Gambar : Twitter

Oleh : Aurelya Dinda Pratiwi

Akhir-akhir ini kita mungkin jenuh dan lesu karena pusing memikirkan kapan pandemi ini akan berakhir. Untuk menghindari rasa bosan, kita bisa mencari dan mencoba hal baru atau kembali pada hobi lama yang tak sempat kita lakukan. Maraton nonton drama Korea adalah salah satunya.

Apabila kalian ingin menyegarkan mata dan pikiran, Move to Heaven bisa jadi salah satu pilihan. Tayang perdana pada 14 Mei 2021 di Netflix, drama ini diketahui terinspirasi oleh esai “Things Left Behind” karya Kim Sae-byul. Disutradarai Kim Sung-ho, drama ini menampilkan Han Geu-ru (Tang Joon-sang), Cho Sang-gu (Lee Je-hoon), Han Jeong-u (Ji Jin-hee), Na-mu (Hong Seung-hee), dan beberapa pemeran pendukung lainnya.

Bercerita tentang layanan membersihkan tempat orang-orang meninggal bernama Move to Heaven yang merupakan milik Han Jeong-u dan Han Geu-ru, anak berusia 20 tahun yang mengidap sindrom asperger. Layanan ini sangat istimewa dan berbeda karena mereka akan menyimpan barang-barang mendiang ke dalam sebuah kotak kuning yang akan diberikan kepada wali atau orang yang bersangkutan. Kotak kuning inilah yang akan membawa kita kepada kisah-kisah menyentuh hati.

Di awal episode, kita akan bertemu dengan Cho Sang-gu—paman sekaligus adik tiri dari Han Jeong-u. Setelah kepergian kakaknya, Cho Sang-gu dipilih menjadi wali dari Han Geu-ru dan harus menjalani masa percobaan selama tiga bulan hidup bersama Geu-ru. Bersama mereka, kita akan bertemu banyak cerita.

Drama ini hanya memiliki sepuluh episode dengan beragam tema yang diangkat di tiap episodenya. Selain memiliki ragam tema, ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita ambil dari setiap kematian yang ada di drama ini. Berikut penjelasan tentang hal tersebut.

Kematian Kim Seon-u

Pada episode pertama kita akan disajikan kisah Kim Seoun-u, seorang karyawan magang di suatu perusahaan yang mengalami kecelakaan kerja. Singkat cerita, Kim Seoun-u meninggal di kediamannya dan perusahaan menyampaikan kepada orang tua Kim Seoun-u bahwa mereka tidak mau bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut. Mereka pun pergi setelah memberi sedikit uang dengan alasan “tanggung jawab moral”. Setelah pergi, salah seorang dari mereka mengucapkan bahwa mereka beruntung dan bersyukur karena orang tua Pak Kim berasal dari desa dan juga tuna rungu wicara. Dengan keadaan itu, orang tua Pak Kim tidak akan membuat keributan yang menyebabkan beberapa orang dari perusahaan dipecat. Pernyataan itu kemudian membuat Han Jeong-u marah dan kemudian menarik salah seorang dari mereka untuk mendengarkan isi hati ibu Pak Kim.

Ambil ini kembali! Bahkan jika aku mati tanpa uang itu, aku tetap tak mau menerima sepeserpun demi mendiang putraku.

Dari kematian ini kita bisa belajar bahwa perusahaan wajib bertanggung jawab apabila ada pegawainya yang mengalami kecelakaan kerja. Dari sisi lain, kita bisa belajar bahwa ketulusan cinta orang tua kepada anak begitu pula anak kepada orang tua, tidak harus selalu terucapkan oleh kata.

Kematian Han Jeong-u

Anytime could be the last time. Bagian tersedih yang harus ditonton di episode satu adalah kita harus melihat Geu-ru ditinggalkan oleh ayahnya. Han Jeong-u meninggal setelah mengalami gagal jantung di perjalanan menjemput Geu-ru. Ge-ru tidak pernah menyangka bahwa kalimat ini akan menjadi pesan terakhir yang ayahnya sampaikan.

            “Nak, Ayah akan selalu berada di sisimu. Selalu ingat itu.

Kita tidak pernah tahu kapan terakhir kali kita akan bertemu seseorang. Mungkin detik ini, mungkin nanti, ataupun esok hari. Kita tidak pernah tahu. Sedikit menakutkan mengingat fakta bahwa waktu bisa mengambil sesuatu yang berharga dari kita secara tiba-tiba. Oleh sebab itu, hargai setiap waktu bersama dengan mereka yang kita sayangi.

Kematian Lee Yeoung-sun

Di episode dua kita diajak menyelami kisah seorang nenek bernama Lee Yeoung-sun. Dia meninggal dengan keadaan tempat tidurnya dipenuhi dengan darah dan belatung karena mayatnya baru ditemukan setelah tiga minggu. Saat membersihkan TKP, Geu-ru menemukan banyak uang kertas berlumuran darah di bawah selimut Ibu Lee dan mencoba mencari pesan yang hendak disampaikan dari kertas-kertas bukti penarikan bank dan uang tunai tersebut.

Berlanjut, ternyata Ibu Lee mengambil uang-uang itu untuk membelikan putranya (Park Cheoul-u) setelan. Singkat cerita, Park Cheoul-u tidak peduli pada kotak berisi barang-barang berharga yang diberikan Geu-ru dan hanya menginginkan uang ibunya. Setelah kotak itu jatuh, dia menemukan satu barang pemberian dirinya kepada Ibu Lee saat mendapat gaji pertamanya pada tahun 1988. Sontak Park Cheoul menangis pada kenyataan bahwa sampai akhir hidupnya, baju itu tidak pernah dipakai oleh ibunya dan ibunya justru ingin membelikan setelan untuk dirinya.

Dari sini kita belajar bahwa cinta ibu kepada anak tidak butuh alasan dan tanpa pamrih. Bahkan, meskipun anak dan menantunya tidak pernah menjenguk dia yang hidup seorang diri, Ibu Lee tetap mencoba membahagiakan putra semata wayangnya sampai akhir hidupnya.

Kematian Lee Seoun-yeong

Episode empat mengangkat tema toxic relationship dengan menghadirkan cerita Nona Lee Seon-yeong mati dibunuh oleh Kim Yong-u—mantan tunangannya—di sebuah apartemen di Seoul. Kematian ini disebabkan karena obsesi Kim Yong-u untuk segera menikahinya. Setelah membunuhnya, dia bahkan memberi kesaksian palsu dengan mengatakan bahwa Nona Lee yang awalnya mencoba membunuh dirinya. Untungnya, Geu-ru dan pamannya berhasil menemukan CCTV di apartemen. Kebenaran pun terungkap. Kim Yong-u lah yang secara sengaja menusuk Nona Lee hingga dia mati.

Dari kematian Nona Lee, kita belajar bahwa segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik adanya, termasuk rasa cinta. Kim Yong-u mencintai Nona Lee, tetapi rasa cinta itu kemudian menjadi obsesi yang harus menghilangkan nyawa. Rasa cinta kita terhadap seseorang harusnya tidak menimbulkan rasa takut dan sakit, apalagi sampai merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kematian Jung Soo-hyun

Jung Soo-hyun, salah seorang dokter di Rumah Sakit Universitas Seha yang mati terbunuh oleh salah satu pasien. Saat membersihkan barang-barang mendiang, Geu-ru menemukan satu surat untuk seseorang yang kemudian diketahui adalah kekasih Jung Soo-hyun. Jung Soo-hyun memiliki pacar seorang cellist bernama Ian Park. Cinta tak biasa mereka terhalang oleh restu orang tua Pak Jung, terutama ayahnya. Sampai suatu ketika Ian membuka kotak berisi penyesalan, harapan, dan masa depan yang tidak akan pernah terwujud bagi keduanya.

Sebagaimana negara-negara Asia kebanyakan, kisah cinta sesama jenis (LGBT) masih dianggap tabu dan adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Bersama kisah cinta mereka, kita diajak melihat cinta yang benar-benar tulus dan mengharukan.

Kematian Nona Lee Mi-seon dan Pak Kim In-su

Kedua pasangan ini memutuskan untuk meninggalkan dunia bersama-sama. Mereka berdua meminum obat tidur yang melebihi dosis hingga akhirnya meninggal bersama dengan bergandeng tangan di tempat tidur mereka. Bunuh diri ini ternyata telah direncanakan karena Pak Kim menelepon Move to Heaven untuk datang ke rumahnya tiga hari setelah ia menelepon. Saat proses pembersihan, Sang-gu menemukan pintu khusus yang ternyata adalah sebuah taman kecil berisi berbagai macam bunga yang indah. Pemakaman mereka tidak dihadiri banyak orang karena tidak ada catatan mengenai keluarga pasangan suami-istri ini. Namun, karena kecerdasan Geu-ru, banyak orang yang kemudian bergiliran datang ke pemakaman mereka. Mereka memang mati dengan cara bunuh diri, tetapi kita bisa belajar tentang bagaimana mereka tetap saling menemani dan mencintai sampai akhir hayat.

Kematian Kang Seong-min (Matthew Green)

Kang Seong-min meninggal seorang diri tanpa tahu siapa ibu kandungnya. Sejak bayi, Seong-min diadopsi oleh pasangan suami istri asal Amerika. Singkat cerita, ia dideportasi dan kembali ke Korea Selatan. Dengan keadaan krisis identitas, ia berusaha mencari ibu kandungnya yang berakhir pada kesalahpahaman yang tidak dia ketahui sampai ujung hidupnya. Kang Seong hanya memiliki jejak berupa foto dengan Kang Eun-jeong, seorang reporter TV terkenal sekaligus seorang penulis. Perempuan ini yang dianggap Kang Seong adalah ibunya. Setelah pertemuan Geuru dengan Kang Eun-jeong kemudian diketahui bahwa foto dia dengan Kang Seong di masa lalu diambil saat Kang Seong dititipkan dirumahnya yang memang sering menjadi rumah sementara bagi bayi-bayi yang akan diadopsi. Dengan pernyataan itu, jelas Kang Eun-jeong bukanlah ibu kandung yang Kang Seong-min cari.

Melalui perjalanan Kang Seong-min mencari ibunya, kita akan merasakan kepiluan seseorang yang harus membawa tanda tanya besar selama hidup. Kita akan dibawa melihat beratnya hidup dari kacamata anak yang dibuang oleh orang tuanya dan bagaimana ia harus menjalani hidup yang tidak mudah.

Kematian Kim Su-cheol

Dalam beberapa episode kita diajak melihat Sang-gu menjenguk laki-laki di rumah sakit, bernama Kim Su-cheol. Singkatnya, mereka menjadi sahabat atau bisa disebut saudara tak sedarah setelah di satu malam Sang-gu menyelamatkan Su-cheol yang dibully oleh beberapa orang. Mereka pun dekat dan Sang-gu bahkan mengajari Su-cheol bermain tinju hingga ia meraih banyak kejuaraan. Sebagaimana hidup, hubungan mereka tak selalu mulus. Suatu hari ternyata mereka dijebak dan harus bertarung hingga Su-cheol hampir mati di tangan Sang-gu. Meskipun mereka tidak lahir dari rahim yang sama, kita akan melihat betapa sayang dan bangganya Sang-gu kepada Su-cheol. Pada akhirnya, Su-cheol harus meninggal dan kematian ini sangat memukul bagi Sang-gu. Lewat hubungan mereka, kita tahu rasa sayang bisa terjadi pada siapa saja termasuk pada mereka yang tidak punya hubungan darah.

Witing Tresna Jalaran Saka Kulina, Antara Sang-gu dan Geu-ru

Selain jalan cerita yang sarat makna, penulis juga akan mengulas perkembangan karakter dari dua tokoh yang sangat menarik dalam drama ini, yaitu Cho Sang-gu dan Han Geu-ru.

Cho Sang-gu

Dalam perkenalannya, Cho Sang-gu digambarkan sebagai mantan narapidana, underground MMA fighter, hidupnya berantakan, jorok, cuek, tetapi sesungguhnya dia adalah sosok yang sangat peduli dan penuh kasih sayang. Meskipun terlihat bad boy, Sang-gu sebenarnya adalah manusia baik. Kita akan belajar bahwa penampilan tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan dalam menilai seseorang.

Saat sebelum Han Jeong-u meninggal, dia menitip pesan kepada pengacaranya—Oh Hyun-cang—agar Cho Sang-gu menjadi ahli waris Geu-ru. Awalnya, Sang-gu mau menjadi wali dari Geu-ru hanya karena mengincar harta waris milik Geu-ru. Sang-gu juga punya dendam masa lalu kepada kakaknya karena saat kecil, Han Jeong-u mengingkari janjinya. Kita akan diajak bertemu dengan alasan besar Han Jeong-u yang tak sempat menepati janji tersebut. Saat menonton episode itu, siapkanlah lembaran-lembaran tisu karena akan ada scene yang sangat menguras air mata. Seiring berjalannya waktu, Sang-gu kemudian sayang kepada Geu-ru dan ingin terus menjaganya. Sebagaimana ungkapan dalam bahasa Jawa, witing tresna jalaran saka kulina, yang berarti cinta tumbuh karena terbiasa.

Han Geu-ru

Sebagaimana telah ditulis di awal, Han Geu-ru dilahirkan “istimewa”. Kenyataannya, dia juga bukan anak kandung dari Han Jeong-u. Bagaimana kisah awal pertemuan mereka? Bunuh rasa penasaran kalian dengan menonton drama ini. Meskipun Geu-ru bukanlah darah dagingnya, Han Jeoung-u sangat menyayangi Geu-ru dan bahkan mendidiknya dengan baik. Setelah Jeong-u pergi, Geu-ru harus hidup dengan kondisi yang baru. Awalnya, Geu-ru merasa kesulitan untuk beradaptasi, apalagi dia harus bisa hidup bersama dengan orang baru (pamannya). Namun seiring berjalannya waktu, chemistry antara keduanya mulai terbangun. Geu-ru juga perlahan bersikap terbuka dan sangat peduli kepada Sang-gu.

Dari Han Geu-ru kita juga belajar untuk tidak fokus pada kekurangan diri. Meskipun terlahir dengan keadaan yang berbeda dengan manusia pada umumnya, Geu-ru bisa memanfaatkan bagian dirinya yang lain, seperti kecerdasan dan kekuatan ingatan yang luar biasa untuk membantu banyak orang. Kelebihan drama ini terletak pada penulisan cerita. Melalui beragam cerita tentang kehilangan dan kematian, kita akan bertemu pelajaran-pelajaran hidup tanpa kesan menggurui. Selain jalan cerita yang apik, drama ini cenderung sangat colorful sehingga mampu memanjakan mata. Character development yang ada juga tidak terkesan terburu-buru dan dipaksakan, semua mengalir begitu saja. Move to Heaven adalah drama yang sangat penulis rekomendasikan.

Editor : Salsabila Raihani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.