Ilustrator : Adelia Firsty Hernanda / Kavling10

Oleh : Anggik Kurniawan

            Hamparan sawah terlihat hijau ketika dipandang Raka lewat jendela kereta. Namun dari raut wajah Raka, ia tampak tak menikmatinya. Tak ada foto yang diambil dan tak ada decak kagum yang terpancar darinya. Sedari awal memang ia tak menikmati perjalanan ini. Padahal sebelumnya ada pemandangan yang biasanya disukai oleh Raka, salah satunya laut yang biru dengan awan putih menggantung di langit. Kebetulan perjalanan menuju tempat kekasihnya melewati jalur didekat pantai.

            Di dalam kepala Raka memang terjadi kesemrawutan seperti kabel listrik atau kemacetan di kota metropolitan. Ia tak habis pikir akan satu kasus yang menimpa dirinya dan tentu saja dengan kekasihnya, Kirana. Seminggu yang lalu ada keanehan yang sebenarnya sudah menjadi hal yang umum di lingkungan sekelilingnya. Telah terjadi pencurian pesan lewat telepon dan pesan singkat.

            Malam itu ketika bulan purnama terlihat sempurna, mereka ingin bermesraan dengan mengobrol lewat telepon. Namun tidak seperti biasanya, obrolan mereka tidak menyambung, ada kata yang diucapkan Raka yang hilang dan begitu pun sebaliknya. Raka mencoba berpikir positif, mungkin saja ada gangguan sinyal. Namun, tiba-tiba ia teringat tentang kasus pencurian pesan. Ia tak mencoba mengirim pesan lewat aplikasi pengirim pesan singkat karena mengganggap hal itu sama saja. Sekali pembicaraan lewat telepon dicuri, akan terjadi pula ketika mengirim pesan singkat.

            Sehabis kejadian malam itu, Raka tak berhubungan lagi dengan Kirana. Ia takut kasus yang menimpanya akan menjadi lebih rumit. Pernah ada satu orang yang juga mengalami pencurian seperti Raka. Ia mencoba menghubungi kekasihnya setiap hari. Namun bukannya keadaan membaik, justru pencurian naik ke level yang lebih berbahaya. Sebelum orang itu mengungkapkan apa yang ada di kepala, ia lupa apa yang dipikirkannya.

“Bisa dibilang, pencuri telah masuk ke dalam pikirkanmu. Jadi, bukan lagi tentang apa yang kamu ucapkan atau ketikan,” begitu kata teman Raka yang masih diingatnya.

            Raka mencoba mengumpulkan informasi lagi dari percakapannya dengan orang lain tentang hal itu. Pertama, kasus ini belum dapat diatasi atau ditindak secara hukum. Operator telepon seluler mengaku tidak tahu siapa yang melakukan pencurian. Begitu pula, apa yang disampaikan oleh pengembang aplikasi pesan singkat. Mereka merasa telah kecolongan bahwa telah terjadi pencurian di sistem yang mereka buat. Perusahaan telepon pintar pun juga merasa demikian.

            Kedua,beberapa kasus pencurian bisa terhenti. Namun, jika ditanya upaya apa yang dilakukan oleh korban, tidak ada patokan yang dapat digunakan. Ketiga, diketahui kasus pencurian kerap kali terjadi pada orang yang suaranya merdu, orang yang sering mengkritik pemerintah, atau membahas hal yang dianggap tabu oleh masyarakat walaupun sebenarnya tidak ada permasalahan. Pada beberapa kasus juga terjadi pada pasangan muda yang masih pacaran. Raka sempat bertanya saat itu, “Kenapa pada pasangan muda yang masih pacaran saja, bukan pada orang dewasa yang telah menikah?”

“Mungkin pada pasangan yang pacaran, yang dibicarakan hanya hal yang menyenangkan belaka. Tentu berbeda dengan pasangan suami istri, percakapan mereka akan lebih sering seputar kebutuhan rumah tangga sampai dengan pertengkaran”, begitu jawaban yang diterima Raka.

            Dari beberapa kriteria korban pencurian pesan itu, memang bisa dibilang bisa ditemukan di pasangan satu ini. Sudah jelas memang mereka berdua berpacaran. Soal suara merdu itu ada di dalam diri Kirana. Ia gemar menyanyikan 80s Love Songs. Kalau ditanya judul lagu apa saja yang biasanya dinyanyikan oleh Kirana, Raka tentu tak bisa menghapalnya. Ia tidak terlalu peduli dengan semua judul lagu itu.

“Semua lagu akan kudengarkan tanpa perlu tahu apa judulnya, asalkan kamu yang menyanyikannya, Kirana.” kata Raka.

            Disisi lain, soal pembicaraan yang bersifat mengkritik pemerintah kerap terlontar dari mulut Raka. Ia tak melabeli dirinya sebagai seorang aktivis. Dia lebih senang menganggap dirinya sebagai rakyat biasa yang ingin mendapatkan haknya, melihat sejauh mana itu bisa dipenuhi oleh pemerintah. Ia bicara hal itu bukan hanya dengan Kirana, tetapi dengan orang lain pula. Namun, tentu momen dengan Kirana seperti barang antik yang berharga dan istimewa.

“Kamu cerdas dan berani seperti biasa,” ucap Kirana setelah Raka berhenti berbicara.

            Raka tiba-tiba bangkit dari lamunannya. Jarak 88 km yang ditempuhnya hanya menghabiskan waktu yang singkat jika diselimut lamunan. Ia turun dari kereta, mencari angkutan umum untuk menuju ke tempat kekasihnya. Berdesak-desakkan dengan penumpang lain dapat ditoleransi oleh Raka, asalkan dia bisa ke rumah kekasihnya.

            Angkutan umum berhenti ketika Raka berkata “kiri” kepada sopir. Ia lantas turun, berjalan kaki menuju ke rumah kekasihnya. Bel rumah ia tekan dan tak lama gerbang terbuka. Kirana ada di depannya mengenakan baju atasan berwarna putih dan bawahan merah muda.

“Aku sudah menunggu dan yakin kamu akan datang. Tahu kan apa yang terjadi?

“Kasus pencurian pesan”

“Kamu juga tahu ‘kan apa yang seharusnya kamu lakukan?”

“Aku tahu. Aku akan ke sini setiap akhir pekan sembari mencari cara agar pencurian bisa dihentikan. Aku juga tahu apa tindakan selanjutnya di luar hal itu.”

Kirana mengangguk dengan senyum tipisnya yang menawan dan mengajak Raka untuk masuk ke rumahnya. Rumah waktu kecil yang sering dikunjunginya.

Editor : Husnun Afifah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.