Potret pelaksanaan Pemira dan Pemilwa serentak tahun 2019 di RSSA. Foto: Priska

MALANG-KAV.10 Seluruh mahasiswa Universitas Brawijaya akan melakukan Pemilihan Raya (Pemira) 2020 secara daring. Pemira 2020 dicanangkan terlaksana pada bulan Januari 2021. Terdapat beberapa perbedaan yang jelas dari tahun-tahun sebelumnya, di antaranya mengenai syarat dan cara pemilihan.

Hal ini disampaikan Ketua DPM UB Imaddudin Al Azzam. Syarat untuk memilih dalam Pemira 2020 tidak lagi perlu menggunakan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) maupun Kartu Tanda Mahasiswa Sementara (KTMS). Sementara cara pemilihan yaitu menggunakan sistem e-vote yang dilakukan di tempat tinggal masing-masing.

“Verifikasi (sistem Pemira, red) hanya (dapat dilakukan oleh, red) mahasiswa aktif dan itu dilakukan secara otomatis oleh sistem yang sedang dibuat pihak IT UB,” ujar Imad.

Selain itu, menurut Ketua Pelaksana Pemira 2020 Muhammad Nur Arifin, terdapat beberapa perbedaan lain dari pelaksanaan Pemira yang akan dilaksanakan pada 26 Januari 2021 mendatang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikatakannya pada Senin lalu (23/11) ketika dihubungi via Whatsapp.

Salah satunya terkait kampanye yang dilakukan masing-masing kandidat. Kampanye Pemira tahun ini dilakukan dengan waktu sekitar kurang lebih 4 minggu. Waktu kampanye ini dipastikan oleh panitia lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Untuk mekanismenya pun cukup berbeda. Karena usul panitia agar portal dari UB tidak hanya untuk voting tetapi juga untuk kampanye tidak disetujui, maka panitia pun melimpahkan kepada tim sukses dari masing-masing wakil kandidat agar mengampanyekan di sosial media masing-masing,” ujar Arifin.

Arifin juga menambahkan terkait mekanisme dalam pemilihan Pemira. Rencananya, akan ada uji publik terlebih dahulu sebelum melakukan pemilihan kandidat. Dalam tata caranya, mahasiswa UB akan mengakses portal e-vote untuk melakukan pemilihan secara uji coba sebelum melakukan pemilihan di hari H.

Terdapat beberapa langkah yang akan diambil untuk meminimalisir kecurangan dalam Pemira 2020. Imad mengatakan hal ini dilakukan dengan cara membangun kepercayaan mahasiswa, rektorat, maupun IT yang membuat media platform online voting-nya. Selain itu juga dengan melengkapi regulasi-regulasi yang sudah dibuat melingkupi tata tertib, undang-undang, SOP atau aturan-aturan lainnya.

Imaduddin juga mengaku bahwa dalam pelaksanaan pemira kali ini DPM hanya bertugas sebagai pengarah. DPM melakukan tugasnya dengan hadir pada rapat-rapat Panitia Pemira 2020 serta memberikan masukan serta evaluasi kepada jalannya Pemira. Sedangkan untuk pengawas pada jalannya kegiatan pemira merupakan bagian dari panitia Pemira sendiri.

“Untuk pengawasannya sendiri yang dilakukan di tahun ini dengan segala keterbatasan harus online gitu ya dengan hadir pada rapat-rapat, memberikan masukan, evaluasi semacam itu. Kemudian yang ada di Malang juga selalu memantau berjalannya kepanitiaan,” pungkas Imad.

Penulis: Lydia Wahyuni
Editor: Priska Salsabiila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.