Ilustrasi : Ach Rizal Fahmi

Oleh : Mahesa Fadhalika Ninganti

Ketika mendengar kata punk, yang ada dipikiran kita adalah sekelompok anak muda yang berpenampilan urakan dengan gaya rambut mohawk. Masyarakat kerap mengaitkan mereka dengan anak jalanan yang suka membuat gaduh. Namun apakah pandangan masyarakat tersebut sudah objektif ? Sebenarnya apa dan bagaimana kelompok punk tersebut?

Punk adalah kelompok subjektif yang memiliki gaya dan kebudayaannya sendiri. Punk lahir di London, Inggris sekitar tahun 1980-an yang kemudian berkembang pesat di Amerika. Perkembangan yang pesat dipicu oleh permasalahan ekonomi dan keuangan akibat turunnya moral masyarakat khususnya para pemerintah yang berkuasa saat itu. Hal itu dapat dilihat dari tingkat pengangguran dan kasus kriminal yang melonjak tinggi. Kelompok punk yang notabenenya berasal dari golongan muda kelas pekerja kemudian meyindir pemerintah dengan cara menciptakan lagu-lagu dengan musik dan lirik yang kasar. Musik seolah menjadi alat kritik yang efektif bagi kelompok punk dengan liriknya yang bercerita tentang masalah politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya, dan bahkan masalah agama.

Punk identik dengan aliran style yang mereka anut. Mereka kerap berpenampilan nyentrik dengan model dan warna rambut yang mencolok, memakai banyak aksesori dan lain sebagainya. Punk umumnya berkumpul dan beraktivitas di jalanan. Seringkali memang terdapat tindakan anarkis yang dilakukan oleh kelompok punk. Namun tindakan tersebut cenderung memiliki konotasi negatif dari masyarakat, tanpa ada keinginan untuk mengetahui mengapa dan apa tujuan tindakan anarkis itu dilakukan. Selain itu, kerapkali masyarakat melabeli kelompok punk sebagai kaum pemaham free sex, kaum LGBT, kaum yang sukanya hura-hura, korban broken home, dan macam-macam pandangan buruk lainnya.

Persepsi masyarakat tersebut setidaknya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi faktor pengalaman, ekspektasi, dan budaya. Pengalaman yang dialami oleh sebagian masyarakat, misalnya saat mereka bertemu atau bahkan sampai diganggu anak muda di jalanan yang berpenampilan urakan, yang menyerupai kelompok punk, padahal mereka hanya anak jalanan yang bukan bagian dari kelompok punk. Lagi-lagi ekspektasi masyarakat terhadap anak punk terlalu buruk sampai tidak mau tahu punk itu seperti apa dan bagaimana kehidupannya. Kebiasaan serta kebudayaan kelompok punk ini juga dinilai tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, sehingga memberikan kesan yang kurang baik di mata masyarakat.

Selain itu ada faktor eksternal yang meliputi cara termudah masyarakat untuk membedakan kelompok punk. Segala sesuatu yang digunakan kelompok punk dapat menarik perhatian baik dari segi warna, bentuk atau gerakan. Karena sesuatu yang baru akan lebih menarik perhatian orang banyak dari pada yang sudah diketahui sebelumnya. Style dan fashion kelompok punk terkesan unik dengan riasan manik-manik yang dibuat dengan tangan mereka sendiri sehingga menarik perhatian masyarakat yang mayoritas berpenampilan standar. Jadi apa yang digunakan oleh kelompok punk baik pakaiannya, warna dan model rambutnya, aksesorinya, serta perintilan-perintilan lainnya terlihat berbeda dan tentu menarik perhatian.

Interpretasi masyarakat terhadap kaum punk ini menunjukkan hal negatif yaitu gaya hidup kaum punk yang cenderung menyimpang seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, mabuk-mabukan, narkoba, free sex dan bertindak semaunya sendiri yang mengakibatkan pandangan masyarakat akan kaum punk adalah berandal yang tidak mempunyai masa depan jelas atau sering disebut dengan madesu (masa depan suram). Sehingga, dapat disimpulkan bahwa interpretasi masyarakat lebih kearah negatif dibandingkan positif. Hal tersebut lagi-lagi karena gaya dan penampilan kaum punk yang tidak sesuai dengan etika dan budaya Indonesia sehingga mendapat pandangan sebelah mata dari masyarakat.

Jadi dapat diketahui bahwa kaum punk tak selamanya seperti anak jalanan yang tidak mempunyai keluarga. Kaum punk juga bukanlah penyakit masyarakat dan para pemilik rambut mohawk tersebut belum tentu memiliki hati yang buruk. Gaya dan penampilan kaum punk memang terkesan urakan dan seenaknya, namun sebagai masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana kehidupan kaum punk, kita tidak bisa seenaknya memberikan perlakuan diskriminasi hanya dari penampilan atau gaya berpakaian seseorang.

Editor : Khairunnisa Andari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.