Salah satu taman yang terletak antara Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang akhirnya dibangun menjadi parkiran. Foto: Roni

MALANG-KAV.10 Dibangun sejak pertengahan tahun 2019, parkiran bertingkat Fakultas Hukum (FH) UB baru memasuki tahap finishing di Bulan Maret ini. Wakil Dekan II FH Bidang Umum dan Keuangan Aan Eko Widiarto menuturkan tahap finishing awalnya akan dilakukan pada tahun 2020. Namun akibat terhalang pandemi dan adanya perubahan tender, pembangunan menjadi tertunda.

“Nah sekitar bulan Oktober di tahun 2020, itu baru boleh membangun lagi. Hanya saja kalau dibangun dioktober itu pasti pekerjaan nggak nutut, karena untuk finishing itu yang dibutuhkan sekitar 3 bulan,” jelasnya saat diwawancarai awak Kavling10 pada Selasa, (2/3).

Kemudian memasuki tahun 2021, lanjut Aan, pihaknya sudah siap untuk melakukan tender kembali untuk finishing. Namun terdapat problem lainnya, yaitu tentang sistem pengadaan barang dan jasa akibat peralihan sistem di pusat yang direncanakan dalam Peraturan Rektor (Pertor).

“Jadi persoalan (lambatnya pembangunan, red) ini persoalan murni bukan persoalan dana, kalau dana kita sudah siap mulai 2019, sudah kita siapkan,” tegasnya.

Kurangnya lahan parkir di Fakultas Hukum sehingga harus menggunakan bahu jalan dinilai Aan mengurangi fungsi jalan sebagai tempat lalu lintas kendaraan. Sebagai fakultas tertua, lahan FH menurutnya sudah penuh oleh bangunan perkuliahan.

“Kita akhirnya berpikir gimana caranya agar lahan (parkirnya, red) ada tanpa mengurangi luasan. Nah disitulah sebenarnya pentingnya parkir-parkir bertingkat, karena kalau tidak bertingkat pasti akan makan lahan lain, yang mana yang mau kita bongkar?” lanjutnya lagi.

Setelah dimintai izin ke kantor pusat, salah satu taman akhirnya disetujui untuk dialihfungsikan sebagai lahan parkir.

“Nanti lantai (parkiranya, red) kita tidak pakai aspal tapi pakai paving. Sehingga RTH tetap berfungsi sebagai RTH, Ruang Terbuka Hijau. Nanti juga dikonsep gedung parkir ini, konsep lingkungannya juga jalan. Karena kita menggunakan rooftop. Serta ada taman di dinding.”

Pembangunan parkiran bertingkat ini juga merupakan respon dari keluhan kalangan mahasiswa Fakultas Hukum sendiri.

“Iya (mahasiswa, red) mengeluh. Mereka itu kalau datang, ya nggak bisa parkir dengan cepat. Mereka harus meminggirkan motor yang lain, kemudian menata dulu baru bisa cepat masuk ke kelas, gitu,” ungkapnya.

Diwawancarai diwaktu berbeda, Presiden BEM FH periode 2019 M. Sandy Abdillah N menjelaskan bahwa memang ada forum penyampaian aspirasi oleh mahasiswa kepada dekanat. Forum yang fisilitasi oleh DPM pada tahun 2019 itu selanjutnya menghasilkan usulan parkiran bertingkat di wilayah FH.

“Kalau ditanya urgensi, jelas dong itu urgent sekali. Apalagi saat jam-jam padat kuliah bisa hampir nggak ketemu tempat parkir. Kadang saya aja yang anak FH bisa parkir di depan FIB atau di FT. Bahkan setiap pagi parkiran FH jadi satu dengan parkiran dari temen-temen (fakultas, red) ekonomi, jadinya ya semakin crowded,” keluh Sandy.

Sebenarnya, kata Sandy, dulu ada peraturan rektor terkait lahan parkir. Intinya menyatakan bahwa semua lokasi parkir itu tidak terkhusus. Dalam artian siapapun mahasiswanya boleh parkir dimana saja.

“Tapi mahasiswa Brawijaya pertahun kalau normal, sekali masuk mahasiswa aja udah 13.000an. Ditambah mahasiswa lama, otomatis mereka membawa kendaraan semua kan. Nah pastinya akan semakin crowded sekali, jadi jelas perlu ada penambahan terkait lahan parkir,” tegasnya.

Penulis: Agustina Sitti Anggawen
Kontributor: Husnul Khotimah, Herliana Bevita Anggi
Editor: Ranti Fadilah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.