Suasana diskusi publik UAPKM UB yang dihadiri pihak Rektorat. Foto: Priska

MALANG-KAV.10 Pihak Rektorat Universitas Brawijaya (UB) menjawab pertanyaan-pertanyaan mahasiswa terkait kuliah daring dalam diskusi yang diadakan Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UAPKM) UB pada Jumat (17/12) lalu. Diskusi ini bertajuk “Kesiapan Institusi Pendidikan dalam Melaksanakan Kuliah Daring”.

Sebelumnya, UB telah mengambil kebijakan pelaksaan perkuliahan secara daring melalui Surat Edaran Rektor No. 9667/UN10/PP/2020. Wakil Rektor (WR) 1 Bidang Akademik Aulanni’am menjelaskan alasan UB tetap melaksanakan kuliah secara daring di semester genap mendatang.

“Satu poinnya adalah apapun itu, kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga pendidik, warga masyarakat, merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran,” jelasnya.

WR 1 juga memaparkan bahwa kebijakan tersebut telah melalui diskusi yang panjang bersama para pimpinan UB serta berpedoman pada kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Agama (Kemenag), dan Pemerintah Daerah Kota Malang.

“Kondisi (Covid-19, Red) di Jawa Timur, khususnya Malang, masih di tingkat yang mengkhawatirkan,” tegasnya.

Muncul beragam respons mahasiswa terhadap surat edaran rektor yang terbit pada 8 Desember 2020 lalu. Salah satunya mengenai kegiatan praktikum serta kegiatan lainnya yang dirasa perlu dilaksanakan secara luring.

“Untuk berkegiatan yang mengharuskan masuk ke laboratorium, harus atas izin dari kampus dan orang tua. Tentunya juga harus tetap mematuhi protokol kesehatan dengan waktu yang juga terbatas,” jelas WR1.

Selain itu, WR1 menyadari bahwa hasil perkuliahan daring tidak semaksimal perkuliahan luring. Untuk menyiasatinya, pihak rektorat sudah memberikan pelatihan bagi dosen dan tenaga pendidik lain yang gaptek.

“Sehingga pembelajaran di rumah melalui media yang telah tersedia secara daring ini dapat digunakan sebaik mungkin,” paparnya.

Pemateri lain yang hadir pada diskusi adalah Indra Charismiadji selaku Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS). Indra menanggapi situasi pembelajaran daring di masa pandemi ini sebagai persiapan untuk menghadapi era digital yang lebih maju di masa depan.

“Pekerja di abad 21 dituntut menguasai hal yang baru, yang lebih kompleks, tidak lagi bersifat lokal, tetapi sudah menuju global,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa di era digital ini, manusia dituntut menjadi inovator dan kreator. Bukan lagi menjadi job seeker melainkan menjadi job creator. Sehingga menurutnya, teknologi itu hanyalah alat, yang terpenting adalah manusianya.

“Bisa nggak manusianya itu memang beradaptasi dengan cara belajar di era digital ini,” Tegasnya.

Memasuki sesi tanya jawab, terdapat pertanyaan mengenai penugasan dari perkuliahan daring yang dirasa lebih banyak daripada ketika perkuliahan luring yang ditujukan kepada WR1. Beliau menjelaskan bahwa pemberian tugas yang lebih banyak dikarenakan demi mencapai target materi di waktu pembelaran yang terbatas ini.

“Mahasiswa (punya, Red) tugas (kuliah, Red) yang banyak? Kan sekarang bisa dikerjakan di rumah,” ujarnya.

Selain itu, salah satu mahasiswa Jurusan Psikologi UB mempertanyakan kejelasan standardisasi pembelajaran synchronous dan asynchronous. Menurutnya, pembagian waktu tatap muka daring atau syncrhronous tidak jelas karena beberapa dosen lebih banyak memberikan tugas daripada memberikan kuliah secara synchronous.

Menanggapi pertanyaan tersebut, WR1 menjelaskan bahwa sistem pembelajaran telah diatur dalam buku pedoman perkuliahan daring dan sudah jelas standarisasinya.

“Jadi di UB sebetulnya sudah ada panduan (pembelajaran daring¸ Red), sebetulnya semua dosen tahu tentang panduan itu. Ada buku panduan pembelajaran daring dan disitu sudah tersusun bagus,” ujarnya.

Menjelang akhir diskusi, Indra menyampaikan sudah seharusnya dunia pendidikan memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Untuk mengoptimalkannya, dibutuhkan banyak perubahan sekaligus menuntut semua pihak untuk beradaptasi.

“Sebetulnya dengan adanya pandemi Covid-19 ini, (merupakan, Red) waktu yang tepat untuk bertransformasi,” pungkasnya.

Penulis: Sheilla Anggi Putri P (Anggota magang)
Editor: Octavio Ritung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.