Foto mahasiswa angkatan 2019 di depan gedung rektorat. Foto: Afi

MALANG-KAV.10 Setelah tertunda berbulan-bulan, pihak UB akhirnya mengumumkan perihal pembagian Almamater mahasiswa angkatan 2020. Sayangnya, belum ada kejelasan lebih lanjut bagi mahasiswa luar malang yang tidak bisa mengambil almamater secara langsung. Meski telah tersedia google form yang berisi alamat lengkap mahasiswa dan kesediaan membayar ongkir pribadi.

“Disitu tidak dituliskan ongkos kirim ke daerah kita itu berapa. Tidak ada pengumuman lebih lanjut juga (setelah mengisi google form, red), karena di take over oleh rektorat sepenuhnya. Jadi kita kurang mendapatkan informasi juga,” ujar Presiden BEM FIB Iqbal Zahran Naufal saat dimintai keterangan mengenai koordinasi isu almamater pada Kamis, (6/5).

Iqbal menambahkan bahwa pada tanggal 3 Mei sempat dibentuk lingkar advokesma dari EM beserta BEM Fakultas oleh DPM UB. Namun forum itu pun hanya berisi keluh kesah mahasiswa saja.

“Awalnya DPM UB menginginkan masalah pendistribusian almamater ini bekerja sama dengan BEM Fakultas dan DPM Fakultas. Ternyata rektorat mengambil jalan pintas sendiri masalah pembagian ini, tanpa melibatkan BEM maupun DPM di fakultas masing-masing,” jelasnya.

Fajar Nur Ramadhan selaku ketua DPM UB 2021 juga mengatakan bahwa mengenai distribusi almamater merupakan keputusan yang diambil oleh pihak rektorat sendiri. Walaupun pihaknya sudah melakukan pengawalan isu almamter ini sedari awal.

“Kita masih mau ada audiensi dengan DPMF dan BEM bersama rektorat untuk menentukan keputusan bersama. Nah ternyata sebelum ada audiensi, secara mendadak rektorat kemudian mengeluarkan kebijakan tersebut,” terangnya pada Senin, (03/05) lalu.

Fajar menerangkan, DPM sebenarnya memiliki beberapa skema terkait distribusi almamater ini. Salah satunya adalah melimpahkan pembagian ke BEM dan DPMF masing-masing secaa luring untuk semua wilayah. Untuk via online akan diseleksi terlebih dahulu dari segi biaya pengiriman, bisa melalui PJ wilayah agar tidak memakan biaya lebih.

“Untuk sementara, teman teman yang membutuhkan almamater baik untuk pas foto pendaftaran beasiswa, kegiatan lomba, atau kegiatan lain, bisa mengikuti dulu sesuai prosedur. Sementara ini kami masih mengusahakan agar bagaimana almamater ini bisa dikirimkan tanpa biaya dari mahasiswa,” tutup Fajar.

Sisi Pihak Rektorat

Kepala Biro Umum dan Kepegawaian UB, Rujito, menyampaikan bahwa pengiriman almamater ke domisili mahasiswa membutuhkan biaya yang sangat besar. Bahkan hingga mencapai Rp 400.000 per mahasiswa.

“Terus anggaran dari mana kalau kami mengirimkan sebanyak itu?” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa, (04/05). 

Lebih lanjut, berdasarkan keterangan Rujito, Almamater mahasiswa angkatan 2020 sebenarnya sudah tersedia di GOR Pertamina UB sejak Juli tahun lalu. Namun akhirnya baru bisa didistribusikan sebagaimana yang tertera di laman SELMA sejak 30 April lalu. Dengan prioritas mahasiswa berdomisili Malang.

“Kami sering diskusi di lantai 4 terkait dengan itu (keputusan pengiriman, red). Kami juga balik bertanya kepada mahasiswa, menurut mahasiswa seperti apa mekanisme konsep yang baik untuk pendistribusian dengan kondisi yang seperti ini,” jelas Rujito.

Untuk saat ini, pengawalan DPM mengenai pendistribusian almamater 2020 masih akan terus melakukan audiensi bersama BEM, DPMF, serta pihak rektorat terkait keputusan bersama mengenai pendistribusian almamater ini.

Penulis: Laras Ciptaning Kinasih, Nafisah Aulia Rachma, Sifin Astaria
Kontributor: Oyuk Ivani Siagian
Editor: Ranti Fadilah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.