MALANG-KAV.10 Jika kondisi pandemi menghambat kegiatan yang membutuhkan pertemuan tatap muka, lantas bagaimana jalannya kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang berbasis di lapangan?

Saat UKM-UKM lain dapat perlahan-lahan mengalihkan kegiatannya menjadi daring, saya rasa UKM yang biasa berkegiatan di lapangan akan lebih punya tantangan tersendiri. Kegiatan yang mereka dapat lakukan selama pandemi agaknya menarik untuk diulik. Mengingat peralihan ini boleh jadi mengurangi esensi kegiatan-kegiatan lapangan yang semestinya hadir.

Belum berkesempatan menemui langsung, saya mencoba “menemui” beberapa ketua maupun pengurus lain UKM lapangan secara daring. Di antaranya dari UKM Impala (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam) UB, UAP (Unit Aktivitas Panahan) UB, Marching Band Ekalavya Suara Brawijaya, dan UASB (Unit Aktivitas Sepak Bola) UB.

UKM Impala ternyata merasakan imbas yang signifikan. Ketua UKM Impala menjelaskan bahwa sebenarnya Impala memiliki rencana untuk melakukan kegiatan di masa pandemi ini. Namun karena terkendala izin tempat, mereka terpaksa membatalkan kegiatan tersebut.

“Kan kita butuh untuk turun ke lapangan langsung. Tapi karena pandemi ini, kita sering terkendala izin dari tempat tempat yg mau kita pakai buat kegiatan,” jelas Humas Impala, Wahyu Dwi Alfianto.

Beberapa kali UKM Impala telah mengajukan izin untuk berkegiatan langsung di beberapa tempat, namun dari pihak yang mereka tuju ternyata tidak memberikan izin. Imbasnya, hal itu membuat Rektorat juga enggan memberikan izin UKM Impala untuk melanjutkan kegiatan.

“Yang caving kemaren contohnya mau kegiatan penelusuran gua di Tulungagung. Itu terkendala izin dari pihak desa dan kecamatannya yang engga berani ngeluarin izin buat kegiatan mas. Terus juga Rock Climbing pas kita mau ke tebing Palawangan di Pasuruan itu juga sama. Soalnya kalo dari rektorat ini baru mau memberikan izin kegiatan pas dari pihak eksternalnya mau mengeluarkan izin,” lanjut wahyu.

Kuliah Daring Membuat UKM Lapangan Minim Beprestasi

Di masa pandemi seperti sekarang beberapa UKM lapangan mengalami kesulitan untuk berprestasi dan mengembangkan kemampuan mereka. Selain faktor kesehatan, kurangnya persiapan dan sulitnya berkoordinasi karena online menjadi faktor mereka untuk tidak mengirim kontingen ke perlombaan.

“Untuk semester ini tidak ada (kompetisi, red). Tapi kalo misal semester depan sudah luring InsyaAllah kita bakal mengikuti sama mengadakan juga,” ungkap salah satu pengurus UASB UB, Galang Chandra Wibowo.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Umum UAP UB Muhammad Hafizh Putranto. Ia menjelaskan selama pandemi ini, UAP tidak mengirimkan anggotanya untuk mengikuti lomba.

“Selama pandemi ini kami tidak mengirimkan kontingen atau mengikuti lomba dan event panahan apapun yang bersifat luring, dan untuk daring pun demikian,” Jelas Muhammad Hafizh Putranto.

Menyiasati Kegiatan UKM Saat Kuliah Daring

Meskipun harus terganjal terbatasnya izin tempat untuk berlatih ataupun berkegiatan, semangat UKM basis lapangan untuk tetap menjaga kekompakan dan skill mereka tidak mengendur. Pengurus dari UKM “basis lapangan” memutar otak mereka untuk mencari siasat agar bisa tetap melakukan kontrol kepada para anggotanya.

Salah satunya dengan menyiasati latihan rutin mereka dengan skema daring. Latihan daring ini diadopsi oleh UASB UB. Mereka memberikan video latihan kepada para anggotanya, kemudian setiap anggota melakukan gerakan yang sama dengan video latihan yang telah dikirim dan mengunggahnya di media sosial.

“Jadi kita seminggu sekali kasih contoh workout berupa video gitu. Kita share di grup futsal. Dari situ nanti temen-teman disuruh (buat) story di Instagram masing-masing untuk kita pantau perkembangannya,” jelas Galang.

Hampir sama dengan UASB UB, Marching Band Ekalavya juga melakukan latihan secara daring namun melalui aplikasi teleconference. Mereka berlatih gerakan-gerakan secara lambat agar para anggota bisa mengikuti latihan dengan baik.

“Sistemnya itu kita memberi contoh gerakan atau materi lewat Zoom yg diberikan oleh asisten pelatih materi latihan di hari itu. Besoknya pada latihan selanjutnya, kita reviu lagi materi yg telah diberikan antara hari latihan pertama ke latihan selanjutnya kan ada jeda beberapa hari.

Nah, disitu para anggota diminta untuk mengirim video yg mereka buat untuk menirukan gerakan sikap siap hormat maupun gerakan yg lainnya untuk dikoreksi,” jelas Ketua Marching Band Ekalavya, Aliffiya Ayuning Dewi, mahasiswa FAPET 2017.

Hal berbeda tampaknya dilakukan oleh UAP. UKM panahan ini melakukan latihan luring atau tatap muka secara langsung di lapangan namun dengan menaati protokol kesehatan dan aturan yang ketat serta harus mendapat izin dari birokrat terlebih dahulu.

“Jadi selama pandemi, kami menerapkan kebijakan untuk membatasi pergerakan orang dengan menetapkan hanya yang berada atau berdomisili Malang Kota saja yang dapat latihan secara tatap muka di lapangan UB, serta mengedepankan protokol kesehatan di lapangan dengan membatasi jumlah orang per harinya maksimal 20 orang,” Jelas Hafizh Putranto,

Hafizh juga menambahkan mengenai prosedur perizinan dan syarat yang harus dipenuhi untuk bisa melakukan latihan secara luring di lapangan.

“Kami mulai mengadakan latihan tatap muka kembali dengan berbagai persyaratan seperti,  anggota/atlet yang akan berlatih harus mengumpulkan minimal 5 orang dan maksimal 15 orang, lalu melapor kepada pengurus terkait. Setelah semua persyaratan telah terpenuhi dan melalui rantai birokrasi yang sesuai, maka kegiatan latihan tatap muka dapat dilaksanakan,” pungkas Hafizh

Nampaknya secara keseluruhan UKM basis lapangan memang mendapat tantangan yang besar di masa pandemi. Mulai dari banyaknya kegiatan yang tidak berjalan, belum adanya prestasi yang bisa dihasilkan, sampai persoalan kekompakan dan interaksi antar anggota yang menurun karena paksaan kondisi.

Meski begitu, UKM-UKM ini tetap mengusahakan yang terbaik bagi anggotanya. Pun pengurus UKM basis lapangan masih berharap keadaan lekas membaik agar kegiatan bisa berlangsung sebagaimana mestinya. Sampai di titik sana nantinya, mereka masih terus menjaga semangat yang ada di masing-masing UKM.

Penulis: Moch. Fajar Izzul Haq, Faisal Amrullah
Editor: Anggik Karuniawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.