Ilustrator : Isna Nurhaliza

Penulis : Rafi Ramadhan

Hari minggu (28/3/2021), merupakan hari yang khidmat bagi umat Kristiani untuk melaksanakan ibadah Minggu Palma, terkhusus umat Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, Makassar. Suasana khusyuk dan tenang mengiringi lantunan doa di dalam gereja itu. Akan tetapi, tiba-tiba, Indonesia digemparkan dengan adanya peledakan bom persis di depan gerbang gereja yang berlokasi di Jalan Kajaolalido Kota Makassar itu. Ibadah yang tenang nan menyejukkan tiba-tiba berubah menjadi bumerang besar bagi orang yang berada di sana. Sontak setelah kejadian, media massa santer memberitakan kejadian ini. Tokoh-tokoh nasional Indonesia, seperti Presiden Joko Widodo, mengutuk keras kejadian ini.

Apabila kita menengok pada tahun 2018, Gereja Katolik Santa Maria Surabaya juga dibom oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kejadian pengeboman ini masih terus berulang di Indonesia. Kedua peristiwa itu mengisyaratkan bahwa bayang-bayang terorisme di Indonesia masih ada eksistensinya dan masih terus membayang-bayangi kehidupan masyarakat Indonesia. Keadaan masyarakat yang dihantui oleh aksi terorisme tidak boleh dibiarkan begitu saja. Tak ada satu pun orang di bumi yang mengindahkan segala tindakan terorisme. Hal ini harus dibarengi dengan sikap dari pemangku kepentingan di Indonesia yang memiliki kewenangan memberantas aksi terorisme. Dukungan dan komitmen bersama menjadi kunci utama dalam keberhasilan penanggulangan terorisme.

Pola terorisme yang terjadi menunjukkan gambaran nyata betapa terorisme dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan menyasar siapa saja. Mereka yang mencoba meledakkan dirinya percaya bahwa hal yang mereka lakukan merupakan suatu kebenaran. Padahal, tidak ada suatu agama pun yang mengajarkan untuk berbuat kekerasan. Sebab kekerasan yang mengatasnamakan agama bukanlah bagian dari agama. Tentunya, tindakan kekerasan, bahkan terorisme pastinya tidak dibenarkan oleh semua pihak. Membuat orang lain terluka saja sudah disalahkan, apalagi sampai membuat hilangnya nyawa umat Tuhan yang tidak bersalah. 

Jaringan terorisme yang bermain dalam senyap  dan diam, harus diusut tuntas keberadaannya. Mengusut dan menyadarkan orang-orang yang sudah disusupi paham ekstrimisme harus segera dilakukan. Masyarakat Indonesia diharuskan mendesak pemerintah Indonesia dan aparat keamanan untuk segera mengusut tuntas atas setiap kejadian terorisme yang terjadi. Tak berhenti sampai di situ, pemerintah juga harus menangkap orang-orang yang terlibat di dalam setiap kejadian terorisme. Negara harus hadir dan membuktikan perannya sebagai pelindung setiap individu masyarakatnya.

Indoktrinisasi paham ekstrem oleh kelompok terorisme memang bukan kendali kita. Akan tetapi, spirit kita untuk menghapuskan paham-paham ekstrem itu wajib diwujudkan. Hal yang kecil dan sungguh mendasar yang dapat kita lakukan yaitu, menanamkan sikap saling mencintai antarsesama. Memang, menyadarkan diri pribadi merupakan hal yang utama, tetapi terkadang mewujudkannya merupakan suatu hal yang sulit. Kesadaran kolektif dalam diri harus dibangun untuk menghindari kejadian-kejadian serupa. Berpengang teguh terhadap prinsip saling mencintai antar umat manusia juga merupakan modal utama.

Tak boleh berhenti sampai di situ, peran pemuka agama juga harus ditonjolkan sebagai pemimpin umat. Ia merupakan orang yang paling dominan dalam menggerakan umat-umat beragamanya untuk berjalan sesuai ajaran agamanya. Ajaran-ajaran mencintai antarsesama manusia harus digaungkan oleh pemuka agama. Proaktif dalam mengkampanyekan gerakan antiradikal dan antiekstrimisme merupakan suatu bekal pokok untuk diajarkan bagi umat manusia. Penyampaian narasi-narasi yang hanya mementingkan suatu golongan harus segera dihentikan dan diselesaikan. Pemuka agama selaku “nahkoda” dan “rolle model” bagi umat adakalanya harus mencontohkan hal-hal baik demi menjalin tali persaudaraan.

Mengutip pendapat dari mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius, di dalam buku Pemahaman Membawa Bencana (2018), pendekatan keras, pendekatan lembut, deradikalisasi, dan kontra radikalisasi menjadi resep ramuan penganggulangan terorisme. Penanganan terorisme yang diperlukan untuk menanggulangi bahaya ini berupa sistem penanganan yang integratif, komprehensif, holistik, dan menyeluruh.

Deradikalisasi tidak mudah untuk dilakukan, terutama karena terorisme ini menyangkut pola piker seseorang, karenanya fokus deradikalisasi bukan pada tindakan, melainkan mengubah cara pikir dan kognisi orang-orang yang telah terpapar virus radikal. Selain itu, upaya lain ialah kontra radikalisasi. Pendekatan ini ditujukan kepada msyarakat agar tidak terpengaruh kelompok-kelompok radikal yang cenderung eksis merongrong ideologi Indonesia. Upaya ini demi terwujudnya daya tangkal dan resistensi masyarakat terhadap terorisme.

Penanganan terorisme tidak melulu dengan pendekatan keras. Ada metode pendekatan lembut karena manusia memiliki hati. Pendekatan lembut (soft approach) berarti pendekatan menggunakan psikologis. Orang-orang yang berpotensi radikal disadarkan agar tidak terjerembak di dalam lumpur radikalisasi. Pendekatan lembut juga bisa dilakukan dengan menyosialisasikan bahaya terorisme radikal pada orang-orang yang terindikasi. Kampanye antikekerasan juga dilakukan untuk meningkatkan kepekaan di dalam diri akan bahaya dari terorisme. Di sisi lain, pendekatan keras ditempuh oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama TNI dan Polri. Pendekatan dilakukan dengan menggunakan aturan hukum yang berlaku di Indonesia dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).

Sudah saatnya, kita menoleh pada ajaran humanisme Gandhi yang popular di dunia. Ajaran saling mencintai dan menghindarkan segala tindak kekerasan patut kita bumikan dan tanam dalam diri tanpa terkecuali. Mencintai sesama manusia bukan merupakan kesulitan. Keberagaman yang ada ialah niscaya dari tuhan yang harus kita banggakan dan jaga. Keberagaman itu dapat kita jadikan khazanah kekayaan budaya bangsa yang saling melengkapi.  Menjadikan keberagaman sebagai teman hidup ialah kenikmatan yang tiada akhir. Dengan mengedepankan spirit keberagaman Indonesia, kepentingan pribadi dan golongan akan terpinggirkan.

Indonesia sebagai negara majemuk dengan keberagaman identitas, hal itu harus menjadi modal untuk mempersatukan bangsa kita. Rasa keterikatan sebagai bagian dari Indonesia merupakan modal penting dan esensial untuk mengikat kita dalam untaian keragaman Indonesia. Bertindak konstruktif sebagai suatu bangsa juga bukan hanya diimpikan saja, melainkan juga harus dipraktikkan dan diaktualisasikan dalam diri sendiri. Hal ini tentunya bertujuan agar terciptanya suatu bangunan kokoh, indah nan megah, ialah Indonesia yang damai dan sejahtera.

Editor : Agung Mahardika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.