Menunggu diterima masuk ke Zoom meeting Rapat Evaluasi dan Supervisi Pemira. Foto: Priska

MALANG-KAV.10 Kemahasiswaan Rektorat mengadakan rapat untuk membahas keberlanjutan kepanitiaan Pemira UB 2020 pada 23 Desember malam hari. Rapat tersebut dihadiri oleh 2 perwakilan pihak kemahasiswaan, 2 panitia dosen,  5 anggota DPM UB, 16 panitia pelaksana, serta 28 pengawas.

Ketua Panitia Pelaksana Muhammad Nur Arifin, Ketua Panitia Pengawas Muhammad Rosa Sya’roni, dan Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UB Imaduddin Al Azzam menyampaikan keberatan mereka atas intervensi yang dilakukan rektorat saat penerimaan berkas dari kandidat di tanggal 23 Desember 2020.

“Kepada pak Aan (Arief Andy Soebroto, red) saya menjelaskan bahwa saya menjalankan sesuai dengan tupoksi, sesuai undang-undang. Saya menjalankan sesuai tata tertib dan SOP yang berlaku,” ungkap Roni.

Arifin juga menjelaskan panjang lebar mengenai keberatannya mengenai lini masa yang diperpanjang oleh Kemahasiswaan di luar yang sudah disepakati sebelumnya. Namun, belum sampai selesai menyampaikan, ia dikeluarkan oleh pihak Kemahasiswaan dari forum yang saat itu berlangsung via Zoom.

“Aku dikeluarkan oleh Kemahasiswaan dari forum saat menyampaikan kebenaran di depan mereka,” kata pria yang akrab disapa Ipin itu.

Roni membenarkan hal ini. Pada saat itu Kemahasiswaan mengeluarkan Arifin karena dianggap tidak sesuai dengan adab berbicara yang seharusnya. Hal ini dikatakan disampaikan langsung oleh Arief.

“Kemahasiswaan membahasnya mengenai suul adab (perangai yang buruk, red) dalam berbicara. Sementara kemahasiswaan yang mengeluarkan Arifin ‘kan juga suul adab berbicara,” ungkap Roni.

Berselang tujuh hari, persoalan pemberkasan ini tidak kunjung usai. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Abdul Hakim kemudian mengadakan kembali rapat di tanggal 30 Desember 2020. Rapat itu diadakan dengan tajuk “Rapat Evaluasi dan Supervisi Pemira Online UB 2020”. Untuk rapat ini, panitia pelaksana inisiatif menyediakan Zoom untuk rapat tersebut.

Ipin menyatakan bahwa hal ini dilakukan untuk membuka forum dan meminimalisir adanya intervensi dari pihak Kemahasiswaan berupa pengeluaran orang dari forum seperti yang terjadi pada rapat sebelumnya. Sama seperti waktu yang ditetapkan Kemahasiswaan, forum ini dibuka pukul 13.00 WIB.

“Kami (Panitia Pelaksana, red) tidak akan melakukan yang serupa,” kata

Pada ruangan Zoom yang tautannya disediakan oleh panitia, turut hadir pula anggota DPM UB dan rekan-rekan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa). Disampaikan oleh Ipin bahwa dalam undangan yang disebarkan oleh Kemahasiswaan, hanya beberapa perwakilan DPM yang diundang untuk hadir. Selain itu, undangan juga diperuntukkan untuk beberapa pihak lain yang ditulis sebagai “perwakilan”.

Undangan rapat. Foto: Istimewa

Namun, pada pesan lanjutan yang dikirimkan, terdapat daftar nama-nama yang terlampir sebagai daftar undangan. Ada 23 nama yang terlampir, termasuk perwakilan anggota DPM yang dimaksud. Di antaranya: Staf Ahli WR II, Plt. Ka BAK, WD III FIB, WD III FKH, Imaduddin Al Azzam, M. Nur Arifin, M. Rosa Sya’roni, M. Maulana Nasution, Amrinadhif Akbar, Elma Putri, M. Yarizki Ramadhan, Al Farriz Sandro, Desna Ayu, Adam Enrico, Chandra Pramana, Denius, Dani Munawir, Kautsar Ibnu, Fara Fazira, Irma Mulyaricha, Alif Oktavina Nurjannah, Ali Yafie, Juwita Wulandari. Menurut Ipin, hal ini merupakan upaya intervensi lain dari pihak Kemahasiswaan.

“Di sini kami mau memfasilitasi kawan-kawan. Tidak ada pembatasan hak dalam berbicara. Di sini juga aku mengajak teman-teman DPM yang sebenarnya tidak diundang oleh mereka (Kemahasiswaan, red) yang tadi dilampirkan namanya. Agar kawan-kawan bisa tahu kejelasan yang ada dalam kepanitiaan itu sendiri,” ujar Ipin selagi menunggu pihak Kemahasiswaan bergabung pada tautan Zoom yang disediakan panitia.

Ipin juga menyebutkan bahwa pengundangan berbagai pihak ini merupakan salah satu upaya untuk menunjukkan independensi panitia pelaksana. Menurutnya, indikasi intervensi dari Kemahasiswaan dalam forum dapat diminimalisir dengan hadirnya pihak-pihak lain sebagai saksi.

“Di sini aku mau membuktikan, aku mengumpulkan kawan-kawan panitiaku bahwasanya mereka membela, mereka tidak mau disetir oleh Kemahasiswaan. Tidak mau disetir oleh kepentingan apapun itu,” lanjut Ipin.

Hingga waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB, belum ada pihak Kemahasiswaan yang memasuki ruangan Zoom. Sementara itu diketahui rapat oleh pihak Kemahasiswaan tetap berjalan secara semi-daring melalui ruangan Zoom yang lain dan dengan beberapa pihak yang hadir secara langsung di Rektorat.

Awak KavIng10 sempat diberikan kode dan kata sandi tautan Zoom yang disediakan Kemahasiswaan sebagai perwakilan dari pihak LPM oleh panitia. Irfan Abdurahman selaku CO Humas Pemira pada saat itu juga diminta untuk masuk ke ruangan Zoom Kemahasiswaan agar dapat menyampaikan langsung undangan ke pihak Kemahasiswaan. Namun hingga rapat selesai, Awak Kavling10 tidak kunjung diterima masuk ke dalam forum Zoom.

Kelanjutan Pemira yang Saat Ini Buntu

Muhammad Sahal, salah satu DCT DPM, mengaku belum ada arahan lebih lanjut dari pihak Panitia Pemira. Hal ini disampaikannya saat dihubungi awak Kavling10 pada Rabu (7/1).

“Iya (belum ada arahan lebih lanjut, red). Ada sedikit kendala di internal. Mungkin akan ditindak langsung oleh rektorat,” ujar Sahal.

Ia membenarkan bahwa belum adanya kelanjutan Pemira ini merugikan DCT. Meski begitu, menurut Sahal, dengan belum adanya kelanjutan, ia justru dapat memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan hal lain.

“Saya menganggap memang merugikan DCT karena timeline tidak berjalan sesuai. Namun saya juga bersyukur karena ada beberapa hal yang bisa saya kerjalan selain ini,” lanjut Sahal.

Berdasarkan lini masa terbaru Pemira UB 2020, tanggal 30 Desember seharusnya merupakan pekan awal kampanye. Sementara itu hari Minggu (3/1) kemarin seharusnya sudah dilakukan sosialisasi tata cara penggunaan Portal Pemira UB. Namun hingga hari ini (9/1) terpantau belum ada unggahan terbaru di media sosial Pemira.

Menurut Roni, pada saat ini belum ada kejelasan pasti dari kelanjutan pelaksanaan Pemira UB 2020.

“Belum (bisa dilanjutkan ke rangkaian Pemira selanjutnya, red). Masih belum jelas juga,” pungkas Roni.

Penulis: Salsabila Raihani, Lydia Wahyuni
Editor: Priska Salsabiila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.