Foto : Pojok Review


Judul :I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki
Pengarang :Baek Se Hee
Penerjemah :Hyacinta Louisa
Penerbit :PT. Haru Media Sejahtera
Tahun terbit :2019
Tebal Buku :236 halaman
Genre :
Self-improvement S

Penulis : Mahesa Fadhalika Ninganti

“Hanya ada satu ‘aku’ di dunia. Dengan begitu aku adalah sesuatu yang amat spesial. Diriku adalah sesuatu yang harus aku jaga selamanya.” – Baek Se Hee

Baek Se Hee, seorang penulis wanita kelahiran tahun 1990 berkebangsaan Korea Selatan, merupakan lulusan sastra yang saat ini bekerja di salah satu penerbit. Ia memiliki gangguan kesehatan mental, yaitu distimia yang merupakan bentuk depresi kronis berkepanjangan. Seseorang yang mengalami distimia dapat kehilangan ketertarikan yang normal pada aktivitas sehari-hari, merasa tidak ada harapan dalam hidup, produktivitas berkurang, harga diri yang rendah, serta perasaan tidak layak. Ia sudah merasakannya selama 10 tahun terakhir dan selama waktu itu pula ia telah mengunjungi berbagai psikolog maupun psikiater yang berbeda meski tak kunjung menemukan yang cocok. Hingga akhirnya pada tahun 2017, ia berhasil menemukan rumah sakit yang cocok dan memutuskan untuk menjalani pengobatan rutinnya di rumah sakit tersebut menggunakan metode obat maupun metode konsultasi.

Di dalam “I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki”, Baek Se Hee menjadi tokoh utama dalam bukunya sendiri dan menyampaikan tahap demi tahap konsultasi yang dijalani mengenai kondisi psikisnya secara runtut pada setiap bab. Ia menyampaikan berbagai macam gangguan mental yang ia alami lalu dikemas dan disampaikan dalam wujud dialog antara ia dengan psikiaternya. Bisa dibilang buku ini adalah ‘catatan pengobatan’ antara penulis dan psikiaternya.

Berbagai macam permasalahan psikis yang dialami oleh Baek Se Hee mungkin terlihat sederhana di mata orang yang tidak mengidap mental illness. Namun demikian, sebagai pengidap distimia, Baek Se Hee menunjukkan bahwa permasalahan sederhana dapat menjadi suatu permasalahan yang kompleks apabila memiliki pola pikir yang salah dan cara pandang yang sempit. Dalam bukunya, Baek Se Hee menyampaikan bahwa tekanan tidak hanya berasal dari luar, tetapi justru tekanan terbesarnya berasal dari dalam diri sendiri. Tekanan tersebut dapat diatasi dengan baik apabila seseorang sudah mampu mengenal dirinya sendiri.

Masalah-masalah yang dirasakan dan dihadapi oleh penulis awalnya berasal dari diri sendiri. Solusi maupun jawaban untuk memecahkan masalah yang terbaik juga datang dari diri sendiri. Misalnya, rasa ketakutan dan kecemasan yang berlebihan terhadap penilaian orang lain hingga perasaan menganggap bahwa segala sesuatu yang didapatkan pada masa sekarang merupakan sebuah kegagalan dari masa lalu. Semua solusi yang diberikan oleh psikiater dikembalikan kepada penulis karena seluruh keputusan nantinya akan kembali pada kehidupan penulis.

Penulis mengajak pembaca untuk belajar menghargai dan mencintai diri sendiri. Melihat melalui kacamata Baek Se Hee dengan segala tekanan yang dirasakan dan mengetahui bahwa seluruh tekanan yang dihadapi bermula dari dalam dirinya sendiri. Bahwa untuk mencintai segala hal di luar diri sendiri, baik itu orang lain maupun lingkungan sekitar, harus dimulai dengan mencintai dan menghargai diri sendiri. Yang terlihat baik-baik saja di luar, ternyata menyimpan luka dari masa lalu yang tanpa disadari terus ia bawa sampai pada titik kehidupan saat ini dan akan terus menghantui hari-harinya. Seperti ungkapan Baek Se Hee, “Hanya ada satu ‘aku’ di dunia. Dengan begitu aku adalah sesuatu yang amat spesial. Diriku adalah sesuatu yang harus aku jaga selamanya”.

Di setiap kunjungan konsultasinya, psikiater menanyakan hal-hal mendasar seputar kehidupan sehari-hari yang dijalani oleh Baek Se Hee. Ia menanyakan pula berbagai perasaan yang timbul apabila dihadapkan oleh sebuah situasi yang berbeda-beda. Ada banyak kutipan menarik yang termuat di dalam buku ini.

Melalui buku ini, penulis hanya ingin berbagi pengalamannya secara jujur kepada para pembacanya, bagaimana ia merasa tidak baik-baik saja, lalu meminta saran kepada seseorang yang ahli di bidangnya, kemudian mencoba bangkit dan berusaha menyembuhkan dirinya. Baek Se Hee ingin memberitahu pada pembacanya bahwa pada akhirnya kita hanya perlu sedikit lebih mencintai diri kita sendiri.

Buku berjudul “I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki” ini mengajarkan banyak sekali nilai positif dan sangat insightful untuk para pembacanya. Mengajarkan para pembacanya untuk menyadari betapa pentingnya berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan keadaan saat kondisi lingkungan sekitar tidak berjalan sesuai dengan harapan dan keinginan kita serta saat kita merasa kesulitan tapi tidak tahu bagaimana harus menyikapinya. Para pembaca juga diajarkan untuk berhenti overthinking, memiliki pikiran yang terlalu ekstrem, merasa rendah diri, menetapkan standar yang tinggi atau tidak menaruh ekspektasi yang berlebihan dalam hidup. Permsalahan di atas merupakan permasalahan-permasalahan yang dialami oleh penulis. Pembaca nantinya akan disuguhkan percakapan-percakapan saat Baek Se Hee kali pertama mengunjungi psikiater, bagaimana perasaannya, saran-saran yang diberikan, jawaban dari pertanyaan yang mungkin juga sering atau sedang ada dalam pikiran kita. Pembaca akan diajak ikut merasakan apa yang dirasakan Baek Se Hee dan psikiaternya.

Saran yang diberikan oleh Baek Se Hee pun caranya tidak menggurui, tetapi justru membimbing. Saat membaca percakapan antara Baek Se Hee dengan si psikiater, kita seperti berbicara dengan diri sendiri. Bahwa sebenarnya kita memiliki jawaban atas pertanyaan yang ada di diri kita, namun kita hanya kurang rasional dan malah terkadang salah menyikapinya untuk mendengar jawaban itu. Dan beruntungnya, psikiater yang ditemui Baek Se Hee juga suportif dan memberikan dukungan kepercayaan diri yang dibutuhkan oleh orang-orang seperti Baek Se Hee.

Setelah kita tidak memikirkan hal-hal yang kita tidak suka, kita akan benar-benar merasa nyaman dan senang. Hal-hal sederhana seperti menjadi diri sendiri tanpa peduli orang lain akan beranggapan apa adalah salah satu hal yang bisa membuat kita mencintai diri sendiri. Buku ini bisa jadi bahan belajar, bisa membuat kita lebih aware dengan kondisi diri sendiri juga orang-orang sekitar kita. Setelah membaca buku bergenre self-improvement ini, hati saya terasa sedikit lebih ringan dan cukup meringankan beban saya. Selain itu, saya merasa seperti dibantu dan dituntun untuk menemukan jawaban yang ada di dalam diri saya.

Pada bagian cover buku ini dibuat ilustrasi yang menarik dengan komposisi warna yang colorful. Selain itu, setiap awal bab diberikan pembatas yang disertai kutipan-kutipan yang menarik. Ada kalimat-kalimat utama yang sudah diberi efek stabilo dari penerbit, jadi itu cukup memudahkan pembaca dalam memahaminya. Pada bagian akhir setelah inti malah cukup berkesan karena terasa seperti mengetahui bagian-bagian penting dari pemikiran si penulis. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami oleh orang awam seperti saya. Buku ini sangat cocok dibaca untuk mengisi waktu luang, sekaligus dapat membantu mengenali penyakit distimia dan cara menangani emosi.

Meskipun terkesan clickbait, judul buku ini terdengar unik dan ternyata diambil dari apa yang dirasakan oleh penulis. Menurutnya, pada saat penulis sedang merasa sedih dan ingin menangis, ia juga merasakan sebuah kekosongan di hatinya. Lucunya, meskipun penulis merasa sedih dan kosong, ia tetap pergi untuk makan tteokpokki (makanan Korea berupa tteok dari tepung beras yang dimasak dalam bumbu gochujang yang pedas dan manis).  Ia juga mengatakan setelah makan tteokpokki ia merasakan perasaan yang ambigu. Tidak merasa sedih, tidak pula merasa bahagia.

Di samping itu, ada beberapa istilah psikiatri yang terdengar asing yang termuat dalam percakapan antara psikiater dengan pasien. Sebagai bahan pertimbangan, buku ini mungkin bisa jadi trigger bagi sebagian orang, yaitu dapat memicu suatu kejadian yang tidak diinginkan. Misalnya, emosi pembaca bisa meningkat setelah membaca buku ini. Jika pembaca tidak dapat mengatasi atau menyembuhkan dirinya, bisa jadi pembaca akan merasa gagal dan putus asa, kemudian akan melakukan tindakan yang berbahaya. Jadi, ada baiknya untuk memahami kondisi diri sendiri dulu. Untuk sebagian orang lainnya, buku ini bisa menjadi penyembuh sekaligus penolong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.