sumber gambar: http://rizkylrs.lecture.ub.ac.id/

MALANG-KAV.10 Rangkaian PKKMB Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB resmi diberhentikan lebih awal sejak akhir september lalu. Hal ini lantaran adanya keluhan dari orang tua mahasiswa baru yang menganggap rangkaian tersebut sangat memberatkan. Menanggapi hal itu Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FTP UB, Yusuf Hendrawan, memutuskan untuk memberhentikan sisa rangkaian PKKMB FTP UB, baik tingkat fakultas maupun jurusan.

“Kita memutuskan untuk mengganti PKKMB dengan agenda lain mengenai penanaman nilai-nilai berkarakter kepada maba. Namun, hal tersebut tidak wajib diikuti oleh maba. Jadinya mau ikut atau tidak ikut, tidak apa-apa, tidak mendapatkan konsekuensi apa-apa,” tukas Fajar Bagus Kurniawan, selaku Ketua DPM FTP pada Kamis, (7/10).

Menurut Adam Syech, selaku Ketua Pelaksana PKKMB FTP 2021, keputusan penyelenggaraan penanaman nilai-nilai berkarakter bertujuan agar tetap adanya regenerasi yang dikhawatirkan tidak dapat terbentuk apabila sisa rangkaian PKKMB benar-benar ditiadakan.

Akan tetapi, keputusan mengenai pelaksanaannya tetap diserahkan kembali kepada masing-masing jurusan di FTP, yang tentu saja tetap mempertimbangkan instruksi dari dekanat.

“Keputusan mengenai kegiatan pengganti itu diserahkan lagi ke masing-masing jurusan. Ada juga jurusan yang mengambil kebijakan untuk langsung closing ceremony saja agar tidak berlarut-larut pada permasalahan ini,” jelas Fajar.

Berdasarkan penuturan Fajar, surat keputusan resmi mengenai pemberhentian rangkaian PKKMB bertanda tangan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan juga telah dikeluarkan. Namun surat keputusan tersebut hanya diteruskan sebatas pada ketua pelaksana ospek tiap jurusan.

“Karena untuk antisipasi agar tingkat partisipasi (kegiatan kampus, red) dari maba tetap tinggi. Kalau disebar ke maba akan sangat banyak maba yang akan tidak mengikuti kegiatan penggantinya,” tambah Fajar.

Fajar pun menyatakan kejadian tahun ini akan menjadi evaluasi bagi FTP. Agar PKKMB tahun depan dapat terselenggara seperti biasa.

Adanya keputusan pemberhentian ini sebenarnya tidak semata-mata hanya karena keluhan dari orang tua mahasiswa. Yusuf pun mengatakan bahwa ada aspek lain, seperti resiko akademik dan akreditasi yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan.

“Maba itu baru masuk ke kegiatan akademik yang sistem pendekatan pendidikannya beda sama SMA. Mereka pasti kaget. Kalau mereka terbebani dengan ini (PKKMB, red), mereka tidak fokus di akademik. Maba IP-nya harus tinggi, tidak boleh ada mata kuliah yang ngulang. Kalau IP maba kecil, nanti akan berpengaruh ke akreditasi. Akreditasi kampus pun akan turun,” tukas Yusuf.

Yusuf juga menambahkan bahwa sebenarnya rangkaian PKKMB yang wajib hanyalah 4 hari di awal perkuliahan, yaitu 2 hari Raja Brawijaya, 1 hari PKKMB Fakultas, dan 1 hari PKKMB Jurusan, sisanya merupakan rangkaian tambahan yang bersifat tidak wajib.

Kronologi

Kronologi tersebut diawali dengan masuknya banyak keluhan dari orang tua maba melalui layanan e-complaint UB setelah Wakil Dekan I Bidang Akademik FTP UB menyelenggarakan forum orang tua maba secara daring. Keluhan yang diterima tidak jauh mengenai kegiatan dan penugasan PKKMB yang dinilai membuat maba merasa tertekan, sakit, hingga memiliki pola tidur yang tidak sehat.

“Seminggu kemarin (minggu akhir september, red) , krida mahasiswa (rangkaian PKKMB, red) masih tetap kita jalankan, tapi dengan merespon beberapa e-complaint dari orang tua maba yang masuk ke UB maupun ke fakultas. Sehingga kami mengambil kebijakan untuk menghentikan sisa dari rangkaian PKKMB tersebut,” jelas Yusuf saat diwawancarai oleh awak Kavling10 pada Selasa (5/10).

Keputusan menghentikan kegiatan ospek fakultas pun dinilai Yusuf selain mengamini keluhan orangtua mahasiswa juga demi melindungi nama baik universitas.

Penulis: Laras Ciptaning Kinasih, Yesy Nadilla
Kontributor: Rafi Ramadhan
Editor: Ahmad Farhan Al Hamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.