San Fransisco

“Tapi menurutku, orang-orang tidak seharusnya membuat standar untuk ‘akhir yang bahagia’. Menurutku, melewati segala hal—baik maupun buruk—dan bertahan terus sambil menikmati sedikit kesenangan setiap ada kesempatan; itu sudah cukup untuk menjadikan seseorang bahagia. Bukan akhir; hanya bahagia.”—Benji Schnyders (hlm. 201)

Judul : San Francisco
Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie 
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
Tebal buku : 215 Halaman
Tahun terbit : 2016

Penulis : Syifa Khairunnisa Yuhirman

Ansel Summer-Payne, bukan tipikal laki-laki keren yang jago olahraga atau tipikal laki-laki berkacamata dengan otak encer yang betah berlama-lama di perpustakaan; dia maniak musik klasik. Hobinya selain bermain harpa dan piano, juga suka meracau tentang kisah unik di balik pembuatan lagunya. Kisahnya dimulai dari pekerjaannya sebagai relawan di Suicide Prevention Center hingga akhirnya bertemu melalui telepon dengan gadis dari negeri asing yang selalu mengiris nadinya dua kali sehari, Rani—Maharani Halil.

“Please let me finish the song.” (Tolong biarkan aku menyelesaikan lagu ini.)—Maharani Halil (hlm. 1)

Buku berjudul San Francisco yang ditulis oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini memiliki gaya penceritaan yang berbeda; benar-benar bikin candu. Tak ada satu kalimat bermakna kosong. Semuanya benar-benar disusun dengan gaya khas penulisnya sendiri—seperti buku karya Ziggy sebelumnya. Sehingga begitu saya menemukan buku ini di toko buku, saya tak ragu lagi membelinya.

Sekilas buku yang terbit pada Juli 2016 oleh Penerbit Grasindo ini terkesan seperti buku terjemahan namun ide cerita dan gaya bahasanya tak kalah hebat dengan penulis terkenal luar negeri. Karakter tokohnya disusun dengan apik. Tak ada pemunculan tokoh yang over. Penulisnya berhasil membuat saya terperangkap dengan chemistry manis antara Ansel dan Ada, keakraban Ansel dengan Maria—senior di Suicide Prevention Center—dan perkembangan hubungannya dengan gadis misterius, Rani.

Kehidupan Ansel yang tenang bersama kekasihnya, Ada, kakak perempuan dan suaminya—Grethen dan Duxter—yang selalu menganggunya, berakhir begitu bergabung dia menjadi relawan di Suicide Prevention Center. Sekilas, pekerjaan itu terdengar asing di telinga. Suicide? Bunuh diri? Benar-benar tentang bunuh diri? Kenapa bunuh diri? Siapa? Seberapa sering terjadi di sana—San Fransisco? Namun, lupakan soal itu. Karena sebelum pekerjaan ini dibahas lebih rinci oleh penulisnya, akan ada hal aneh lagi yang akan muncul; pekerjaan yang seharusnya menuntut Ansel mendengar curhatan korban yang hendak bunuh diri, gumaman, racauan, isakan, atau bahkan tangisan, kini malah mengharuskannya mendengar dan menebak lagu yang dinyanyikan Rani. Demi menghentikan upayanya bunuh diri, tentu saja.

“Dia gadis biasa, melakukan hal biasa, karena alasan biasa. Dia hanya gadis biasa yang terlalu sering merasa sedih. Dan saat ini, dia sedang merasa luar biasa sedih.”—Benji Schnyders (hlmn. 200)

Topik ceritanya menarik. Dan itu disusun dengan gaya bahasa yang menyenangkan. Buku ini, tidak hanya menyajikan ide dan perkembangan tokoh yang luar biasa, juga memberi tampilan yang berbeda dengan buku fiksi lain. Saya bisa merasakan seberapa keras usaha penulis mengemas cerita ini; mulai dari beragam informasi mengenai trivia musik klasik Ansel yang selalu tersebar di setiap halaman, atau bahkan fakta mengenai Golden Gate Bridge, jembatan di San Fransisco.

“Aku bingung kenapa tempat ini disebut ‘Golden’ Gate Bridge. Tahu kan, soalnya sama sekali tidak emas. Aku tidak tahu kalau mereka menyebut selat itu ‘Golden Gate’. Apa kau tahu kalau itu dinamakan meniru Golden Horn di Byzantium? Ya, ada perairan di Byzantium lama yang mereka sebut Golden Horn. Orang-orang bilang, mereka menggunakan kata ‘emas’ karena harta benda dibawa melalui pelabuhannya, permukaan air akan memantulkan cahaya dan membuat kota tampak keemasan.”—Maharani Halil (hlm. 72)

Buku San Francisco cocok dibaca untuk pembaca remaja penyuka genre drama, romance,dan segelintir bumbu misteri. Walau sekilas San Fransisco dipenuhi dengan kata-kata seperti suicide, Golden Gate Bridge, depresi—namun jokes-nya diselingi dengan baik sehingga tak ada yang terkesan over di sini. So, what are you waiting for? Baca halaman satu dan kamu akan langsung candu menghabiskan kalimat per kalimat tiap halamannya. Happy reading, Guys!

—Tulisan ini mendapat juara 2 pada Lomba Tulis Resensi (LTR) Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia (GBSI) Hima Satrasia FPBS UPI Bandung tingkat SMA se-Indonesia pada tahun 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.