MALANG-KAV.10 pihak Rektorat UB tidak memenuhi tuntutan Aliansi Mahasiswa Resah (Amarah) Brawijaya berupa pemotongan UKT sebesar 50%. Hingga masa pembayaran UKT dibuka pada 25 Januari lalu, besaran UKT bagi mahasiswa yang tidak mengajukan penurunan maupun yang pengajuannya tidak diterima masih sama.

Menindaklanjuti hal ini, Amarah Brawijaya mencanangkan “gerakan filantropi”. Gerakan ini merupakan gerakan dimana para mahasiswa bersama-sama mengulurkan tangan untuk mahasiswa yang tidak bisa membayar UKT.

Detail mengenai gerakan ini pun telah dipublikasi oleh akun resmi Amarah Brawijaya pada Senin (1/2).

Mengingat pembayaran UKT maksimal dilakukan pada tanggal 4 Januari 2021, pihak Amarah mengaku telah menjalin kerja sama dengan Eksekutif Mahasiswa (EM) UB untuk mengusahakan perpanjangan masa pembayaran.

“Kita melihat adanya gerakan filantropi ini dengan pembayaran UKT sangat mepet. Nah, ini EM sedang mengusahakan agar pembayaran UKT diperpanjang supaya meringankan teman-teman yang hari ini mungkin masih sulit untuk membayar UKT,” terang Raffy.

Ujung Upaya Pemotongan UKT 50%

Raffy menuturkan, pada 19 Januari telah diadakan audiensi dengan pihak rektorat. Audiensi tersebut diwakili oleh beberapa perwakilan mahasiswa, termasuk Advokesma EM.

“Nah, hasilnya dari audiensinya itu apa? Hasilnya ya, kalo dari tuntutan kita yang (pemotongan UKT, red) 50% otomatis itu sudah tidak bisa.” jelas Raffy ketika dimintai keterangan oleh awak Kavling10 pada Selasa (26/1).

Raffy menjelaskan bahwa rektorat hanya dapat memberikan bantuan keuangan melalui BEM Fakultas yang dikoordinir oleh EM.

Menanggapi Ketiadaan Pemotongan UKT

Sebelumnya, Amarah Brawijaya telah mengadakan diskusi yang bertajuk “Kebijakan Pemotongan UKT: Negara dan Kampus Abai?”. Diskusi yang diadakan pada 20 Januari ini dihadiri oleh Mirza Fahmi selaku manajer progam Lokataru Foundation dan Daniel Siagian dari YLBHI LBH Pos Malang.

Suasana forum Amarah Brawijaya via zoom meeting pada yang dihadiri oleh 75 orang. Foto: Farhan

Diketahui bahwa selama ini kampus selalu mengandalkan kebijakan menteri untuk membuat kebijakan bantuan UKT. Sementara itu, dalam diskusi ini, disorot prioritas pemerintah dalam pengalokasian dana. Pemerintah dinilai tidak berfokus pada ranah pendidikan, khususnya pendidikan tinggi melainkan pada sektor pariwisata.

Dari paparan data Mirza per Juni hingga Agustus, bantuan biaya pendidikan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah sebanyak 10 triliun mencangkup bantuan UKT mahasiswa, kuota pendidikan, dll. Hal ini berbanding terbalik dengan dana pemerintah yang dialokasikan pada sektor pariwisata yang mencapai hampir 30 triliun lebih.

“Jadi bisa dilihat prioritas negara kita ada dimana sekarang, soalnya omong kosong ya misalnya kita ngomongin pemulihan ekonomi nasional apabila pendidikan tingginya dibiarkan terbengkalai seperti ini. Dalam artian dikembalikan ke mekanisme pasar, dimana ada mahasiswa yang gak bisa bayar ya, di drop out,” ujar Mirza Fahmi selaku pemateri pertama diskusi.

Hal ini dinilai Mirza seakan-akan menjadikan pendidikan tinggi di Indonesia terbengkalai karena skala prioritas pemerintah tersebut. Padahal persoalan mengenai UKT di masa pandemi ini menjadi masalah yang dialami semua mahasiswa Indonesia

“Jangan cuma ngomongin kampus merdeka doang dong, bagaimana hak saya (sebagai mahasiswa, red) dalam menempuh pendidikan tinggi,” terang Mirza fahmi.

Ia pun berharap kepada mahasiswa dan pihak kampus agar keduanya bersama-sama menuntut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem mengenai bagaimana kelangsungan mahasiswa dalam menempuh pendidikan tinggi.

Pemateri lainnya, Daniel Sinagian berpendapat bahwa permasalahan ini disebabkan pula karena konfigurasi politik Indonesia yang elitis, sehingga cenderung memihak kepada kelompok-kelompok tertentu.

“Bahwasanya ada gambaran besar yang dimana politik kita sekarang cenderung ke arah (kepentingan, red) elitis,” ujar Raffy Nugraha merumuskan pernyataan Daniel.

Penulis: Ahmad Farhan Al Hamid, Ranti Fadilah

Editor: Priska Salsabiila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.