penarinya di video klip mereka. Overall sih sempurna jika bisa saya katakan. 

Saya sempat mewawancarai mereka lewat virtual dan menanyakan identitas bermusik mereka.

Basic-nya electro-pop ya, cuman ada sub-genrenya dance, electro dance,” ujar Iyam.

Walaupun begitu mereka tidak memaksa penikmat musik mereka merasa terkurung dalam kotak genre

Nggak apa-apa sekarang kan ada kata-kata jangan mengkotak-kotakkan genre, yang penting kita tuh orang-orang joget apalagi pas dipanggung. Udah yang penting energinya tersampaikan masalah genrenya terserah,” tanggapan Iyam perihal genre mereka.

Memang pembahasan genre sekarang sulit di jeniskan. Bahkan banyak sekarang ini dalam satu band mengusung banyak genre sekaligus di dalamnya. Tetapi sebagai pendengar musik garis keras saya bisa menyimpulkan ini adalah Electro pop mengingat influence mereka dan sepintas mirip dengan Daft Punk, band yang saya dan mereka sesalkan sudah bubar. Jiancuk (logat Jember).

Ada hal menarik dari mereka saat saya tanya selera musik personal mereka.

“Kalau saya pribadi sih dari dulu sempet mau metal sama bang dika nih drummer nih. Heavy metal dulunya mas. Kalau saya dangdut mas. Awalnya electro sih biasanya denger kayak Semi Rock” Pungkas Iyam, Dika dan Yola.

Saya tidak habis pikir, bagaimana mereka nantinya memakai baju band slayer, Metallica, rambut gondrong dengan efek gitar serta bass yang noise, dan drum yang menggebu.

Alasan mereka memilih electro-pop bisa terbilang diluar ekspektasi saya.

“Mungkin karena sekarang kan teknologi mulai canggih ya. Alat musik tradisional sudah ada jagoan-jagoannya dari zaman dulu kan. Itu, biar lebih kerasa aja 2020-an nya gitu. Biar dikenang sama anak-anak 2030-an nanti mas”. 

Setelah mendengar hal itu, saya langsung berpikir mereka “Goks”. 

Pertanyaan berikutnya adalah nama band yang menurut saya adalah hal penting. Nama adalah doa. 

“Waktu itu bikin nama kayak keren aja, ada angkanya. Kalau 69 gak enak, jadi 70 aja”. 

Jawaban yang mind blowing, jangan ditanya ada apa dengan angka 69.

Fakta menarik dari mereka, WHY 70 adalah band pertama di daerahnya yang mengusung electro pop dengan sub-genre electro dance, saya menyebutnya The Pioner di daerahnya. 

Selanjutnya saya menanyakan tentang rencana berikutnya akan membuat project apa.

“Ada mas, malah mini album rencananya, 4 atau 5 (Lagu) (Red.)”

Semoga saja mereka dapat cepat menggarap mini albumnya dan dapat manggung di dies natalis UB sekalian mendapatkan label record berita angkasa, FFWD, Aksara ataupun Demajors record.

Penulis : Ach Rizal Fahmi Ilhami

Kontributor   : Octavio Benedictus 

Editor : Faisal Amrullah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.