Mike, perwakilan Sapi Betina. Sumber: Youtube “SantozArt Channel”

Judul: MARJINAL – Sapi Betina Untuk Semua (2016)
Produser: SantozArt Channel
Genre: Dokumenter
Durasi: 13 menit

Penulis: Hamim Maulana Rahman

Sebuah dokumenter pada tiap karya visual selalu ingin mengabadikan sebuah peristiwa atau identitas agar tetap ada dan memberi sebuah nilai pelajaran. Berlaku juga untuk sebuah dokumenter dengan judul “MARJINAL – Sapi Betina Untuk Semua”. Dokumenter yang berdurasi hampir tiga belas menit ini sudah diunggah tiga tahun lalu (tahun 2017) oleh SantozArt Channel. Begitu membuka dokumenter ini, kalian akan disuguhkan musik yang mungkin baru pertama kali kalian dengarkan; Alunan musik dari instrumen bass dan gitar yang menjadi ciri khas punk. Hal-hal seperti malam, gelap, abu-abu, tatto, teriakan, keramaian, dan kebahagiaan akan membantu menjelaskan perkenalan singkat tersebut. Mari kita bebaskan pikiran kita sejenak!

Dari intro video kemudian berganti menjadi sebuah perkenalan singkat dengan perwakilan kelompok Punk Kolektif Sapi Betina bernama Mike. Mike berada di atas motornya, terlihat santai, lalu mulai berbicara. Penampilan yang khas dari identitas mereka sebagai bagian dari kelompok punk membuat penulis kagum, begitu juga cara penyampaiannya yang santai. Nama “Sapi Betina” sendiri terinispirasi oleh cita-cita mereka yang ingin membuat sebuah peternakan.

Di awal cerita, ia dengan tegas menekankan bahwa mereka lah yang datang ke masyarakat, bukan masyarakat yang kemudian memahami mereka. Ucapan Mike tersebut benar-benar membukakan pandangan masyarakat yang selama ini mungkin keliru. Tak heran, komunitas punk cukup termarjinalkan dari masyarakat dewasa ini.

Bu Leni, sebagai warga dari Pondok Kopi memberikan tanggapan atas hadirnya kelompok punk. Perasaan resah acap kali menghampirinya ketika ia tahu anaknya pergi keluyuran, jarang pulang, bolos sekolah, berhenti sekolah, dan malah memilih ikut komunitas punk. Mike kemudian menjawab keresahan itu, “Kekhawatiran atas sikap anaknya sah-sah saja”. Ia percaya bahwa ada beberapa standar yang memang dipercaya oleh masyarakat.

Scene berikutnya menampilkan komunitas punk Sapi Betina berkumpul bersama di tempat “Ruang Operasi Tato”. Mereka mengantri untuk ditato dengan tarif yang sudah terpampang di pintu depan, sebesar Rp. 9 ribu. Salah satu dari mereka sangat teliti dan terampil memegang mesin tato. Selain itu, salah dari mereka juga ada yang menyablon dan juga memberi makan mentok/itik yang mereka ternak. Mereka juga mengadakan kegiatan sablon kaos bersama masyarakat. Terlihat banyak anak-anak yang cukup tertarik serta warga yang juga melihat-lihat kegiatan mereka. Mike juga terlihat mengobrol akrab dan bernyanyi bersama mereka. Beberapa kaos hasil sablonan dijemur, tertulis kata-kata “belajar sama-sama” yang juga terjadi pada kawan-kawan saat membaca tulisan ini.

Berganti pada beberapa rekaman video yang menampilkan keseruan mereka saat konser di atas panggung. Hal itu mereka lakukakan untuk tetap mendapatkan modal demi tujuan mereka bersama. Banyak band lain juga turut mengisi acara, yang menari serta menyanyi bersamaan menyalakan euphoria malam mereka. Tak habis sampai di situ, mereka yang terkumpul dalam satu momen juga saling bercerita tanpa adanya permusuhan. Menjadi pelajaran bagi kita semua yang terkadang masih berpikiran sempit dan acuh dengan sekeliling kita. Pada akhirnya, keterbukaan pikiran untuk saling mengenal akan membuat kita memberikan rasa respect (saling menghormati) satu sama lain. Tidak perlu adanya kata marjinal dalam kamus masyarakat kita yang katanya nusantara ini.

Dokumenter ini menarik dan unik, sebab dikemas tanpa ada pewawancara dan tanpa memunculkan pertanyaan. Dokumenter ini seolah mengalir tanpa putus mendengarkan jawaban-jawaban dari Mike. Hal ini pula yang bagi penulis sangat menarik karena bisa memberikan fokus pada satu hal tertentu saja. Penulis mengira, dokumenter ini memang diciptakan mungkin untuk menjawab itu semua. Memang selama ini, berdasarkan pengamatan penulis, anak-anak punk hanya duduk di pinggir jalan tanpa melakukan aktivitas. Hal ini lah yang kemudian memunculkan kesan jauh dari kata baik.

Durasi dokumenter ini memang terbilang pendek. Hanya sekitar 13 menit lamanya. Meski begitu, penulis merasa pesan dari dokumenter ini sudah bisa tersampaikan, yakni mengenalkan identitas, berbeda dengan dokumenter perisitwa atau sejarah. Kualitas video ini terbilang masih kurang. Belum lagi pada beberapa bagian video, terdapat perkataan di dalam dialog yang tidak terdengar karena bercampur dengan backsound dan latar keadaan saat itu yang memang tengah ramai. Selain itu, pengenalan identitas produser atua pembuat dokumenter juga tidak begitu jelas.

Tetapi dokumenter ini menurut penulis sangat penting untuk masyarakat luas agar mengenal satu sama lain tanpa adanya jurang yang berjarak. Masyarakat yang semakin modern akan lebih sulit bersosial di kehidupan nyata karena fokus dengan dunia maya. Bagaimana bisa saling memahami ketika hanya lalu lalang dengan sapaan singkat. Bagaimana memahami komunitas punk atau golongan lainnya jika tetap seperti ini. Jarak yang membatasi kita dengan mereka perlu kita hilangkan, rasa empati serta kemauan kita untuk mencoba memahami satu sama lain sangat dibutuhkan dan disebarluaskan agar steorotip buruk yang menjamur bisa kering dan mati. Tidak ada marjinal kawan2, yang ada kita– Mike.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.