Ilustrator: Mila

Penulis: Abidah Ardelia Chosal (Anggota Magang)

Pernahkah kalian mendengar cerita dongeng Cinderella, Putri Salju, atau Sleeping Beauty? Pasti pernah, bukan? Saking populernya, seringkali dongeng khas anak-anak ini diceritakan para orang tua kepada anak-anaknya saat hendak tidur sebagai penyampai pesan moral.

Selain sebagai hiburan, dongeng juga disinyalir bermanfaat untuk menciptakan kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Namun, tahukah kalian, bahwa dongeng anak-anak tersebut sebenarnya membawa dampak negatif pada anak?

Dalam kajian sosiologi, tahapan sosialisasi pada anak-anak masih berada dalam Preparatory Stage dan Play Stage atau tahap persiapan dan tahap meniru. Itu artinya, anak-anak akan mencerna dan meniru apa pun yang diajarkan kepadanya tanpa bisa memilah mana yang baik dan buruk.

Oleh karena itu, pada tahap ini penting bagi orang tua untuk memperhatikan apa yang harus diceritakan pada anak-anak. Karena apa yang diajarkan kepada mereka akan berpengaruh pada konstruksi stigma dan perilaku saat dewasa. Sayangnya, kebanyakan orang tua memberikan kisah dongeng-dongeng yang justru berdampak buruk pada anak.

Dongeng-dongeng yang sering kita temui seperti cerita Cinderella di atas umumnya mempunyai alur yang cukup mirip: seorang gadis yang baik hati dengan hidup menyedihkan, lalu bertemu dengan ibu atau saudara tiri yang jahat. Suatu ketika, datanglah pangeran penyelamat dan mereka saling jatuh cinta, lalu tralala trilili mereka hidup bahagia selama-lamanya~~

Jika kita perhatikan, cerita tipikal tentang gadis baik-baik yang pasrah menunggu sang pangeran ini secara tidak langsung memengaruhi mindset kita, terutama perempuan. Dengan imajinasi anak-anak, mereka bakal berpikir kelak akan ada laki-laki tampan pujaan yang datang menyelamatkan dari kejamnya dunia. Belum lagi, tokoh perempuan dalam cerita dongeng selalu digambarkan begitu pasif—lemah dan tak bisa berdiri membela diri.

Pada tahun 1981, dunia psikologi mulai mengenal istilah sindrom ‘cinderella complex’. Melalui bukunya, Women’s Fear of Independence, Calotte Downing mendefinisikan istilah ini sebagai kecenderungan alam bawah sadar seorang perempuan untuk selalu ingin diselamatkan dan dilindungi oleh seorang pria untuk dijadikan tameng dalam kehidupannya.

Masalah berikutnya muncul dari cerita dongeng Sleeping Beauty. Dongeng ini menceritakan seorang putri kerajaan yang dikutuk untuk tidur seperti mati. Kutukan itu baru bisa dipatahkan apabila sang putri mendapat ciuman oleh sang cinta sejati. Suatu hari, datang seorang pangeran yang terkagum akan kecantikan sang putri. Ia pun mencium putri tersebut agar sang putri bangun. Dan tralala~ sang putri dengan ajaibnya terbebas dari kutukan.

Lagi-lagi, dalam dongeng ini tokoh perempuan diceritakan sebagai tokoh yang sangat pasif dan tidak membawa dampak apa pun. Sedangkan tokoh laki-laki, digambarkan sebagai pahlawan super penyelamat yang tiba-tiba datang entah dari mana. Sang putri merupakan sosok perempuan ideal di bawah masyarakat yang patriarkis karena menyimbolkan kelemahan dan selalu diam dalam penindasan.

Jika kita telaah lagi, kisah putri tidur tersebut merupakan bentuk pemerkosaan yang diromantisasi. Bagaimana pun, setiap orang mempunyai otoritas atas tubuhnya dan sudah sepantasnya siapa pun harus meminta izin terlebih dahulu untuk melakukan apa pun terhadap tubuh seseorang.

Infografik/Adel

Ciuman tanpa adanya persetujuan atau konsensus oleh sang pangeran merupakan bentuk pemerkosaan yang selama ini, ironisnya, tidak kita sadari. Hal ini berdampak pada pemakluman akan pelecehan-pelecehan yang (biasanya) dilakukan kaum laki-laki kepada kaum perempuan. Banyak orang menganggap pemaksaan akan hal-hal seksual seperti ciuman tiba-tiba tanpa persetujuan merupakan sesuatu yang romantis dan wajar.

Stigma ibu tiri yang jahat juga tumbuh subur sebagai akibat dari menjamurnya kisah dongeng. Dalam dongeng Cinderella dan Putri Salju, sosok ibu tiri hadir sebagai sosok antagonis yang jahat dan selalu menindas sang tokoh utama.

Dongeng lokal ‘Bawang Merah dan Bawang Putih’ pun demikian. Hal ini menimbulkan stigma terhadap ibu tiri yang selalu dipandang buruk dan menakutkan bagi anak-anak. Walaupun tentu saja, dalam realitanya, beberapa kita temui kasus ibu tiri berbuat jahat pada anak tirinya. Namun, tak sepatutnya kita menggeneralisasi hal ini.

Kisah dongeng Cinderella, Putri Tidur, dan Putri Salju yang selama ini kita ketahui merupakan hasil dari perubahan alur yang dilakukan oleh Walt Disney dalam bentuk kartun animasi. Pencipta asli dari dongeng-dongeng tersebut adalah dua orang bersaudara asal Jerman, Jacob Ludwig Karl Grimm dan Wilhelm Carl Grimm yang lazim dikenal dengan Grimm bersaudara.

Animasi kartun adaptasi dongeng karya Grimm bersaudara oleh Disney pertama kali muncul pada tahun 1937. Animasi kartun tersebut berjudul ‘Snow White and The Seven Dwarfs’, disusul dengan ‘Cinderella’ pada tahun 1950 dan ‘Sleeping Beauty’ pada tahun 1959. Setelahnya, Disney tak lagi meluncurkan serial putri disney selama kurang lebih 30 tahun.

Pada periode inilah gerakan feminisme mulai mendapat banyak sorotan di dunia barat, termasuk di Amerika Serikat. Banyak kritik dilayangkan terhadap animasi terbitan Disney yang patriarkis tersebut. Pada tahun 1989, Disney akhirnya kembali merilis animasi kartun putri disney yang berjudul ‘The Little Mermaid’. Meski kadarnya sedikit, Disney terlihat cukup mengikuti permintaan pasar dengan menciptakan tokoh perempuan yang mandiri dan independen dalam karakter Putri Ariel.

Disney pun secara bertahap mulai melakukan evolusi terhadap karakter-karakter putri disney yang diciptakannya. Dalam film-film berikutnya, citra perempuan ciptaan Disney yang awalnya selalu digambarkan lemah dan pasif berkembang menjadi pemberani dan independen.

Hal ini terlihat dari film-film daur ulang terbaru produksi Disney seperti Beauty and The Beast, Aladdin dan Mulan yang menggambarkan tokoh perempuan yang berani. Disney juga menciptakan karakter tokoh putri keturunan Afrika-Amerika pertama, yaitu Tiana.

Walaupun beberapa karakter Disney masih menyisakan kontroversi, yah … setidaknya ada upaya dari raksasa perusahaan film tersebut untuk tetap meraup keuntungan melepaskan diri dari kritik kaum-kaum feminis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.