Illustrasi : Senia Nefalina

Oleh : Mahesa Fadhalika Ninganti

Setiap pasang mata yang memandang

Sorotan matanya seakan menyiaratkan ketangguhan para ksatria

Suaranya kian mendebar sangat lantang

Menggema sampai ke pelosok negeri

Seakan menorehkan peristiwa yang sedang berlangsung

Kini, di bawah cantiknya purnama dan pekatnya malam

Banyak jiwa yang menyimpan dendam

Serta raga yang sirna akibat pengkhianatan kaum tak berperikemanusiaan

Butir-butir air mata membanjiri setiap rumah yang berduka

Dengan cemas berharap keadilan yang dicari segera datang menghampiri

Jauh di dalam sumur yang gelap

Para panglima tempur tenggelam dan terkapar kaku

Jasadnya yang geruh bersatu dengan semesta

Cucuran darahnya yang kian mengering menjadi jejak peradaban

Puluhan tulang belulangnya merapuh tak tersisa habis digerogoti mikroba

Keguguran massal ini sungguh menyiksa lara

Menggoreskan luka dan kepedihan mendalam

Dosa-dosa pengkhianatan ini tak layak dimaafkan

Sebab nuraninya telah sirna dimakan api amarah

Kini yang tersisa hanyalah kenangan yang tak lekas dimakan oleh waktu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.