Ilustrasi : Pinterest

MALANG-KAV.10 Seorang mahasiswa sudah sepatutnya menjadi kunci keberlangsungan penerapan disiplin ilmu yang diambilnya di masa depan. Walaupun begitu, selalu terdapat noda atas kelakuan beberapa mahasiswa yang ingin cepat menyelesaikan tugasnya. Ghost writer, menjadi sosok yang tepat bagi mahasiswa.

Entah hanya untuk mendapatkan nilai yang tinggi ataupun sekadar ingin melepas penat menyandang label mahasiswa. Jasa ghost writing, sudah menjadi rahasia umum di dunia pendidikan, dengan kata lain menyewa seseorang untuk mengerjakan tugas, skripsi, tesis ataupun segala hal yang berhubungan dengan karya tulis.

Saya berkesempatan mewawancarai mantan mahasiswa FISIP dari salah satu kampus di Malang yang pernah memanfaatkan ghost writer untuk memuluskan proses penulisan skripsinya. Sebut saja orang itu bernama “Rian”. Ghost writer yang digunakan Rian adalah joki plagiasi. Sepengetahuan Rian, biaya jasa joki plagiasi berkisar antara Rp250.000 – Rp500.000, tergantung tingkat keparahan plagiasi skripsi klien.

Kemudian, pemilik skripsi melakukan negosiasi harga dengan ghost writer dimana ketika kesepakatan harga sudah tercapai, selanjutnya klien hanya menunggu skripsinya jadi saja. Perlu diketahui, tingkat plagiasi mengacu pada syarat ketentuan minimal plagiasi ujian komprehensif, yaitu 10 – 15%.

Mas Rian mengaku menggunakan jasa ini karena ia selalu gagal menekan minimal persentase plagiasi yang dia inginkan. Akhirnya, ia menyerahkan pekerjaannya dengan menyewa ghost writer sebagai jalan pintas dengan imbalan sebesar Rp.250.000.

Rian mengungkapkan alasan lain mahasiswa menggunakan jasa ini adalah karena malas, sudah capek mengurus skripsi, jadwal yang bentrokan (conflicting schedule), dan kesibukan kerja. Itulah berbagai alasan banyak mahasiswa tidak menyanggupi menuntaskan pekerjaan skripsinya dan berujung di tangan ghost writer, cara instan nan mudah.

Cara instan ini sebenarnya terbilang sulit dibuktikan kesalahannya karena pekerjaan yang dihasilkan ghost writer, berupa penelitian dan tulisan-tulisannya adalah hasil dari skill yang mereka miliki.

Berbeda dengan tindakan plagiasi yang mudah dibuktikan karena hanya mengambil karya orang lain tanpa memberikan sumbernya. Sebuah karya tulis bisa dicek keasliannya dengan menggunakan aplikasi Turnitin. Aplikasi ini yang digunakan dosen penguji Rian untuk melihat plagiasi pada skripsinya.

Setelah berhasil mewawancarai Rian, saya kembali berhasil mewawancarai Prof. Dr. Ir. Hendrawan Soetanto, M.Rur. Sc. selaku Guru Besar Fakultas Peternakan UB. Beliau mengungkapkan bahwa belum ada peraturan tegas mengenai ghost writer. Sangat berbeda dengan tindakan plagiasi yang sudah diatur secara tegas.

“Apalagi kalau ini (jasa ghost writer, RED) sulit dibuktikan karena tidak ada bukti yang tertulis antara hitam di atas putih atau di situ ada objek yang bisa dijadikan sebagai objek hukum dalam hal ini,” ujarnya.

Dapat disimpulkan bahwa tindakan plagiasi sudah memiliki perangkat hukum yang jelas karena merupakan bentuk kecurangan. Sebaliknya, ghost writing belum memiliki hukum yang mengatur secara tegas dan malah terkesan “abu-abu” di dunia akademik.

Abu-abunya ghost writer dan tidak diaturnya secara tegas, sebenarnya didasarkan beberapa pendapat yang menyatakan bahwa tindakan ini termasuk ilegal karena tergolong pemalsuan sekaligus klaim hasil kerja karya tulis yang dikerjakan oleh orang lain. Namun, di sisi lain ghost writer dipandang sebagai seseorang dengan tujuan membantu orang lain.

Jadi, ghost writer tidak bisa disalahkan atas jasanya. Akan tetapi, jika hal ini diketahui publik sebetulnya yang akan mendapat aib adalah pengguna jasa ghost writer. Masalah bertambah besar ketika tulisan yang dihasilkan tidak mendapatkan nilai atau pandangan yang bagus dari mata publik maka yang menanggungnya tetap si pengguna jasa tersebut.

Sebenarnya jika kita lihat dari kacamata akademisi Indonesia, praktik ghost writing adalah sebuah tindakan yang salah, baik dari sisi pengguna maupun penawar jasa karena tindakan ini adalah salah satu cara instan seseorang menghasilkan karya tulis dengan mengklaim hasil kerja ghost writer menjadi karya tulisnya. Selain itu, muncul kekhawatiran mengenai ketidakjelasan kapasitas ghost writer yang dipilih sekaligus ketidakjelasan sumber hasil karya tulis yang dihasilkan.

Mahasiswa seakan-akan lari dari tanggung jawabnya dan tidak memberikan kapasitasnya sebagai mahasiswa atas disiplin bidang ilmunya. Ketidakpercayaan diri seorang mahasiswa dalam menghasilkan karya tulis juga menjadi salah satu faktor maraknya ghost writer di lingkungan kampus.

Mereka semakin membentangkan sayapnya disaat bukan hanya mahasiswanya saja yag tergiur jasanya, selesai dan terima jadi, tetapi juga pengajarnya yang dalam beberapa kejadian kasus ini terbongkar dengan skripsi atau tesisnya yang ternyata bukan hasil kerjanya sendiri tetapi ada pihak lain membantu menyelesaikannya.

Seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya tentang kekhawatiran kapasitas si ghost writer sekaligus ketidakjelasan sumber hasil karya tulis yang dihasilkan adalah hal yang dapat membuat bahkan memicu kesalahan fatal pada ilmu pengetahuan bagi yang membaca. Lebih parah lagi, dapat menciptakan kesalahan tafsir atas pendapat yang diambil dari sumber aslinya yang kemudian mengklaim bahwa itu atas pemikirannya sendiri.

Sekilas kasus ini adalah angin lewat di telinga kita namun nyatanya penggunaan jasa pada praktik ini sudah menjadi hal umum dan pasti terjadi di banyak kampus. Melarikan diri dari beban dan hanya berharap nilai tinggi menjadi contoh bagi dunia usaha dan industri untuk tidak hanya mengandalkan seseorang yang melamar dilihat dari IPK-nya saja, tetapi dilihat dari keterampilan dan kompetensinya.

Penulis : Ach Rizal Fahmi Ilhami

Kontributor : Jihan Nabilah Yusmi

Editor : Octavio Benedictus P. Ritung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.