Sumber gambar: Freepik

Kebebasan berpendapat merupakan suatu kebebasan yang di inginkan, karena tanpa kebebasan itu sendiri manusia menjadi terbatas oleh sekat-sekat pembatas. Kebebasan berpendapat termasuk menyampaikan kritik yang sebagai sarana mewujudkan adanya demokrasi yang benar terjadi. Saat ini revolusi industri 4.0 yang telah menjadi pintu masuknya era digitalisasi yang menggambarkan perubahan gaya hidup dan perilaku pada individu, kelompok, maupun organisasi (Meranti & Irwansyah, 2018). Era modernisasi memunculkan perkembangan yang signifikan dari  adanya teknologi dan informasi melalui upaya digitalisasi melahirkan berbagai platform media sosial.

Hadirnya media sosial yang semakin populer telah merombak sistem dan arah komunikasi publik yang dari komunikasi satu arah menjadi lebih interaktif. Berdasarkan data pengguna media sosial menurut Pratomo (2019) Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengakses internet terbanyak di dunia, tercatat sebanyak 171 juta penduduk Indonesia menggunakan internet dan persentase 95% diantaranya merupakan pengguna media sosial. Di dukung oleh data yang dirilis wearesocial.com, menurut Kemp (2018) jumlah pengguna media sosial mencapai 3,196 juta dan Indonesia menempati peringkat tiga tertinggi jumlah pengguna media sosial terbanyak di dunia (Kemp, 2018). Dengan fakta yang bersumber dari data pengguna media sosial diatas yang tinggi itulah, menunjukkan  bahwa  media  sosial merupakan pasar yang sangat potensial dalam industri komunikasi.

Jejaring media sosial dapat menjadi penyebaran informasi yang beragam, serta tujuan dan motif  tertentu dari pengguna. Kondisi pengguna media sosial yang tinggi dapat dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menyebarkan suatu informasi dengan tujuan tertentu, misalnya  untuk  promosi  produk, membangun branding individu, kelompok maupun organisasi, serta melakukan kampanye hitam, propaganda atau teror (Camil, Attamimi, & Esti, 2017).

Dengan tingkat popularitas pengguna media sosial yang tinggi menyebabkan fungsi dari eksistensi media sosial mulai dimanfaatkan untuk memuluskan agenda besar seperti politik dan bisnis. Salah satunya kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan agenda tersebut dengan menggiring opini publik menggunakan jasa buzzer. Buzzer merupakan salah satu oknum perorangan atau kelompok tertentu yang sengaja dibentuk oleh para pelaku kepentingan tertentu di media sosial yang memiliki tujuan berbeda dengan opinion leader atau influencer, humas, pengiklan. Buzzer dapat diidentifikasi dengan melihat tujuannya aktif bersosial media, seperti pesan yang disampaikan untuk menyebarkan keraguan, tipu daya, dan menutup kritik agar dapat melindungi suatu individu, kelompok, atau organisasi dari citra buruk.

Kita perlu menyamakan persepsi terlebih dahulu bahwa sejatinya buzzer ini merupakan praktik propagandis, memiliki agenda yang lebih serius tak hanya untuk memviralkan pesan (Farkas & Neumayer, 2020). Kemampuan buzzer untuk menggiring opini publik sudah tidak diragukan lagi, karena dapat dengan mudah menyebarkan pesan atau isu secara masif dilakukan melalui tulisan, narasi, gambar, meme, ataupun video. Untuk menyebarluaskan pesan tertentu buzzer memanfaatkan media sosial yang memiliki peran sentral komunikasi dengan menggunakan platform-platform berbasis user generated content atau user generated media seperti YouTube, maupun dengan menciptakan situs tertentu yang merupakan buatan dari mereka sendiri. Tujuannya tidak lain tidak bukan adalah semakin banyak jumlah informasi yang disebar melalui berbagai platform, maka semakin banyak orang yang akan terpapar informasi tersebut. Kemampuan dari buzzer tidak hanya terbatas penyebaran informasi melalui platfrom-platfrom media sosial saja, melainkan juga dapat  memanfaatkan teknologi digital yang canggih.

Media sosial menjadi tempat yang sangat sesuai untuk penyebaran informasi, terlebih lagi ada fitur algoritma pada mesin pencari yang dapat memetakan konten yang sering dibuka oleh penggunanya sehingga dapat diketahui seberapa banyak orang yang menaruh perhatian akan sebuah informasi di internet (Morrar, Arman, & Mousa, 2017).

Menurut Webster (2014) dalam bukunya yang berjudul The Marketplace of Attention, perhatian audiens yang ada dalam media sosial tidak hanya terfokus pada pesan yang berkualitas, namun struktur like, comment, dan share mendapat perhatian lebih dari para audiens. Buzzer memanfaatkan struktur yang menjadi perhatian para audiens untuk dapat memviralkan pesan, agenda, atau propaganda mereka agardapat menjadi perhatian publik. Praktik buzzer ini sudah menjadi ajang politik, bisnis, dan kepentingan tertentu bagi segelintir pihak. Ada beberapa pihak, agen, atau orang yang sengaja membayar para buzzer dan yang jelas ini sudah menjadi fenomena. Fenomena buzzer sudah sangat mengkhawatirkan, karena buzzer ini telah menguasai ruang percakapan publik dan mendegradasi karya jurnalistik media arus utama penyampain informasi bagi masyarakat luas (Ramadlan et al., 2019).

Sampai saat ini media sosial masih menjadi bagian sentral dalam mempengaruhi opini masyarakat terhadap berbagai situasi dalam negeri. Kelebihan dari platform media sosial sudah terbukti sesuai data dengan penggunaan yang tinggi dan intens oleh masyarakat dan yang jauh lebih menarik ketimbang media arus utama. Jika media sosial terus disalahgunakan oleh para buzzer, maka itu akan berbahaya bagi demokrasi Kerja buzzer di media sosial relatif hanya membenturkan opini publik dan menutup kritik, serta tidak menjamin informasi yang diberikan memuat kebenaran. Hal tersebut memiliki perbedaan dengan media arus utama yang harus melewati beberapa proses seperti: kurasi, seleksi, pengeditan, klarifikasi, dan verifikasi (Prasetyanti, 2018).

Aksi buzzer ini darurat dan celakanya aksi yang dilakukan sudah semakin majemuk, serta tidak hanya sebatas penggiringan opini saja. Contoh nyata yang sering terjadi ketika pejabat publik yang merasa terganggu oleh salah satu liputan media, lalu dengan bantuan buzzer media itu dihajar dengan melakukan doxing terhadap wartawan. Tindakan yang seperti inilah yang berbahaya karena termasuk mencederai demokrasi dan kebebasan pers di Indonesia. Oleh karena itu, beberapa upaya dapat dilakukan sebagai bentuk solusi untuk setidaknya meredam aksi buzzer yang semakin marak terjadi. Pertama media arus utama harus menyusun agenda setting yang jelas dan perlu dikawal bersama, kedua media aktif untuk meminta tanggung jawab terhadap platform media sosial yang menyebarkan berita bohong, ketiga dengan memperkuat divisi fact checking dan membangun kolaborasi lintas media.

Daftar Pustaka

Camil, R., Attamimi, N.H. and Esti, K., (2017). Dibalik fenomena buzzer: Memahami lanskap industri dan pengaruh buzzer di Indonesia. Centre for Innovation Policy and Governance1(1), pp.1-30.

Farkas, J. and Neumayer, C., 2020. Disguised propaganda from digital to social media. Second international handbook of internet research, pp.707-723.

Kemp, S. (2018). Digital in 2018: World Internet Users Pass The Billion Mark. Available from: https://wearesocial.com/blog/2018/0 1/global-digital-report-2018.

Meranti, & Irwansyah. (2018). Kajian Humas Digital: Transformasi dan kontribusi Industri 4.0 pada Stratejik Kehumasan. Jurnal Teknologi Informasi Dan Komunikasi, 7(1), 27–36.

Morrar, R., Arman, H. and Mousa, S., 2017. The fourth industrial revolution (Industry 4.0): A social innovation perspective. Technology Innovation Management Review7(11), pp.12-20.

Prasetyanti, D.E., 2018. Manajemen Redaksi Media Online Tirto. id dalam Upaya Mewujudkan Jurnalisme Data.

Pratomo, Y. (2019), “APJII: Jumlah Pengguna Internet di Indonesia Tembus 171 Juta Jiwa,” Available: https://tekno.kompas.com/read/2019/05/16/0326003 7/apjii-jumlah-pengguna-internet-di-indonesiatembus-171-juta-jiwa

Ramadlan, M.F.S., Wahid, A., Rakhmawati, F.Y., Destrity, N.A., Hair, A., Harjo, I.W.W. and Utaminingsih, A., 2019. Media, Kebudayaan, dan Demokrasi: Dinamika dan Tantangannya di Indonesia Kontemporer. Universitas Brawijaya Press.

Webster, J.G., 2014. The marketplace of attention: How audiences take shape in a digital age. Mit Press

Identitas Penulis
Nama Lengkap: Edoardus Gilang Wardana
Asal Universitas: Universitas Brawijaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.