Dikehidupan yang modern seperti sekarang, tidak mungkin kita tidak berselancar di dunia maya. Semua hal tersedia di dunia maya. Mulai dari tempat belanja kebutuhan sehari-hari, penjual berbagai jasa hingga media sosial yang mampu menghubungkan semua orang dimana pun asalnya. Dalam media sosial pun beragam sekali penggunanya. Mulai dari remaja, orang dewasa sampai para orang tua. Mereka juga memiliki berbagai tujuan dalam mengakses media sosial. Entah itu mencari hiburan, mencari informasi atau berita, memberi informasi sesuai bidang keahlian, menjual produk, memiliki agenda politik ataupun menjadi aktivis.

            Aktivis sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya atau bisa juga diartikan dengan seseorang yang menggerakkan (demonstrasi dan sebagainya) dalam konteks politik dan pemerintahan.[i]

                Tak terhitung jumlah aktivis yang ada di media sosial. Salah satunya pada platform twitter. Pengguna twitter Indonesia sendiri mendapati peringkat nomor lima terbesar di bawah Inggris dan Negara besar lainnya pada tahun 2011.[ii] Kemudian ditambah adanya pandemic pada tahun 2020 pengguna twitter dapat dikatakan semakin meningkat karena penulis sendiri merupakan pengguna aktif twitter dan memang merasa banyak akun baru yang muncul dan semakin menambah ramai cuitan pada twitter. Pengguna aktif twitter Indonesia yang sedemikian besar ini seringkali membuat viral konten-konten hiburan ataupun kemanusiaan. Banyak sekali pengguna twitter yang memohon bantuan di twitter dengan umumnya diawali kalimat “twitter, please do your magic”.

  1. [i] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kamus versi online/daring (dalam jaringan). Diakses pada 22 April 2021, dari https://kbbi.web.id/aktivis
  2. [ii]Indonesia Tingkat Ke Lima Pengguna Twitter.Diakses pada 22 April 2021, dari https://kominfo.go.id/content/detail/2366/%20indonesia-peringkat-lima-penggunatwitter/0/sorotan_media

Dan langkah tersebut seringkali berhasil, apalagi jika berhubungan dengan kemanusiaan atau meminta bantuan hukum. Dengan waktu yang bisa terbilang singkat, cuitan tersebut mendapat retweet, likes dan komentar sampai menjadi topik utama di Twitter.Para aktivis di twitter pun biasanya mengikuti cara diatas. Terlebih bagi aktivis-aktivis baru. Berbeda dengan aktivis yang telah lama menyuarakan keresahannya di internet, terutama Twitter biasanya telah memiliki basis pendukung tersendiri sehingga lebih mudah bagi sang aktivis untuk mendapat dukungan.

            Menggunakan Twitter sebagai lahan pendukung atau mencari massa oleh aktivis merupakan pilihan yang sangat tepat. Tampilan Twitter yang menonjolkan teks dan membuat utas dapat mempermudah aktivis dalam menyuarakan agendanya. Tampilan linimasa Twitter yang memudahkan penggunanya untuk berkomentar juga mempermudah aktivis dalam menjelaskan agendanya dan menepis tuduhan yang dilontarkan pengguna twitter pada agendanya. Tak hanya itu, fitur quote tweet juga semakin menambah seru forum diskusi di Twitter, sampai-sampai ada istilah Twitwar di Twitter. Hal ini merujuk pada frekuensi berdebat di Twitter yang seakan tidak ada habisnya karena pada hampir semua hal yang viral di Twitter terdapat perdebatan didalamnya. Kalau berbicara tentang aktivis, pasti sebagian masyarakat Indonesia mengidentikkan mereka orang-orang sederhana yang hidup apa adanya dan tujuan hidupnya didedikasikan untuk mendukung dan menyuarakan suara para masyarakat yang tertindas. Tetapi aktivis modern era masa kini tidak semuanya seperti itu. Banyak aktivis yang hidup tanpa kekurangan dan nyaman tetapi masih menggaungkan suaranya untuk sekelompok masyarakat yang dirasa membutuhkan bantuan dan dukungan. Yang paling banyak ditemui di Twitter adalah aktivis kemanusiaan, politik dan lingkungan. Kebanyakan malah mejadi satu ‘paket’.

            Media massa biasanya sangat ramai saat terjadi demo ataupun muncul kebijakan baru dari pemerintah. Tak terkecuali Twitter. Contohnya saat demo tahun 2019 yang menuntut agar Presiden membatalkan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) dan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Media massa ramai memberitakan keadaan lapangan saat demo dan pasca demo. Tak sedikit mahasiswa dan buruh yang menjadi aksi kekerasan para aparat saat demo. Hal ini pun segera menjadi perhatian para aktivis, khususnya para aktivis kemanusiaan dan politik.

            Tak sedikit para aktivis kemanusiaan dan twitter pada saat berlangsungnya demo menggalang bantuan dana untuk konsumsi dan obat-obatan para demonstran. Tak hanya itu, mereka juga aktif dalam memberi info titik-titik yang bisa menjadi tempat ‘sembunyi’ bagi para demonstran saat bentrok dengan aparat keamanan dan titik-titik kerusuhan agar para pengguna jalan tidak terjebak diantara titik kerusuhan. Tentu saja cuitan aktivis ini langsung melambung karena banyak pengguna Twitter yang merasa terbantu, khususnya mereka yang ingin memberi bantuan dana ataupun yang sedang menghindari titik kerusuhan demo.

            Para aktivis Twitter ini biasanya juga paling cepat dalam mendapat berita rencana demo dan mengumpulkan informasi kekerasan yang terjadi saat demo. Para aktivis Twitter ini juga selalu Nampak mengobarkan semangat bagi para demonstran sehingga hampir selalu mendapat simpatik dari pengguna Twitter. Pada moment inilah terasa kebersamaan dan kebhinneka tunggalan muncul karena pengguna Twitter Indonesia tidak peduli suku dan agama saling bahu membahu menggalang dukungan dan simpati demi demonstran yang menuntut kebenaran dan keadilan. Semoga para aktivis selalu berani menggaungkan kebenaran dan membela yang lemah walau terancam dibungkam.

Identitas Penulis
Nama Lengkap: Diana Dewi Betari AriestaAsal Universitas: Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.