Ilustrasi : Adelia Firsty Hernanda

Oleh : Nurkholis Fachroni (Anggota Magang)

“Suatu saat kita akan kehilangan sesuatu yang kita cinta, memang begitu nyatanya.”

Sore itu masyarakat gempar karena senja telah hilang, mungkin lebih tepatnya telah dicuri oleh seseorang. Pencurian senja adalah yang kali pertama dalam sejarah peradaban manusia karena mungkin mencuri bulan atau hati wanita pujaan sudah hal biasa dalam dunia kita. Kasus pencurian itu menjadi topik yang paling banyak dibicarakan seantero negeri, dari mulut kemulut hingga dari satu gawai ke gawai lain. Tidak seperti kasus pencurian yang sudah pernah terjadi. Senja yang hilang itu Sungguh membuat resah orang-orang di negeri itu. Bagaimana tidak? Senja adalah komoditas paling seksi di sana, ada yang memujanya melalui puisi dan kata-kata, ada juga yang mengabadikan nya lewat foto dan lukisan, ada juga yang merawatnya dengan nada untuk dinyanyikan dari satu mulut ke mulut yang lain. Intinya senja adalah sebuah momen yang dipuja setiap orang dan mereka semua mencintainya dengan cara yang berbeda-beda. Aku sendiri mencintai senja dengan cahaya keemasannya yang berkeretap pada buih putih yang mengambang kesana kemari di lautan saat  matahari terbenam. Namun sekarang semuanya telah berubah, senja telah dicuri oleh seorang pria untuk dikirimkan kepada kekasihnya yang jauh disana.

Terkadang ,sampai sekarang aku masih jengkel dengan si pencuri itu, kalau saja ia mencurinya dilain waktu, tentu aku sudah mencium bibir kiana yang manis itu. Mengingat kejadian itu membuatku jengkel kepada si pencuri yang hingga kini tak diketahui keberadaannya. Lantas muncul pertanyaan dalam benakku, mengapa harus mencuri senja di pantai itu? Disuatu sore disaat aku sedang romantis dengan kiana. Mengapa tidak mencuri bongkahan emas atau tumpukan uang di bank lokal saja? Memikirkan kemungkinan kemungkinan yang tidak mungkin, membuatku menjadi pusing.

Singkat cerita, sore itu aku dan kiana sedang berlibur pasca ujian akhir, kami sudah merencanakannya jauh jauh hari,  sengaja kami berkemah disana karena matahari terbenamnya adalah senja terbaik dari senja manapun yang ada di bumi. Kami berangkat pukul 12 siang menggunakan mobil sedan tua kakek kiana karena jaraknya yang cukup jauh membuat aku enggan menggunakan sepeda motor. Setelah sampai kami langsung reservasi untuk menginap semalam dan membeli beberapa kayu bakar serta bahan makanan tambahan lainnya. Kami berjalan menuju sebuah tempat yang bernama bukit harapan, sebuah tanjung yang berada di ujung pantai, dibawah pohon cemara dan ditumbuhi ilalang liar, dari sana nampak seluruh pesona pantai sore itu. Aku segera merakit tenda dengan cekatan dan hati hati, tanpa kusadari kiana tersenyum melihat diriku seperti itu, apakah ia membayangkan membangun rumah tangga bersama ku ? Kusiapkan matras sekaligus kantung tidur kami, sekali lagi imajinasiku menjadi liar karenanya dan kupandangi kiana tengah menyiapkan perapian untuk segera memasak mie instan dan kopi.

Ketika aku sibuk merapikan semua hal yang ada ditenda, tiba tiba langit menjadi redup, kulihat senja telah hilang, terpotong sebesar amplop. Kulihat orang orang di pantai begitu histeris, mereka berhamburan kesana kemari karena menduga bahwa akan terjadi sebuah bencana. Ada yang tiba tiba ambruk jatuh pingsan karena shock, mental mereka tidak kuat menerima kenyataan bahwasannya senja telah hilang di hadapan mereka. Aku sendiri tidak merasakan apa apa, hanya saja kaget dan bertanya tanya mengapa senja bisa hilang terpotong sebesar surat pos.

Rupanya ada seorang pria yang memotong senja dengan sebilah belati yang ia simpan dalam sakunya, meski aku sendiri tidak meilhat bagaimana cara pria itu memotong senja sebesar kartu pos,  segera orang orang di pinggir pantai merubungi pria tersebut karena dari dalam sakunya memancarkan cahaya keemasan yang terlihat berkilauan membanjiri mata setiap manusia yang menatapnya. Kupikir cahaya itu masih terlihat redup daripada menatap mata kiana, “ah, sungguh manis perempuan ini.” kupikir. Kiana mentapaku dengan perasaan bingung, sedang aku menatapnya dengan perasaan sayang segunung.

Semakin lama banyak sekali pengunjung pantai yang merubungi pria itu, tampak sekali raut wajahnya ketakutan, ia segera menerobos pengunjung yang mengitarinya dan beranjak masuk kedalam mobil sedannya. Terdengar sayup sayup raung sirene mobil penjaga pantai ke segala penjuru, mereka mengejar sedan pria itu.

Aku dan Kiana sebenarnya juga kebingungan apakah kami akan jadi menginap atau tidak, senja yang kami harapkan sudah hilang dan mungkin tidak akan muncul kembali esok hari. Perasaan kami campur aduk, ia tidak berbicara sepatah kata pun, kupikir ia paham, kata kata tidak akan membuat suasana menjadi lebih baik, alih-alih mengembalikan senja pada tempatnya.

bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.