Ilustrasi : Kompasiana

Oleh : Laras Ciptaning Kinasih

Belakangan ini media sosial (medsos) menjadi lahan empuk bagi siapa pun untuk menyuarakan pendapatnya tanpa batas. Berbagai macam isu mulai dari sosial-politik hingga masalah kemanusiaan dibahas di sana. Penuh dinamika, tetapi ada sebuah topik yang tidak pernah padam, yaitu hak-hak perempuan dan anak!

Medsos beberapa hari lalu diselimuti oleh topik seputar childfree. Childfree sendiri ialah sebuah keputusan yang ditetapkan oleh seseorang untuk tidak memiliki keturunan.

Keramaian pembahasan topik tersebut dipicu oleh keputusan seorang influencer, Gita Savitri yang menyuarakan keputusannya untuk tidak memiliki anak. Hal itu memicu pro-kontra dan tentu saja para feminis digital ikut unjuk gigi di sana.

Kehadiran gerakan childfree ini menjadi sosok yang cukup asing di kalangan masyarakat Indonesia. Tak sedikit pula yang menentang gerakan tersebut karena dianggap bertentangan dengan kebiasaan yang sudah melekat.

Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa seseorang yang pro terhadap childfree adalah sekelompok orang egois yang menentang kodrat dan tidak memikirkan kehidupan di masa tua nanti.

Ujaran “kalau nanti pas tua nggak ada yang ngurusin, baru deh nangis” bertebaran di setiap sudut medsos. Akan tetapi, dari sekian banyak tanggapan negatif yang dilontarkan, kembali lagi yang menentukan apakah hal itu pantas untuk dipilih atau tidak, ialah individu itu sendiri.

Bertahun-tahun lamanya segala tindakan perempuan selalu dikekang oleh berbagai macam alasan kuno, sehingga geraknya terbatasi. Jika melihat dari sisi feminisme dan mengaitkannya dengan hak-hak perempuan, pilihan untuk tidak memiliki anak merupakan salah satu di dalamnya.

Keputusan yang dibuat berdasarkan nurani, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun menjadi alasan utama bahwa childfree bukan sebuah gerakan yang salah. Lingkungan masyarakat sudah seharusnya sadar dan mulai menerima bahwa perempuan memiliki hak dalam menentukan jalannya masing-masing, bukan lagi membatas-batasi mereka.

Terkadang kita pun tak sadar bahwa pemikiran “semua perempuan harus memiliki anak” adalah kondisi yang sebenarnya terlanjur kita telan mentah-mentah sedari kecil dan terpatri di otak. Hingga pada akhirnya kita sadar, bahwa hal itu bukan pilihan kita sendiri, melainkan pilihan lingkungan kita.

Tak hanya berfokus pada hak perempuan, sebenarnya hak anak pun menjadi pertimbangan besar di sini. Seperti yang kita ketahui, tugas menjadi orangtua bukan lah hal yang mudah. Banyak pertimbangan yang harus diperhatikan, khususnya pemahaman mengenai parenting.

Menurut American Psychological Association, parenting ialah sebuah pola asuh yang berakitan dengan kesehatan dan keselamatan anak guna menempuh kehidupan dewasa yang produktif.

Parenting yang gagal akan sangat berdampak pada kondisi anak yang dilahirkan nantinya. Banyak dari orangtua yang tidak memiliki kepekaan terhadap kondisi anaknya terutama pada masa pubertas. Sering kali anak kehilangan arah dalam menentukan pilihan karena kurangnya rangkulan dari orangtua mereka sendiri.

Ketidakpekaan orangtua itu dapat berakibat pada pola asuh yang diterapkan hanya berdasarkan pemikirannya saja tanpa melihat dari sudut pandang seorang anak. Sayangnya, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya peka terhadap hal tersebut.

Ditambah pula oleh isu pernikahan dini dengan rasionalisasi kondisi finansial, menjadi salah satu pendorong konsep childfree itu lahir. Berdasarkan UNICEF dan UNFPA (2018), kondisi ekonomi yang tidak memadai menjadi pemicu terjadinya pernikahan dini, khususnya di Indonesia.

Masih banyak yang beranggapan bahwa pernikahan merupakan sebuah jalan untuk memperoleh rezeki dengan prinsip “banyak anak banyak rezeki”. Sayangnya, kenyataan yang terjadi ialah sebuah kemiskinan.

Dilansir dari cnnindonesia.com, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, kasus kemiskinan di Indonesia masih cukup tinggi dengan jumlah 27,54 juta orang per Bulan Maret 2021.

Kemiskinan yang terjadi pada rumah tangga tentu saja akan membuat sang anak “kecipratan” dampaknya. Kebutuhan gizi yang tak terpenuhi dan tak mendapatkan pendidikan yang layak menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi anak.

Jika ditarik lebih jauh lagi, permasalahan pendidikan dapat memengaruhi tingkat pengangguran yang akhirnya berdampak pada ekonomi negara. Ketika hal itu dibiarkan terus-menerus, tak menutup kemungkinan anak yang lahir nantinya akan senasib seperti orangtuanya saat ia dewasa nanti, hingga terbentuk lah lingkaran setan yang tak dapat memutus tali kemiskinan.

Terlihat bahwa hanya dari satu isu (pernikahan dini), beranak-pinak menghasilkan isu lain yang berkepanjangan.

Di sisi lain, kondisi tersebut bisa semakin parah ketika mental orangtua belum matang/dewasa. Akibatnya muncul masalah baru, yakni kekerasan pada anak. Peluang terjadinya kekerasan pada anak terbuka lebar karena banyak orangtua yang menuangkan amarahnya pada sang anak.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), dari 1 Januari hingga 23 September 2020 terdapat 5.697 kasus kekerasan pada anak di Indonesia

Secara garis besar dapat diketahui bahwa ketidapekaan orangtua, kemiskinan, dan kekerasan menjadi pemicu utama seorang anak tidak dapat terpenuhi hak-haknya dan berujung pada penderitaan.

Melihat banyaknya problematika yang terjadi di lapangan, childfree bukan lah jalan yang buruk. Banyak argumen penguat yang membuat segelintir orang setuju terhadap konsep childfree.

Dapat kita sadari pula, bahwa masih banyak yang harus dikaji mengenai hal-hal yang berkaitan dengan parenting. Minimnya persiapan dan pemahaman mengenai parenting merupakan sebuah ancaman besar yang sesungguhnya jika terus diabaikan.

Menikah dan memiliki anak memang lah sebuah komitmen dan pilihan masing-masing individu, tetapi mempertimbangkan dampak yang terjadi setelahnya pun tidak boleh diabaikan. Memaksakan keadaan yang tidak memadai dengan tetap bersikukuh memiliki seorang anak – hingga berpotensi merusak kehidupannya – terdengar seperti tindakan yang cukup egois.

Tidak ada anak yang meminta untuk dilahirkan, tapi orangtua lah yang memilih untuk melahirkan seorang anak. Ketika memutuskan untuk menjadi orangtua, sadar lah bahwa ada tanggung jawab besar yang menanti di depan.

Ada seorang anak yang masa depannya bergantung pada apa yang kita sediakan, bukan malah memandangnya seperti sebuah instrument investasi!

Editor : Octavio Benedictus


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.