Ilustrasi : Gagah Putra Fajrin

Oleh : Nafisah A. Rachma

Sora berusaha mengingat dirinya yang dulu. Ia berusaha mencari tahu apa alasannya bisa menjadi dirinya yang sekarang. Seberbeda apa dirinya yang dulu dan yang sekarang? Matanya memang menatap kawannya yang tengah bicara di depan sana, memimpin rapat serta evaluasi. Namun nyatanya, pandangannya menerawang ke masa lalu. Seperti apa dirinya dulu? Sora berusaha mengingatnya.

Orang bilang, yang menilai dirinya sendiri adalah orang lain. Dan di sini Sora berusaha untuk menjadi orang lain itu dan berusaha menilai dirinya sendiri. Karena, sejujurnya, ia takut dinilai oleh orang lain. Ia tak ingin orang lain yang memberi tahu betapa buruknya ia. Ia tak ingin orang lain tahu betapa kurangnya ia. Meskipun mungkin semua orang sudah melihatnya. Mungkin. Sangat mungkin.

Mungkin, orang lain sudah sangat menyadarinya. Hanya saja mereka takut. Atau merasa tidak enak untuk mengakuinya. Atau memang benar mereka takut. Sama seperti Sora, takut.

Ayo, ingat-ingat lagi. Sora yang dulu seperti apa.

Sora yang dulu…

Dulu, dirinya adalah gadis dengan rambut berkuncir ekor kuda yang sering dipuji karena tubuh yang tinggi untuk seukuran bocah sekolah dasar. Semangatnya untuk pergi sekolah sangatlah besar dan rimbun seperti pohon beringin. Senyumnya ditebarkan dengan mudah. Langkahnya seringan kapuk yang baru saja mekar dari randunya dan terbang diembus angin.

Ia sering berdiri di depan kelas dengan percaya diri. Gugup yang mulai menggenggam tangannya hingga dingin ia kalahkan dengan hangatnya minat untuk melakukan hal baru. Siapa yang peduli dengan komentar orang lain? Siapa yang peduli dengan rasa takut? Yang Sora tahu hanyalah bagaimana kakinya melangkah maju dan membuat dirinya berada di depan.

Sora berusaha agar bisa dikenal banyak orang dengan semangatnya, dengan senyumannya, dengan suaranya, dengan segala hal positif yang berusaha ia tarik menjadi miliknya.

Waktu itu, gadis dengan rambut berkuncir ekor kuda itu berdiri di atas panggung. Ia tidak sendiri. Teman-teman sekelasnya juga berdiri berdampingan dengannya. Sora menjadi pusat perhatian karena berada di tengah dan memegang mic. Berdiri di atas panggung adalah apa yang ia inginkan. Semua temannya mendukungnya. Mereka setuju untuk menampilkan drama yang diputuskan Sora untuk pentas seni terakhir mereka di kelas 6.

Tangannya gemetar sebenarnya. Jari-jarinya memucat karena memegang mic terlalu kuat. Namun senyumnya tak sedikit pun ia tarik ke bawah. Meskipun penonton tak seramai saat awal acara dimulai, meskipun penampilan kelas sebelumnya membuatnya merasa terkalahkan, Sora pikir ia tak punya pilihan lain selain tetap melakukannya. Ia akan melakukan apa yang ia inginkan.

“Selamat pagi! Kami dari kelas 6-D akan menampilkan drama musikal yang berjudul ‘Bintang Jatuh’! Selamat menyaksikan!”

Mengingat betapa tak tahu malunya ia dulu, rasanya Sora ingin tertawa sendiri. Huh, drama musikal apanya. Yang bener ya drama sambil joget-joget.

Penampilan kelasnya kacau. Ia sadar bahwa yang gugup bukan hanya dirinya, melainkan juga temannya. Setelah turun dari panggung—yang rasanya ingin ia hancurkan saking malunya—semuanya kembali ke kelas. Ia yakin teman-teman sekelasnya lebih malu karena mereka mau-maunya menampilkan drama aneh di bawah pimpinan Sora yang hasilnya justru kacau dan memalukan.

Di samping menyalahkan diri, Sora maju lagi. Dipikirnya, siapa yang akan membuat teman-teman sekelasnya semangat lagi selain dirinya? Ia tak punya uang untuk menghibur mereka semua dengan es susu coklat atau sosis bakar atau papeda—ia bahkan tak punya uang untuk menjajani dirinya sendiri. Lalu dengan apa Sora menyemangati teman-temannya?

Tentu saja dengan menjadi yang pertama. Orang pertama yang mengusulkan untuk tampil pensi adalah dirinya. Hasilnya tidak bagus, maka ia juga yang harus menjadi orang pertama yang menelan rasa malunya.

“Udahlah, nggak pa-pa. Kita mana tau bakal gini. Yang penting, kita nggak malu sendirian! Yang penting kita udah tampil. Daripada kelas lain nggak pada tampil?”

Sora yang dulu selalu ingin menjadi yang pertama mengambil langkah. Ia tak pernah berpikir apakah langkahnya itu akan membuatnya jatuh tersungkur atau justru membuatnya berhasil menaiki puncak gunung. Melihat orang lain maju, ia akan mencari cara agar bisa mendahului orang itu. Pilihan untuk mundur tak pernah terlintas di pikirannya.

Itu Sora kelas 6 SD.

Kini Sora sudah semester tiga di perguruan tinggi. Dan satu-satunya keinginannya sekarang adalah mundur. Ia ingin sekali menenggelamkan diri setiap habis memberikan pendapat. Mulutnya sering dibiarkan bungkam di saat pikirannya mengoceh panjang tentang argumen apa yang ingin ia sampaikan. Ia bukan lagi Sora yang dilindungi oleh kantung keberanian. Sora yang sekarang membeku dalam dinginnya es ketakutan.

Hati yang kuat berubah getas. Dikit-dikit menyesal. Apa-apa merasa salah. Tak perlu diingatkan, Sora memang pengecut. Tak ada yang tahu ke mana perginya Sora kecil yang penuh percaya diri. Lagipula ia juga tak ingin mencarinya.

“Jadi gimana, ada usulan lain buat ini?” Suara yang bertanya itu menarik Sora kembali sadar. Orang-orang di sekitarnya diam, tampak berpikir. Sora juga diam. Ia sebenarnya punya sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi keraguannya menjelma menjadi beton penghalang sehingga ia pun menahan diri.

“Ayo, siapa aja. Ada yang punya pendapat? Atau mau komplain? Boleh, kok, boleh.”

Sekali lagi semua yang ada di sana dipancing untuk bersuara. Sora sudah dekat dengan umpan. Sedikit lagi, jika ia mau, ia bisa memakan umpannya dan membiarkan dirinya ditarik naik oleh kail ke permukaan. Dengan begitu ia bisa terlihat. Ia bisa dilihat.

Belum ada yang membuka mulut. Ketua di depan sana masih setia menunggu. Sunyi di saat diskusi seperti ini bukanlah hal yang Sora sukai. Ia justru sangat benci dengan suasana ini. Alih-alih menjadi vokal pertama, ia malah ikut-ikutan si ketua menunggu dengan sabar hingga ada orang lain yang mulai duluan. Sora tak mau lagi jadi yang pertama. Setidaknya, ia ingin jadi yang kedua saja agar ia merasa aman.

Semakin bertambahnya umur, ia semakin sadar, betapa naifnya ia dulu. Dunia yang ia pijak bukan lagi dunia yang menyenangkan dan sentosa dengan orang yang akan selalu bilang tidak apa-apa jika ia melakukan kesalahan. Salah menjadi sesuatu yang menakutnya. Kesalahan menjadi sesuatu yang sangat dihindari oleh Sora, walaupun ia sadar bahwa manusia tak mungkin tidak berbuat salah.

Bila ia salah, orang lain akan marah padanya. Sora akan disalahkan. Kepercayaan orang lain terhadapnya akan berkurang. Sora ingin mengamankan dirinya agar itu semua tidak terjadi. Ia ingin melindungi dirinya. Dan salah satu caranya adalah dengan membiarkan orang lain maju lebih dulu, melangkahi dirinya, membiarkan ia duduk menunggu gilirannya yang kesekian.

Tapi kamu diem dan nunggu juga salah. Kamu ngebiarin orang lain maju duluan dan kamu tinggal ngikutin aja. Biar apa? Ya, biar kamu aman. Biar kalau salah, bukan kamu yang disalahin. Iya, kan?

Di depan sana, di sebelah si ketua, Sora kelas 6 SD menyeringai setelah mengatakan kalimat yang semestinya tidak bisa ia dengar dari posisi duduknya sekarang. Kalimat itu tidak menohoknya. Tidak pula ia terkejut. Sebab sejak awal ia sudah tahu; memang itu tujuannya ia diam dan menunggu hingga sekarang.

Buruk sekali. Sudah jadi pengecut, berniat buruk pula. Siapa itu? Tentu saja Sora.

Semua sikapnya itu sudah berlangsung sejak lama. Sora yang penuh semangat sudah hilang, diganti oleh diri Sora yang picik. Ugh, rasanya ia tak ingin menyebut dirinya sebagai Sora. Ia bukan Sora. Sora tidak begini.

Ia bisa merasakan sesuatu menyentuh lengan kanannya. Pandangannya teralihkan dari depan ke arah sesuatu yang mendistraksinya. Sora kelas 6 SD sudah ada di sampingnya, menatapnya dengan mata yang menusuk, memintanya agar berhenti bersikap menyedihkan.

Perlahan lengannya didorong oleh Sora versi bocah. Tak bisa menolak, ia pun mengikuti gerakan itu tanpa protes. Tangannya sudah setengah terangkat. Sedikit lagi, sedikit lagi sampai tangannya benar-benar terangkat dan ia menunjukkan diri. Sedikit lagi sampai ia memakan umpan di kail itu. Sedikit lagi…

Hap!

“Saya izin berpendapat, Kak.”

Orang lain memakan umpan itu lebih dulu. Incaran Sora telah diserobot oleh orang lain yang lebih cepat. Ia tertinggal lagi. Ia lagi-lagi ada di belakang orang lain. Netranya menatap kecewa Sora di sebelahnya. Balas memandangnya, sosok lampaunya itu tersenyum mengejek.

Kamu telat, Sora. Hampir tertawa, bocah itu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pfft, mengenaskan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.