Ilustrasi : Mahesa Fadhalika Ninganti/ Kavling10

Oleh : Laras Ciptaning Kinasih

Di era digital seperti saat ini, media sosial (medsos) terkadang menjadi tempat yang tidak ada batasannya. Memposting segala hal untuk mendapatkan engagement itulah tujuan utamanya, tanpa memperhitungkan dampak yang timbul setelahnya.

Belakangan ini marak bermunculan akun medsos tidak resmi yang mencatut nama perguruan tinggi. Akun tersebut mengangkat sisi lain dari suatu perguruan tinggi, salah satu yang menarik perhatian adalah akun Instagram yang mengunggah foto-fotomahasiswa berparas cantik. Memangnya, apa saja kriteria mahasiswa berparas cantik? Soal kriteria atau standar kecantikan sangat subjektif, tergantung penilaian suatu kelompok.

Universitas Brawijaya (UB) menjadi salah satu universitas yang mengalami fenomena tersebut. Seperti halnya akun Instagram @ui.cantik, siapa yang tidak mengenal @ubcantikid? Akun instagram @ubcantikid mengunggah banyak foto mahasiswa UB yang dinilai memiliki paras cantik.

Entah siapa yang menilai, tetapi akun tersebut kini followers-nya sudah menembus 27.000 akun dan terus menjadi primadona. Kehadiran akun tersebut menjadi wahana hiburan, bahkan bagi sebagian orang menjadi wadah “cuci mata”.

Memiliki wajah yang terpampang pada akun seperti itu, dengan ribuan followers mungkin merupakan suatu hal yang perlu dibanggakan. Mendapat banyak pujian ialah impian semua orang. Ujungnya? pamor semakin naik tentunya, followers medsos menjadi naik signifikan dan panggilan endorsement terus berdatangan.

Namun, siapa sangka akun seperti itu ternyata menjadi wadah empuk tindakan sexual harassment? Seperti yang kita ketahui, pelecehan seksual memliki banyak bentuk, salah satunya adalah pelecehan verbal/lisan. Pelecehan verbal ialah pelecehan berupa komentar atau lisan yang berkaitan dengan tubuh atau penampilan seseorang.

Siapa objeknya? Perempuan! Kerap kali ditemukan kalimat-kalimat tak senonoh dari warganet yang membanjiri kolom komentar unggahan akun-akun tersebut. Tak jarang pula, banyak dari pengguna medsos yang melakukan screenshoot atau tangkapan layar pada unggahan yang dianggapnya menarik kemudian membagikannya ke banyak orang.

Alhasil, hasil tangkapan layar yang berisi foto seseorang, tersebar luas tak terkendali. Diikuti dengan komentar yang tentu saja mengandung unsur pelecehan. Para pemilik wajah tersebut pun kadang tidak menyangka akan mendapatkan hal-hal seperti itu.

Kebanyakan dari mereka pasti mengharapkan feedback berupa pujian tulus tanpa adanya unsur pelecehan. Tak ada yang menjamin pula bahwa sang pemilik wajah tidak akan mendapatkan hal-hal buruk di kehidupan nyatanya.

Banyak pihak menganggap hal seperti ini adalah suatu yang remeh kemudian berdalih “kan cuma bercanda”. Sayangnya, persepsi tersebut justru menormalkan budaya mengobjektifikasi perempuan yang berpandangan bahwa sah-sah saja bila perempuan dijadikan bahan pelecehan.

Jika kita sadari, banyak kasus pemerkosaan yang justru bermula dari hal-hal yang dianggap bercanda tersebut. Menormalkan segala jenis tindakan pelecehan tidak bisa terus dimaklumkan. Ketika mendatangkan korban, lantas siapa yang berani bertanggung jawab?

Niat baik ingin mengapresiasi wajah cantik mahasiswa seketika berubah menjadi lahan basah untuk “berburu”.

Sangat disayangkan pula caption dari akun-akun tersebut hanya menampilkan nama, fakultas, serta angkatan. Akan lebih baik jika admin pemilik akun juga mencantumkan prestasi, pengalaman, serta keahlian yang dimiliki mahasiswa, sehingga berpotensi muncul berbagai apresiasi positif yang tentu saja tidak sebatas menyorot paras seseorang.

Tidak berhenti di situ, akun-akun tersebut dengan sangat jelas menekankan stereotip serta standar kecantikan seorang perempuan. Berkulit putih serta memiliki tubuh yang tinggi dan langsing menjadi kriteria cantik yang ditangkap publik.

Penilaian terhadap kecantikan seseorang memang bersifat subjektif. Akan tetapi, perempuan punya cara tersendiri untuk menunjukkan sisi cantik mereka. Menekankan standar dan membiarkannya terus-menerus berkembang di masyarakat bukanlah sebuah jalan yang baik.

Padahal standar kecantikan seperti itu sudah sering kali diubah dan dipatahkan. Banyak sekali kampanye yang menyuarakan bahwa “setiap perempuan itu cantik”. Nampaknya, berbagai macam gerakan perempuan yang mencoba untuk mengeliminasi standar kecantikan seolah percuma tak berbuah hasil.

Fakta di lapangan tidak banyak berubah, standar kecantikan yang menyatakan bahwa cantik itu putih, tinggi, dan langsing tetap melekat dan terus mengakar pada masyarakat.

Sejatinya, seorang perempuan bukan soal paras saja. Bukan hanya menjadi tempat untuk “diburu”. Perempuan memiliki banyak kehebatan dan kemampuan lainnya. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, akan lebih baik jika akun seperti itu juga mencantumkan berbaga imacam prestasi dan pencapaian sang pemilik wajah.

Cara simpel seperti itu lambat laun akan mengubah cara pandang masyarakat mengenai kecantikan. Akan banyak perempuan lain yang tentu terinspirasi untuk berprestasi. Akan banyak yang tergerak dan tersadar bahwa perempuan tidak hanya dilahirkan untuk menjadi sebuah objek saja.

Akan menciptakan kesan bahwa akun seperti @ubcantikid dan sejenisnya menjadi tempat untuk para perempuan-perempuan hebat!

Editor : Octavio Benedictus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.