Ilustrasi : Nafisah Aulia Rachma

Oleh : Moch. Fajar Izzul Haq

Kalau Kasur adalah perempuan, maka kasur adalah perempuan kedua yang paling mengerti aku, kehidupanku, setelah ibuku, tentu saja. Bagaimana tidak, semua hari tanpa libur kuhabiskan bersamanya. Entahlah, barangkali aku sudah jatuh cinta pada kasur kosanku yang sudah tipis karena aku seolah tak pernah terlepas darinya. Rupanya benar lagu itu, lagu yang liriknya, “cinta datang karena terbiasa.” Aku sudah jatuh cinta padanya.

Di negeri bohongan ini, sebuah pandemi virus mematikan sedang melanda. Segela kegiatan masyarakat harus dirumahkan, dikembalikan ke rumah, dikerjakan di rumah. Rumah memang menjadi satu-satunya tempat paling aman saat ini dan mengalahkan rumah-rumah lain, rumah ibadah sekali pun. Aku yang menjadi mahasiswa pun harus berkuliah dari kamar kosan karena kampus sudah lagi tidak digunakan, barangkali sudah berlumut atau sudah menjadi kandang macan. Toko-toko tutup, pasar tutup, pom bensin tutup, jalanan sepi, tak satu pun kendaraan melintas, kecuali mobil dengan sirene yang tidak dapat kubedakan antara mobil ambulan, mobil jenazah, atau mobil polisi.

Di masa seperti ini, roda ekonomi menjadi kotak. Karena memang penyakit ternyata menjadi ladang bisnis terbesar, di mana bisnis obat dan rumah sakit lebih menjanjikan dibanding bisnis batu bara. Belum lagi dukungan pemerintah terhadap mereka tak terhingga jumlahnya. Maka terciptalah sebuah hegemoni perekonomian yang kian mencekik kaum subaltern di pinggir kota. Pedagang menjerit, PHK di mana-mana, masyarakat terserang virus kelaparan. Kukira virus mematikan itu hanya menyerang saluran pernafasan dan membuat orang mati, ternyata juga menyerang akal sehat dan membuat orang serakah.

Tapi mana peduli aku dengan itu semua, aku punya kasur yang setia. Setia menemaniku tidur, menemaniku makan, menemaniku mendengar radio modern yang disebut kuliah virtual. Aku maupun kasurku tahu bahwa radio model baru itu adalah jelamaan kampus di dunia maya. Tapi aku masih mendengar dosenku bercerocoh, teman-temanku bertanya, dan keluhan tugas yang tiada henti. Hingga pada suatu malam aku berbisik pada kasurku, “Yang hilang bukan pembelajaran, tapi pendidikan.”

Setelah membisikkan itu, malam itu juga, tiba-tiba kasurku berbicara. Entah di mana mulutnya, di mana mukanya. Yang jelas ia menanggapi setiap aku bercerita dan mengeluh. Aku selalu mendengarnya, sehingga aku semakin yakin bahwa kasurku adalah perempuan karena suaranya memang perempuan. Begitu lembut ia bertutur kata, suaranya seperti permisi dan mengetuk pintu ketika masuk di telingaku. Dia adalah pacarku!

Kuceritakan ini pada temanku, tapi ia malah menertawakanku. Aku tahu kata-katanya adalah ejekan meskipun disampaikannya melalui pesan. Ia malah menyuruhku untuk pergi ke gym dan berolahraga. Tentu saja aku tidak mau, karena aku tahu di sana banyak orang berlari tapi  tidak beranjak ke mana-mana. Apa bedanya dengan aku? Akan lebih baik aku berpacaran dengan kasur dari pada jatuh cinta pada treadmill.

Orang-orang di negeri bohongan ini memang sudah gila. Mereka semua memang jujur tapi tidak dapat dipercaya. Semua sudah hanyut dengan kegilaannya sendiri. Gila harta, gila perempuan, gila kendaraan. Hanya aku dan kasurku yang masih normal dan berpikiran waras.

Setelah sekian lama, pagi itu aku beranjak dari kasur. Aku berpamitan pergi padanya dan berjanji akan pulang sebelum petang. Ia mengatakan iya dan berjanji akan memasak makan malam untukku. Aku pergi dengan berkaus hitam, celana hitam, sepatu hitam dan segalanya yang berwarna hitam. Aku pergi ke sebuah balai kota untuk mengikuti sebuah aksi demo menuntut pemerintah korup yang gila harta. Pada malam sebelumnya, kasurku mengingatkanku pada perkataan seorang aktivis, “Kau perlu ingat, Tan Malaka adalah orang yang mengatakan hal termewah bagi mahasiswa adalah idealismenya.” Aku ingin membela rakyat, dan memutuskan pergi meninggalkan kasurku, pacarku, pagi itu setelah melihat unggahan poster seruan aksi.

Aku pergi sendirian. Balai kota sudah ramai dengan orang-orang berkostum seperti aku. Mereka berteriak, mengangkat tinggi-tinggi poster tuntutan. Aku ikut berteriak, menyuarakan semboyan-semboyan perjuangan, menyanyikan lagu-lagu kerakyatan. Kudengarkan setiap orator yang berbicara di depan, entah apa yang dikatakannya, yang jelas setiap dari mereka selalu bersemangat, selalu berapi-api, dan seringkali mengepalkan tangan ke atas. Yang itu artinya harus dibalas dengan teriakan, “Lawan!”

Hingga siang datang, masa tak kunjung membubarkan diri. Masih ada saja rupanya orator yang berceramah. Aku agak mundur hingga nampak bendera-bendera hijau, kuning, merah, putih dan lain-lain yang jumlahnya tak pernah kuhitung. Mana aku peduli juga dengan warna-warna itu, bagiku itu tidak ada artinya. Lama-lama Lelah juga berdiri seperempat hari. Aku mundur hingga barisan paling belakang masa. Yang ternyata itu juga barisan paling depan aparat yang berjaga.

Tapi para aparat itu berwajah ramah. Tameng untuk menghalau masa juga dijejerkan tidak digunakan. Pentungan yang sewaktu-waktu dapat menampar wajahku, atau juga bahkan terlempar ke kepalaku, terikat rapat di pinggang mereka. Di jalan raya yang diblokade, entah mengapa diblokade toh juga tidak akan ada kendaraan yang lewat, mereka duduk, santai. Bahkan ada yang merokok dan main kartu. Sementara itu, masa aksi masih berteriak-teriak.

Aku menghampiri sekelompok polisi yang bersantai dengan rokok di tangannya. “Pak minta rokok,” kataku pada salah satu dari mereka, siapa saja yang penting salah satunya. Bapak itu, yang salah satu dari mereka, mengeluarkan sebungkus rokok dan diberikan padaku. Kuterima dan memang ternyata isinya tinggal sebatang. Kunyalakan dengan korek pinjamannya. Iya hanya kupinjam untuk menyalakan sebatang rokok itu, tidak boleh kubawa pulang. “Jangan dibawa koreknya, bisa perang kita nanti, hahaha.” Kubalas juga dengan tawa getir.

Di pinggir jalan itu, aku turut duduk dengan para aparat keamanan tadi. Mereka tidak membicarakan apapun dan hanya menyaksikan kerumunan masa yang sedari tadi melakukan hal yang sama: berteriak dan mengepalkan tangan ke atas, sesekali bendera di tangan sebagian mereka dikibas-kibaskan. Masih kuisap rokok hasil minta tadi, rupanya nikmat memang merokok sambil menonton pertunjukan aksi di depan balai kota. Udaranya segar dan tidak begitu panas karena pohon-pohon di sekitar sini jadi rindang. Meskipun hal itu tidak serta merta membuatku jatuh cinta pada aspal di depan balai kota. Ya masak aku jatuh cinta pada aspal?

Rupanya aku tidak sendirian. Di teras balai kota, nampak beberapa orang berseragam rapi coklat-coklat, duduk menghadap jalan, tempat masa aksi berkumpul. Mereka tertawa-tawa sambil menikmati hidangan kecil dan sesekali menunjuk-nujuk ke masa aksi. Dari sudut pandang ini, rasanya seperti menonton pertunjukkan drama. Oh, sudah lama sekali aku tidak menonton pertunjukan drama. Dan mereka yang menonton dari teras itu, sudah memesan tiket VVIP.

Rokokku sudah habis, tiba-tiba saja. Mengingatkanku bahwa aku sedang lapar, mengingatkanku bahwa pacarku pasti sudah menyiapkan makan malam untukku. Ya pacarku, kasurku itu. Setelah beberapa saat, masa aksi membubarkan diri sambil tetap bernyanyi-nyanyi. Aku turut di belakang mereka, karena mereka berjalan sejalan dengan jalan pulangku. Entah, nyanyian itu terdengar semakin romantis, semakin mengalun manja. Tak sabar aku sampai di kosan dan bertemu kasurku, pacarku maskdudnya.

Akhirnya sampai juga. Kuketuk pintu, kubuka sendiri karena memang kukunci dari luar, supaya pacarku tidak kabur. Dan benar saja, ia tidak bisa kabur dan tiduran di kamarku sambil merayu manja menyambutku. “Kamu sudah pulang ya sayang, sana makan dulu.” Aku hanya tersenyum membalas senyumannya. Kumakan makanan di meja makan, entah enak atau tidak, ini adalah buatan pacarku.

Kuhampiri dia di kamarnya, menidurinya. Tapi HP-ku berdering sebentar, ada pesan dari teman brengsek. “Hei ke sini kita minum kopi, jangan kau tiduri terus kasurmu nanti hamil. Kau mau punya anak kapuk?” Ah, bodoh amat. Pada kasurku kubilang, “Orang-orang di negri bohongan ini memang sudah gila semua.” Tapi ia justru menjawab, “Atau kau saja yang sudah gila?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.