Ilustrasi: Freepik

MALANG-KAV.10 Awal tahun ajaran 2020/2021 memberikan kesan yang berbeda dari tahun sebelumnya kepada Mahasiswa Baru Angkatan 2020. Apa Itu? Ya, Kesan berbeda tersebut datang dari perkuliahan daring.

Itulah jawaban yang saya dapatkan dari mahasiswa-mahasiswa baru Universitas Brawijaya. Hal ini lantaran virus Covid-19 yang mewabah begitu cepat, dan belum ada tanda-tanda bahwa penyebarannya akan berhenti.

Alhasil serangkaian kegiatan yang seharusnya diadakan secara tatap muka, berganti menjadi daring. Tentu saja, hal ini membuat ekspektasi saya dan teman-teman angkatan 2020 (yang selanjutnya akan saya sebut sebagai Maba) tentang kehidupan perkuliahan pupus, lantaran belum berkesempatan mencicipi kehidupan perkuliahan secara langsung atau luring.

Sekitar 3 bulan yang lalu, seluruh mahasiswa UB mendapat kabar bahwa Rektorat Universitas Brawijaya, mengeluarkan SK bahwa kuliah semester 2 masih akan berlangsung daring. Tentu saja banyak reaksi yang muncul, khususnya dari kalangan Maba, apalagi berkenaan dengan kondisi sosial Maba ini.

KONTRA

Hal ini terbukti ketika saya dan dua orang rekan saya melakukan wawancara dan diskusi santai yang membahas tentang perkuliahan daring.

“Berkomunikasi saat pandemi menjadi hal yang sulit lho, sebab kita tidak bertemu secara langsung dengan teman-teman,” ujar Elizabeth Thea Setiawan, mahasiswa baru FMIPA, Prodi Kimia.

Sontak saya pun tertarik untuk membahasnya lebih lanjut. Saya dan rekan saya kemudian melontarkan beberapa pertanyaan tambahan. Salah satunya adalah bagaimana cara Maba untuk dapat berkomunikasi satu sama lain. Dari pertanyaan ini, saya mengetahui bahwa media yang sering digunakan biasanya adalah Whatsapp dan Online Meeting Conference.

Maba yang akrab dipanggil Thea ini juga menjabarkan bahwa keakraban sangat susah untuk dibentuk melalui hal-hal seperti Online Meeting Conference ataupun aplikasi pesan.

“Gimana ya, kita kan belum tahu tuh sifat orang aslinya gimana, jadi kemungkinan bakal susah sih kalau mau akrab secara langsung, soalnya emang belum pernah ketemu gitu, lalu kayak pas online itu kayak lebih kaku kadang, karena ada format khususnya, jam chat, dan lain-lain” katanya sambil diselingi tertawa kecil.

Hal ini juga senada juga diungkapkan oleh Eugenia Puspa, mahasiswa baru FMIPA Prodi Biolog mengenai keakraban antar mahasiswa baru.

“Umm..susah sih mengakrabkan diri sama teman-teman, apalagi media yang dipakek cuma zoom, WA. Jadi saya ndak tahu gitu bagaimana reaksi teman-teman waktu diajak komunikasi,” ujarnya .

Fakta tersebut berlaku juga bagi Maba dari fakultas lain yang sudah diwawancarai secara online oleh rekan liputan saya. Mahasiswa baru Fakultas Pertanian, Gibran Af Kara yang berpendapat bahwa semuanya kembali pada diri masing – masing dan memang bersosialisasi secara virtual ini menjadi momen tantangan yang besar bagi mahasiswa baru.

PRO

Berkebalikan dengan hal tersebut, ketika dihubungi secara online oleh rekan liputan saya.  Adrian Ahmad dari Fakultas Teknik, prodi Teknik mesin, mengaku bahwa komunikasi via online tidaklah sulit. Ia merasa bahwa dengan ragamnya jenis media komunikasi online, membuat dirinya beserta teman-temannya tetap dapat saling mengakrabkan diri.

“Ya meskipun menghambat, bukan berarti tidak bisa akrab, tetep bisa kok. Bahkan saya ketemu teman yang asalnya Palembang, awalnya sih saya ndak terbiasa dengan logatnya, namun waktu sudah kenal sudah bisa akrab, meskipun ndak seakrab kalau offline ya,” ucap Ahmad.

Beberapa hal lain yang saya dan rekan saya tanyakan adalah terkait seberapa vital memiliki cicle pertemanan di dalam prodi maupun luar prodi. Tanggapan yang kami dapatkan pun cenderung sama.      

“Ya tentu saja sangat penting, karena kita kuliah ndak sendiri, circle baik akan membawa dampak yang baik juga bagi kita,” imbuh Ahmad.

“Kalau soal circle tentu penting ya, ndak hanya dari dalam prodi, luar prodi pun penting, karena Maba masih dalam masa pengenalan, jadi butuh teman yang bisa saling bantu dalam pelajaran, maupun hal lainnya,” jawab Aulya mahasiswa baru Vokasi prodi Manajemen Perhotelan senada dengan Ahmad.

Bahkan salah satu mahasiswa yang diwawancara oleh rekan saya sangat optimis dalam kondisi perkuliahan online di semester berikutnya.

“Saya optimis karena kita sudah memiliki circle pertemanan maka kita akan lebih mudah untuk hal satu sama lain dan juga kita masih dalam transisi maka pertemanan akan lebih erat karena kita mengalami rasa susah yang sama dan kita akan mengalami tingkat sosial yang lebih tinggi daripada sebelumnya ” jawab Jovan Lazuardi Sarwinanda, mahasiswa baru FPIK, Prodi MSP.

Fenomena ini dapat di analisis dalam sudut pandang Ilmu Komunikasi. Salah satu doesn Ilmu Komunikasi Fisip UB memaparkan bagaimana komunikasi yang terjalin antar Maba dalam perkuliahan daring ini.

“Hubungan sosial mahasiswa saat daring itu kaitannya dengan bentuk media yang berbeda, bentuk saluran komunikasi yang berbeda antara face to face dengan termediasi itu bisa menghambat. Jadi saat kita berkomunikasi secara face to face kita akan bisa berkomunikasi secara lebih lancar, maksud kita lebih tercapai, baik itu secara informasi kita tersampaikan,” kata Fariza Yuniar Rakhmawati, salah satu Dosen Ilmu Komunikasi UB.

Menurutnya, tujuan membangun relasi dengan orang lain juga akan lebih mudah tercapai saat menggunakan face to face comunication. Dalam bentuk komunikasi yang termediasi akan lebih banyak ditemukan hambatan.

“Dalam teori komunikasi ada media richness theory bahwa media yang paling kaya adalah face to face comunication,” lanjut Fariza.

Infografik: Hamim

Terkait keoptimisan membangun aspek sosial, saya dan rekan saya juga telah melakukan survei melalui Google Form terkait dengan kenyamanan komunikasi mahasiswa angkatan 2020.  

Dari 35 tanggapan yang masuk menunjukkan bahwa 45,7% merasa tidak nyaman berkomunikasi melalui via online meeting conference. Disisi lainnya 65,7% mayoritas mahasiswa merasa nyaman menggunakan voice note dan chatting.

Sedangkan, 54,3% mahasiswa merasa cemas terhadap aspek sosial mereka di semester depan yang masih diadakan secara daring. Dan yang terakhir, 51,4% mahasiswa bisa menunjukkan identitas sebenarnya atau bisa lebih membuka diri ke orang lain meskipun daring.

Dengan ini dapat dikatakan bahwa diadakannya perkuliahan daring tidak serta-merta memudahkan perkuliahan Maba. Aspek sosial dalam keakraban dan interaksi antar personal masih menjadi hambatan utama yang dihadapi oleh sebagaian maba dalam perkuliahan daring. 

Maba dihadapkan dengan PR baru untuk menyesuaikan keadaan dalam berinteraksi di lingkungan baru. Boleh jadi keadaan normal baru ini nantinya akan betul-betul menghasilkan kesan berkuliah yang berbeda dari apa yang pernah dicicipi angkatan-angkatan sebelumnya. Tapi saya rasa kita sama-sama mengharapkan keadaan bisa kembali seperti semula. Mari aminkan bersama-sama.

Penulis: Stevino Adi, Jihan Nabilah Yusmi, Madinatul Samudera
Kontributor:
Hamim Maulana Rahman
Editor
: Faisal Amrullah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.