Kesetaraan gender masih menjadi impian meskipun telah diwacanakan sejak jaman dahulu kala. Kesetaraan hanya menjadi ilusi karena nyatanya manusia di muka bumi masih mengkotak-kotakkan gender dan timpang di salah satunya. Tentu saja perempuan menjadi makhluk hidup yang selalu dinomorduakan. Jadi percepatan globalisasi yang telah menepis jarak dan waktu tidak relevan atas kondisi tersebut.

Kekerasan terhadap perempuan terjadi dimana-mana, stereotype, subordinasi, marginalisasi, dominasi, dan permasalahan lain masih menjadi pekerjaan rumah yang menumpuk. Itulah mengapa gerakan perempuan di masa kini mengambil ruang dalam perkembangan digital. Lalu seberapa efektifnya media sosial sebagai ruang gerakan aktivis perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan gender?

Adanya media sosial pada dewasa ini telah menjadikan arus informasi yang mengalir deras dan munculnya gerakan sosial melalui dunia maya adalah sebuah hal inovatif bahkan strategis yang terbukti efektif. Dalam gerakan sosial, perlu diciptakan arena baru untuk memobilisasi civil society dalam mencapai tujuan tertentu (Haleli, 2000: 470). Hal ini juga terjadi dalam gerakan yang dilakukan secara virtual melalui media sosial. Hampir semua lembaga atau komunitas di dunia memiliki media sosial sebagai sarana komunikasi. Bahkan media sosial pun dapat menjadi salah satu ruang yang menyebabkan adanya gerakan seperti dalam hal gender.

Media sosial merupakan wadah kosmopilitanisme yaitu merupakan salah satu kunci dalam pergerakan sosial berdasarkan pemahaman gender (Stivens, 2007: 87). Media sosial bersifat terbuka, cepat, dan informatif sehingga merupakan ruang efektif untuk menyebarkan segala informasi. Beberapa diantara aktivis pejuang gender Indonesia yang aktif menjalankan perannya dengan media sosial agar hak-hak perempuan terpenuhi di ruang publik adalah Kalis Mardiasih, Gita Savitri, Hannah Al Rashid, dan lain-lain.

Tiga nama tersebut adalah gambaran pejuang kesetaraan gender yang tak pernah bosan menjadikan media sosial sebagai ruang untuk mencapai telinga publik. Melalui gambar, video, maupun tulisan, gerakan aktivis perempuan digaungkan agar hak-hak dalam kehidupan perempuan di Indonesia terwujud. Instagram, YouTube, dan Twitter adalah media yang dimanfaatkan oleh ketiganya dengan username @kalis.mardiasih, @hannahalrashid, dan @gitasav. Tindakan para perempuan yang juga disebut sebagai public figure ini tidak langsung mengubah keadaan 180 derajat dan semua cita-cita kesetaraan gender terpenuhi. Namun demikian, wawasan masyarakat luas semakin berkembang setelah konten-konten para pejuang gender dituangkan melalui media sosial.

Berbagai tulisan dan komentar Kalis Mardiasih dalam konten Instagram dan Twitternya, semua konten perempuan Gita Savitri dalam konten YouTube dan Instagram, dan semua dukungan Hannah Al Rashid tentang pentingnya pengesahan RUU PKS efektif mengubah cara berpikir masyarakat khususnya perempuan. Meski RUU PKS belum disahkan, namun telah banyak perhatian yang tertuju pada regulasi yang memberikan banyak perlindungan pada perempuan tersebut. Sebagai seorang artis, Hannah Al Rashid juga menyuarakan hak-hak perempuan yang harus didapatkan di ruang pekerjaannya seperti keamanan dan kenyamanan tanpa adanya pria hidung belang.


Gambar: Hannah Al Rashid dalam aksi bersama @womensmarchjkt tahun 2020
Sumber: Instagram @hannahalrashid

Selaras dengan Hannah, Kalis Mardiasih aktif memberikan eduksi tentang hak-hak perempuan melalui Instagram dan Twitter. Selain itu ia juga menjadi narasumber banyak acara diskusi yang dilakukan secara offline maupun online. Dalam setiap kontennya, Kalis berusaha untuk menguatkan perempuan yang tidak semua berada pada lingkungan yang ramah. Isu-isu di lingkungannya menjadi inspirasi utama tulisan-tulisan Kalis. Tentang janda dan hak-hak yang tidak bisa ia peroleh di masyarakat, tentang Ibu yang terus dianggap sebagai penyumbang dosa suami karena kodratnya, tentang akses pendidikan yang layak diperoleh para perempuan di segala penjuru, dan topik-topik lain yang membuka pikiran para pembacanya. Suara Kalis Mardiasih semakin menarik karena ditambah dengan pengetahuan keagamaannya yang kerap diselipkan dalam konten. Sebagai seorang muslimah dan aktivis perempuan, Kalis berusaha untuk membuka pikiran masyarakat bahwa agama tidak pernah menindas salah satu gender dan memberikan kemuliaan yang sama.

Gambar: Kalis Mardiasih dalam buku “Muslimah Yang Diperdebatkan”
Sumber: Instagram @kalis.mardiasih

Sementara Gita Savitri lebih banyak memanfaatkan YouTube untuk mengingatkan para subscribernya bahwa perempuan dan laki-laki harus setara. Perempuan menjadi cantik tidak bergantung pada bentuk tubuh dan warna kulit yang dimiliki, juga bagaimana komunikasi suami istri yang tidak seharusnya menjadi urusan masyarakat luas. Gita Savitri hidup di Jerman sejak usianya 18 tahun dan telah membuka pikirannya untuk semakin mendukung perempuan mendapatkan hak-haknya. Gita Savitri bahkan mendeklarasikan dirinya bersama perempuan dan kelompok marginal lainnya. Melalui Instagram, Gita Savitri turut terlibat dalam aksi bersama @womensmarchjkt #puandankawanmelawan pada 21 April 2021.

Gambar: Gita Savitri dalam aksi virtual bersama @womensmarchjkt tahun 2021
Sumber: Instagram gitasav

Aksi virtual ini menuntut agar hukum, kebijakan, dan hak asasi manusia ditegakkan seadil-adilnya. Undang-undang yang berpihak pada masyarakat, perempuan, dan kelompok minoritas rentan lainnya didesak untuk disahkan. Sementara kekerasan, diskriminasi, stigma, dan represi harus dihapuskan. Aksi pejuang gender ini menjadikan banyak perempuan menjadi merasa terlindungi atas suara para aktivis perempuan, menjadi percaya diri setelah ditimpa kekerasan, dan memiliki pikiran terbuka bahwa semua gender di dunia memiliki hak yang sama namun kodrat dari masing-masing jelas berbeda. Sebab setara bukanlah sama, namun menjadi terpenuhinya segala hak dalam dirinya.

Media sosial dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyuarakan kesetaraan gender dan pentingnya ruang publik yang aman dan nyaman bagi perempuan. Perkembangan digital dan lahirnya media sosial menjadi ruang bebas untuk perempuan dapat bersuara. Media blog di internet telah berpartisipasi bagi perempuan dalam menyuarakan pendapatnya serta mengembangkan gerakan feminisme (Keller, 2016: 261). Meskipun berawal dari upaya untuk mengkaji ketimpangan antara laki-laki dan perempuan, namun gerakan ini berupaya untuk mengeliminasi dan menemukan formula penyetaraan hak keduanya dalam segala bidang sesuai dengan potensi mereka sebagai manusia (Hubies, 1997: 19). Hal ini menunjukkan bahwa feminisme tidak hanya paham atau gerakan untuk perempuan namun bagaimana setiap gender memiliki tempat yang sama dalam hak dan kewajiban.

Adanya konten tentang perempuan di media sosial juga dapat dilihat di Website Magdalene dan Jurnal Perempuan yang bahkan dapat memunculkan pemahaman gender. Masyarakat Indonesia sudah melek internet sehingga konten-konten tentang perempuan cenderung mudah menyebar dan membawa dampak positif. Selain itu gerakan di media sosial dalam rangka kampanye feminis di beberapa negara juga efektif dan berdampak besar. Contohnya #notbuyingit yang berhasil mencegah beberapa perusahaan untuk mempromosikan iklan dengan menjadikan tubuh perempuan sebagai objek. Gerakan #standwithwendy yang berhasil menggagalkan undang-undang pelarangan perempuan mendapatkan jaminan kesehatan di Texas. Seorang politisi Demokrat berdiri 13 jam tanpa istirahat dan mendapat banyak dukungan sehingga undang-undang tersebut terancam gagal. Gerakan lain adalah #YesAllWomen yang berisi kisah-kisah kekerasan seksual yang diceritakan di Twitter sehingga menghasilkan diskusi dan artikel berkaitan dengan topik tersebut. Oleh karenanya semakin banyak masyarakat yang peduli pada upaya mengurangi kekerasan perempuan dan memberikan hukuman sosial bagi para pelakunya. Tidak hanya itu, hukum pidana juga harus ditindak sehingga menimbulkan efek jera untuk pelaku.

Aksi yang dilakukan di media sosial ditentukan oleh tingginya volume percakapan suatu topik yang disertakan dengan hashtag, mention, dan like yang mendorong reaksi dari akun lainnya untuk ikut serta dalam percakapan dan membangkitkan kesadaran (Anam dkk, 2020: 71). Ketika suatu gerakan mendapat banyak respon dan memberikan dampak secara langsung maka terbukti banyaknya perhatian publik atasnya. Sebuah gerakan dikatakan berhasil jika memiliki pengaruh terhadap sikap publik dan kebijakan atau regulasi. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari adanya sikap publik yang berkaitan atas tema yang digerakkan. Dari beberapa penjelasan yang disebutkan di atas telah membuktikan bahwa gerakan para pejuang perempuan di media sosial terbukti efektif karena mampu mengubah keadaan. Perubahan ini terwujud dalam aksi langsung dari masyarakat secara luas maupun pemahaman publik terhadap isu gender dan pentingnya kesetaraan.

Daftar Pustaka

Buku
Haleli, Abigail, (2000), Understanding Contemporary Society: Theories of the Present, New Delhi: Sage Publications

Hubies, Aida Fitaliya, (1997), Feminisme dan Pemberdayaan Perempuan dalam Dadang, S, Anshori, Membincangkan Feminisme, Bandung: Pustaka Hidayah

Stivens, Maila, (2005), Gender, Rights, and Cosmopolitanisms dalam Anthropology and the New Cosmopolitanisms, New York: Berg

Jurnal
Anam, Khairil, dkk, (2020), Efektivitas Sosial Media dalam Gerakan Sosial Penolakan Reklamasi Teluk Jakarta, Indonesia, Jurnal Sosiologi Pedesaan DOI: 10.22500/8202028955 diakses pada 21 April 2021

Keller, Jessalynn, (2016), Making Activism Accessible: Exploring Girl’s Blogs as Sites of Contemporary Feminist Activism, Girlhood and the Politics of Place https://doi.org/10.2307/j.ctt14jxn16.20 diakses pada 21 April 2021

Internet

Instagram @gitasav https://www.instagram.com/p/CN6sP2RFL-Z/?igshid=1wg4iwrm99n9y diakses pada 22 April 2021

Instagram @hannahalrashid https://www.instagram.com/p/CNsXGbtsfqn/?igshid=3qem4jxc7s0a diakses pada 22 April 2021

Instagram @kalis.mardiasih https://www.instagram.com/p/CNXce_jh8Ut/?igshid=qn3x2p6ziia5 diakses pada 22 April 2021

Identitas Penulis
Nama: Lailatul Farikhah Al Isroiyyah
Asal Universitas: Institut Agama Islam Sunan Giri Bojonegoro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.