Foto : Waaw

Oleh : Abidah Ardelia Chosal

Major spoiler alert! Read at your own risk!

Bayangkan. Kamu sedang berada pada titik terendah dalam hidupmu. Lalu seorang lelaki tampan datang menghampiri. Ia memberikan kata-kata manis yang selama ini kamu butuhkan. Kamu merasa diistimewakan. Ia memberimu apa pun yang kamu mau. Kamu pun menganggap itu adalah takdir. Wah! Sepertinya lelaki ini memang ditakdirkan untukku! Batinmu.

Namun, semakin lama kamu bersamanya, kamu merasa terus menerus disakiti. Kamu terus melihatnya bersama gadis lain. Kamu pun akhirnya menjauhinya. Tapi bayang-bayangnya terus hinggap dalam ingatanmu.

Suatu ketika, dia mendatangimu dan bilang menyesal akan perbuatannya. Dia mengaku merasa sakit hati karena kamu membencinya. Dia juga bilang bahwa dia mencintaimu. Hatimu pun luluh. Kamu memberinya kesempatan dan menerimanya kembali. Kamu berpikir dia pasti sudah berubah.

Selamat! Kamu telah terjebak dalam perangkap playboy!

Formula di atas mungkin sudah tak asing lagi kita jumpai, baik dalam kisah-kisah Wattpad, novel, maupun film dan drama korea. Pun masih banyak gadis yang terlena dan jatuh hati pada lelaki macam itu. Gimana gak baper, rasanya diistemawakan lelaki tampan nan rupawan yang jadi incaran banyak gadis?

Beberapa tahun terakhir, saya pikir kisah semacam itu sudah usang dan basi. Tentu karena formula yang terus-menerus didaur ulang, padahal memiliki inti kisah yang kurang lebih sama. Namun ternyata, saya masih menemuinya dalam drama korea “Nevertheless”.

Drama korea ini baru saja tamat Agustus lalu. Dibintangi oleh aktor dan aktris yang sedang naik daun, Song Kang dan Han So-hee, banyak orang yang menyaksikan drama ini. Walaupun mendapat rating yang rendah di Korea, “Nevertheless” sukses menarik perhatian banyak orang di luar Korea, bahkan beberapa kali trending di berbagai negara dalam aplikasi streaming Netflix.

Kisahnya pasaran, tentang seorang gadis bernama Yoo Na-bi yang habis dicampakkan oleh mantan pacarnya. Lalu, ia bertemu Park Jae-eon, lelaki tampan kesukaan para gadis. Jae-eon bak sebuah cahaya yang datang meneranginya. Ia membuat Na-bi melupakan mantan pacarnya, melupakan kesedihannya, menemani hari-harinya yang sepi, dan memenuhi perasaannya yang haus akan kasih sayang.

Namun, banyak orang di sekitar Na-bi mewanti-wantinya untuk tidak dekat-dekat dengan Jae-eon. Jae-eon merupakan orang yang mendekati banyak gadis, tetapi tidak ingin memacari mereka. Ia manipulatif dan suka melakukan skinship tanpa izin. Na-bi juga pernah tak sengaja melihat Jae-eon mencium wanita lain di perpustakaan dan di jalan dekat rumahnya. Tetapi apa daya, hati Na-bi berkata lain. Ia sudah terlanjur baper dengan Jae-eon.

Sampai akhirnya, Na-bi sudah tidak kuat lagi karena merasa terus menerus dipermainkan. Ia pun mencoba menjaga jarak dari Jae-eon dan menyuruh lelaki itu untuk tidak menemuinya lagi. Jae-eon merasa sakit hati. Ia akhirnya meminta maaf dan bertanya apakah ada kesempatan kedua untuknya. Na-bi akhirnya luluh. Ia memaafkannya. Dan mereka pun kembali bersama. Ya, ini adalah ending-nya.

Jika kamu sudah menonton dramanya sampai akhir, mungkin kamu berpikir Jae-eon sungguh bertobat. Mungkin kamu berpikir Jae-eon benar-benar menyesali perbuatannya. Masalahnya permisa, playboy dalam dunia nyata tidak seperti itu!!!! Mereka tak akan berubah demi seseorang. Tepatnya, manusia tidak akan bisa berubah karena orang lain. Mungkin kelihatannya memang berubah, padahal sifat aslinya bisa keluar kapan pun di masa depan.

Lex Depraxis, pendiri Kelas Cinta mengatakan bahwa laki-laki yang sudah terbiasa bersikap buruk, apa pun alasannya amat sangat kecil kemungkinannya akan berubah. Orang seperti itu tak akan berubah dalam sekejap. Butuh waktu bertahun-tahun untuk berubah, dan tentunya ia akan berubah karena kemauan dalam dirinya, bukan karena orang lain.

Media massa memang mengesalkan. Saya sering sekali menyaksikan plot kisah fiksi yang menceritakan seorang lelaki bajingan berubah saat bertemu gadis yang tepat. Pun banyak artikel di internet yang terlalu mengagung-agungkan lelaki macam itu. Kamu pasti pernah bertemu dengan artikel semacam ini: “Ini Cara Bikin Playboy Luluh Sama Kamu”.

Kisah fiksi memang hanyalah fiksi, tetapi sayangnya, kisah fiksi dapat mempengaruhi pola pikir orang-orang. Bayangkan berapa banyak gadis di luar sana yang sedang terjebak dengan hubungan toksik, dan setelah menyaksikan drama semacam “Nevertheless”, ia merasa punya harapan bahwa pasangannya akan berubah suatu saat demi dirinya. Padahal, nyatanya harapan tersebut adalah harapan semu.

Belum lagi yang sangat saya sayangkan dari kisah fiksi kebanyakan, kenapa lelaki baik-baik seringkali yang akhirnya tersakiti?

Mungkin pencinta drama korea sering mendengar istilah second lead syndrom. Ini adalah situasi saat kamu lebih menyukai karakter orang ketiga dalam suatu cinta segitiga. Dalam drama korea, seringkali ada karakter orang ketiga yang sangat baik hati, perhatian, dan tulus mencintai, tetapi karakter utama perempuan lebih memilih lelaki yang kasar, suka membentak, posesif, plus ‘sudah berubah’ demi sang gadis. Capek, deh. Bahkan yang membuat geram, ada pola pikir yang coba disematkan dalam kisah fiksi semacam itu: lelaki berengsek itu menyenangkan, lelaki baik-baik itu membosankan.

“Nevertheless” pun begitu. Sang karakter utama perempuan (Yoo Na-bi) lebih memilih Park Jae-eon yang sudah jelas-jelas bajingan dan berengsek dibanding Do-hyeok —teman masa kecil sekaligus orang yang suka padanya— yang baik hati, sopan, perhatian, dan tulus.

Selain “Nevertheless”, ada juga film fenomenal asal Indonesia yang pasti kamu kenal, “Dilan 1990”. Lelaki seperti Dilan, yang berengsek, suka bertengkar, temperamen, dan punya kebiasaan buruk lainnya digambarkan sebagai lelaki yang menggoda, manis, romantis, dan ngebaperin. Pasti banyak gadis yang merasa tertantang memacari lelaki seperti Dilan dan berharap lelaki semacam itu mau berubah menjadi lebih baik karena mereka. Haduh, memangnya perempuan tempat rehabilitasi?

Akhir kata, lelaki badboy, playboy, toxic, dan semacamnya tak akan berubah, apalagi ketika menemukan gadis ‘yang tepat’. Lelaki buruk yang berubah demi seorang gadis hanyalah ada dalam kisah fiksi. Jika kamu sedang berada dalam hubungan toksik, segera keluar, putuskan, hindari, dan jangan berharap ia akan berubah suatu saat nanti. Suatu hubungan seharusnya saling melengkapi dan mengasihi, bukan malah menyakiti. Berhubungan dengan seseorang yang toksik hanya akan membawamu pada penyesalan dan kesengsaraan di masa depan.

They said “Badboys bring heaven to you.” Yes, they are, at first. Nevertheless, they will bring hell to you in the future for sure.

Editor : Tiara Bachtiar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.