Ilustrasi : Oky Dwi Prasetyo

Penulis : Oky Dwi Prasetyo (Pembaca Kavling10)

“In itself, homosexuality is as limiting as heterosexuality: the ideal should be to be capable of loving a woman or a man; either, a human being, without feeling fear, restraint, or obligation.” — Simone de Beauvoir

Seksualitas menjadi bagian dari setiap fase kehidupan manusia. Di sejumlah daerah di Indonesia, masih banyak penganut hal-hal animisme dan dinamisme. Mereka percaya bahwa kekuatan religius atau ghaib mampu memberikan energi. Seperti halnya seksualitas, masyarakat adat beberapa daerah Indonesia dalam hal seksualitas juga memberi ruang untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Berhubungan dengan dunia ghaib sampai ritual pesugihan. Tradisi seksualitas masih kental di beberapa daerah. Hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, hubungan ayah dan anak, ibu dan anak, hingga hubungan sesama jenis.

Hidup dalam era moderat seperti ini, keberadaan globalitas adalah faktor utama, dewasa ini isu-isu gender banyak dibicarakan, terlebih masalah Orientasi Seksual yang dimana merupakan aspek salah satu kelainan seksualitas. Budaya Orientasi Seksual dianggap kotor dalam hegemoni masyarakat. Suatu hal yang tak lazim keberadaannya saat melawan norma dan hukum masyarakat. Budaya tersebut banyak dikecam oleh beberapa pihak. Usaha untuk mengonstruksi konsep gender ini yang menyebabkan tekanan pada individu untuk menyesuaikan diri dengan norma atau gender yang dianggap normal oleh masyarakat, sehingga mengakibatkan wacana gender dan orientasi seksual terpinggirkan. Dampak dari hal ini memberikan tantangan bagi keberadaan kalangan orientasi seksual pada masyarakat tradisional, khususnya tradisi mereka yang telah eksis sebelum kedatangan agama Islam yang kini dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Secara logika dan kesadaran batin itu adalah sebuah penistaan. Budaya Orientasi Seksual sendiri  sebenarnya telah lama ada sejak masa-masa Hindu-Budha, Kejayaan Islam di Indonesia. Didorong oleh seni dan sastra. Budaya tersebut tidak begitu dirasakan oleh masyarakat pada zaman itu.

Ditranskip dari Vice Indonesia, Tradisi Lengger Lanang di Banyumas muncul dari mistisme. Penari laki-laki diterima bahkan dipuja-puja. Kisah ini dimulai dari seseorang anak laki-laki yang bernama Sadam, dengan akhirnya berganti nama Mbok Dariah. Mbok Dariah kabur karena permasalahan keluarga, dari rumahnya ke salah satu pemakaman, dan di sana dia bermeditasi dan puasa berhari-hari. Sampai sesosok roh penari Lengger berbicara padanya. Roh itu merasuk ke dalam tubuhnya. Dariah pulang ke kampungnya dengan nama dan gender yang baru. Sejak Jaman Belanda Dariah sudah belajar menari lengger. Zaman itu belum ada pensil alis. Penari lengger memakai jelaga, itu yang diambil dari senthir [lampu minyak.] Lalu, lipstik yang sering dipakai di bibir dicampur minyak rambut dan pewarna makanan.

Kaum trans di Indonesia tidak selalu bersembunyi. Di era kolonial Belanda dan di masa-masa awal berdirinya republik Indonesia, penampil trans seperti Mbok Dariah sangat digemari. Tetapi semuanya berubah di awal rezim Soeharto, bersamaan dengan pemberantasan ideologi komunisme. Perjuangan hak-hak kaum LGBTQA+ pun terhenti. Apalagi kini, saat maraknya penggerebekan bahkan hukum cambuk bagi kaum gay. Tradisi laki-laki sebagai penampil di Lengger pun tersingkir, dan penampil perempuan lebih diterima. Walau begitu, beberapa laki-laki masih berusaha untuk mempertahankan tradisi ini dan tampil dengan dandanan tebal dan kostum perempuan. Apa yang tadinya disembunyikan, kini kembali berada di tengah sorotan lampu, di atas panggung.

Dalam novel Disguised (Sang Penyamar): Memoar Masa Perang karya Rita La Fontaine De Clercq Zubli. Mengisahkan bahwa pada masa Jugun Ianfu di Sumatra Barat, Rita La Fontaine seorang gadis Indo-Belanda dalam usia 12 tahun rela menjadi laki-laki karena harus melawan (bersembunyi dari gender) kolonial Jepang. Koevoets, seorang pastor Belanda, berkunjung ke rumah keluarga Rita. Dia berbicara kepada orang tuanya dan menyarankan supaya gadis itu untuk mengubah penampilannya menjadi seorang lelaki. “Wanita yang dicari tentara-tentara itu adalah gadis-gadis muda yang belum bisa melindungi dirinya,” ujar Koevoets kepada Rita. “Kami ingin melindungimu dari tentara-tentara yang ingin memanfaatkan gadis-gadis bau kencur sepertimu.”

Sebuah situasi yang berbeda muncul dalam hubungan warok-gemblak, yang ditemukan di kawasan Ponorogo, Jawa Timur. Warok dan Gemblak merupakan bukti keberadaan Orientasi Seksual yang telah marak di budaya tradisional Indonesia. Warok yang sejatinya merupakan lelaki bertopeng perkasa yang juga ditakuti keberadaanya dan figur yang dihormati.  Ia banyak digemari wanita. Gemblak adalah penari lelaki yang memang berparas wanita untuk menghibur penonton, yang juga merupakan penunggang kuda lumping. Mereka berdua mirip seperti pola anak asuh. kekuatan mistik yang dimiliki warok bergantung pada menghindari seks dengan perempuan. sambil masih aktif sebagai warok mereka mengambil laki-laki lebih muda yang berumur sekitar delapan dan enam belas tahun (disebut gemblak), sebagai pemain pengganti dan pacar. Karena tapabrata seksual merupakan kunci terhadap kekuatan warok, para warok biasanya menekankan bahwa mereka tidak berhubungan seks dengan para gemblak; seorang warok kontemporer menyatakan “paling banter yang bisa terjadi dengan gemblak hanya ciuman dan pelukan” (Wilson 1999:7; Harjomartono 1961:17, 24).

Kesenian ludruk juga merupakan salah satu bentuk Orientasi Seksual. Dalam kesenian ini, tandak (waria) mendapat perlakuan khusus dan menjadi topik utama biasanya untuk menarik perhatian penonton. Tandak ialah laki-laki yang memakai perhiasan, berbusana perempuan hingga berperilaku sebagaimana perempuan. Ludruk sampai saat ini masih dilestarikan, tandaknya pun masih ada.

Snouck Hurgronje dalam The Achehnese, melaporkan bahwa laki-laki Aceh sangat menggemari budak dari Nias. Budak-budak lelaki yang remaja, dalam posisinya sebagai penari dirias seperti perempuan (Rateb Sadati), “disuruh melayani nafsu tak alamiah orang-orang Aceh.” kesenian ini umumnya diperagakan oleh 20 pria dewasa –disebut dalem atau aduen– dan menyertakan seorang anak lelaki. Sebagian penari itu adalah anak-anak orang miskin dari pedalaman. Anak-anak ini didapatkan melalui transaksi antara pihak tertentu dan orangtuanya. Realitas itu muncul karena ketatnya norma yang membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan lajang. Kesenjangan sosial juga merupakan salah satu faktor.

Dede Oetomo dalam Memberi Suara pada Yang Bisu memaparkan, di Bali pernah dilaporkan oleh Dr Julius Jacobs, seorang pejabat kesehatan di daerah Banyuwangi pada akhir abad yang lalu (1883), tentang kesenian gandrung. Penari gandrung yang disaksikan Jacobs adalah bocah laki-laki usia 10-12 tahun yang berpakaian perempuan. Dengan genitnya bocah-bocah ini menari, disambut oleh laki-laki yang menontonnya, yang ikut menari, menciuminya, memberinya uang kepeng. Menurut Jacobs, kebiasaan ini dianggap biasa oleh orang-orang Bali, tidak ditutup-tutupi. Jacobs juga melaporkan adanya pasangan-pasangan homoseks laki-laki maupun wanita di Bali. Perbuatan homoseks antara laki-laki disebut menyilit (‘mendubur’) dan di antara wanita disebut mencengceng juuk (‘cunnilingus’). Laporan Jacobs memberikan kesan betapa bebas dan cerianya orang-orang Bali kala itu menikmati pemanfaatan perkelaminan.

Dede Oetomo dalam Memberi Suara pada Yang Bisu juga memaparkan, di daerah Minangkabau dikenal kebiasaan percintaan antara laki-laki yang lebih tua (induk jawi) dengan remaja laki laki (anak jawi). Struktur keluarga “induk-anak” ini erat berkait dengan kebiasaan tidur di bilik atau kamar untuk anak-anak laki-laki yang sudah mulai dewasa.

Berbeda dengan Masyarakat Bugis. Bugis menganal lima gender dalam orientasi seksual masyarakatnya. Lima jari tangan dari jempol hingga kelingking adalah simbol analogi gender di Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis sendiri sebenarnya tidak mengenal kata gender; klasifikasinya hanya secara konseptual. Fleksibilitas toleransi keberagaman gender masyarakat Bugis terlihat dari ungkapan “meskipun dia laki-laki, jika memiliki sifat keperempuanan, dia adalah perempuan; dan perempuan yang memiliki sifat kelaki-lakian, adalah lelaki”

Yang pertama adalah Bissu, atau pemuka agama Bugis kuno pra-Islam yang  berperan sebagai penasehat, pengabdi, dan penjaga Arajang (benda pusaka keramat). Kata Bissu berasal dari kata Bugis “mabessi” yang berarti bersih. Kedua, Oroane, yang artinya pria atau lelaki. Biasanya jenis kelamin ini dituntut harus maskulin dan mampu menjalin hubungan dengan perempuan. Ketiga, Makkunrai atau perempuan. Makkunrai kerap kali dituntut untuk bersikap feminin, jatuh cinta dan bersedia menikah dengan lelaki, mempunyai anak dan mengurusnya serta wajib melayani suami. Keempat, Calalai, yaitu perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki. Calalai biasa juga disebut perempuan maskulin/tomboy. Kelompok ini mengacu pada orang yang ditugaskan perempuan saat lahir tetapi mengambil peran laki-laki heteroseksual dalam masyarakat Bugis. Kelima adalah Calabai, laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan. Calabai umumnya laki-laki secara fisik tapi mengambil peran seorang perempuan heteroseksual dalam masyarakat Bugis.

Hubungan sesama jenis sendiri di kalangan orientasi seksual masyarakat tradisional bukanlah hal yang asing. Budaya tersebut juga menjadi iconic atau bahkan transendensi dikalangan pergaulan remaja Indonesia saat ini. Sebuah ladang dan ideologi baru yang merusak moral dan kodrat. Para kapitalis, perjuangan mendobrak dinding-dinding pembatasan ingin melahirkan kembali Orientasi Seksual dalam tanda kutip “LGBTQA+”. Ideologi pemikiran-pemikiran tersebut mendapat dukungan banyak dari pengikut-pengikutnya. Tergantung dari siapa yang menangkap umpan atau mengambil tindakan.

Keberadaan mereka tidak dapat mengubah atau menghapus kehidupan masa lalu dalam wajah budaya di era moderat ini. Sejauh mana praktik-praktik orientasi seksual masyarakat tradisional dilakukan. Namun, tetap masa depan maupun di masa lalu, tidak akan bisa lepas dari sistem Patriarki yang telah mengakar selama ribuan tahun, polemik atas kekerasan dan ketidakadilan pada suatu gender.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.