Ilustrasi: Faisal

Oleh: Ivan Yusuf Juliar P.

Ker hanya bisa berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Ciut nyalinya untuk menarik gagang pintu dan melihat wajah-wajah tulus keluargannya yang menantinya pulang. Di kepala lelaki berusia 30 tahun itu, terbayang wajah cerah si Sulung yang antusias menceritakan persiapannya menjadi mahasiswa baru, ada wajah riang si bungsu yang tidak pernah lupa menagih janji ayahnya untuk liburan, juga wajah teduh perempuan yang tanpa pretensi apa-apa mau menemaninya belasan tahun lamannya.

Membayangkan wajah yang terakhir, nyali Ker kembali menciut. Seluruh pertahanan tubuhnya meluruh dan jatuh. Bagaimana perempuan yang telah menjadi ibu bagi anak-anaknya itu tidak pernah menuntutnya banyak. Minggu depan adalah jadwal cuci darah istrinya. Kenyataan bahwa malam ini dia kehilangan pekerjaannya tentu bukan harapan yang baik. Lelaki itu lalu memundurkan langkahnya pelan, dia belum siap. Dia tidak akan pulang. Setidaknya untuk malam ini.

***

Di sudut yang lain, perempuan yang baru tiga tahun lulus dari perguruan tinggi itu hanya tertunduk lesu di depan meja kerjanya. Seperti malam yang menghalau terang, mimpinya kali ini akan segera meredup dan hilang. Beberapa baris pesan yang tertampang di layar gawainya seolah menjadi gravitasi yang menarik dirinya untuk kembali menapak pada realitas yang selama ini tak diindahkannya.

Nduk, bapak sudah pesan. Tugas perempuan itu hanya satu: mengabdi di rumah. Bulan depan, kalau posisimu tetap tidak berubah. Kamu harus langsung balik. Calonmu masih setia menunggu disini,” tulis pesan itu.

Membayangkan kepulangannya sama seperti membayangkan mimpi-mimpi yang belasan tahun di rangkainnya harus segera terkubur. Dalam mimpi-mimpinya, perempuan itu tidak meminta banyak. Dia hanya ingin dipercaya bahwa kerja kerasnya di bangku Pendidikan selama ini mampu menopang tegak tubuhnya sendiri. Mus, begitu perempuan itu dipanggil hanya ingin membuktikan kepada orangtuanya bahwa meski dirinya seorang perempuan dia mampu untuk mencari penghidupan dan membahagiakan orangtuanya lewat jerihnya sendiri.

Namun mimpi memang tidak melulu tentang mimpi baik. Kali ini hanya mimpi buruk yang mendatanginnya. Kantor yang menjadi tempatnya bekerja selama 3 tahun tidak pernah mengangkat posisinya sebagai karyawan tetap. Padahal, kinerjanya selama ini tidak tanggung-tanggung. Mus rela lembur bahkan sampai subuh meski tidak dibayar secara layak. Mus juga selalu mengerjakan pekerjaannya tepat waktu dan jarang kena complain.

***

Di belahan yang lain, Ale, anak kecil berusia 9 tahun itu memeluk kaki-kaki kecilnya di pinggiran kali belakang rumah. Pandangannya menyelusur ke setiap sudut-sudut kali yang akrab menjadi tempat bermainnya selama ini. Tidak ada pemandangan teman-temannya yang selalu tertawa riang bermain dan mandi di kali, tidak juga ada ibu-ibu di kampungnya yang sibuk mencuci pakaian sambil bercerita tentang kehidupan mereka. Di kali benar-benar tidak ada siapa-siapa. Hanya ada dirinya yang menyendiri di temani suara terpaan angin yang menggesekkan daun dan ranting pohon jati. Diantara kebingungan yang mendiami kepalanya, ada satu hal yang paling membingungkan isi kepalanya. Mengapa air kali di depannya tiba-tiba berubah keruh dan bau. Bukankah masih dua hari yang lalu warna air kali itu masih jernih tak bernoda.

Kedua bola mata mungilnya lalu bertemu dengan bangunan megah yang terletak jauh di ujung sungai. Bangunan baru yang kata ibunya bernama pabrik itu baru berdiri sekitaran semingguan lamannya. Kata beberapa orang di kampungnya, pabrik itu mampu menyelesaikan masalah-masalah yang selama ini dikeluhkan warga kampung. Sementara yang terlintas di kepala bocah berusia 9 tahun itu hanya seutas pertanyaan: bagaimana caranya sebuah bangunan mati yang baru seminggu berdiri itu mampu mengatasi masalah-masalah manusia?, kepala mungil Ale masih berupaya berfikir. Kali ini, dia lupa masalah air kali yang tiba-tiba keruh atau perkara teman-temannya yang tidak lagi mau main ke kali.

***

Di sepanjang jalan, Ker hampir tidak pernah berhenti menggerutu soal kesialan nasibnya. Seraya merapalkan segala macam umpatan, pikirannya juga sibuk bekerja merangkai kejadian demi kejadian yang membuat atasannya memecat dirinya secara sepihak. Kejadian pertama berawal dari tiga bulan lalu saat atasannya memindahkan posisinya menjadi karyawan kontrak. Katanya, ini adalah prosedur yang harus ditaati karena sudah jadi kebijakan perusahaan. Sebagai karyawan kontrak, gaji yang diterimanya tentu mengalami penurunan. Belum lagi kabar burung yang beredar bahwa status sebagai karyawan kontrak sama artinnya bahwa nasibnya di perusahaan sudah di ujung tanduk. Benar saja, setelah tiga bulan berlangsung.

Masih dengan alasan yang tidak bisa diterima oleh nalarnya, perusahannya memecat Ker dengan alasan untuk perampingan karyawan. Padahal, kinerjanya selama ini juga tidak buruk-buruk amat. Profit perusahaan tempatnya bekerja juga sedang tidak bermasalah. Rangkaian kejadian demi kejadian yang menimpanya lalu berpusat pada satu hal yang dulu pernah sangat akrab di telingannya: UU Cipta Tenaga Kerja. Aturan legislatif yang “katanya” akan mencekik karyawan itu seperti telah menguak kebenarannya. Tidak hanya dicekik. Ker merasa nasibnya kini digantung oleh negara yang juga “katanya” ingin mengayomi penduduknya itu.

“Udah, deh. Nggak usah terlalu banyak expect buat cepet-cepet diangkat. Yang ada nanti bakal nyesel karena harapannya nggak bakal pernah ada,” perempuan dengan setelan kerja itu menceramahainya.

Mus hanya diam mendengarkan. Dia hafal betul rumus mati menjadi karyawan teladan. Atau kiat-kiat menaikkan performa kerja agar dilihat atasan. Juga semua wejangan terbaik yang pernah didengar pernah dilakoninnya selama bekerja di kantor ini. Tetapi tidak ada pertanda apapun yang akan mengisyaratkan bahwa dirinya akan segera diangkat.

“Gue nggak mau nikah dulu, Ran. Rasanya baru kemarin nikmatin hidup masa mau cepet-cepet ke neraka,” gerutu Ker saat tawaran bapaknya kembali terlintas di kepalannya.

“Udah nyoba apply tempat lain?”

“Udah. Tapi nggak ada panggilan interview. Waktu ngebuktiin ke bapak cuman tinggal bulan depan. Kita udah nyepakatin soal ini dari tahun lalu,” jelas Mus lemas.

“Emang tai ya si bos. Coba aja kalo UU itu nggak keburu disahkan pasti endingnya gabakal kayak gini. Ini tuh nggak hanya terjadi di kantor kita, tau Mus. Mulai dari kantor temen, sepupu, pacar gue yang ada di Bali juga kena getahnya. Bahkan, pacar gue sekarang udah gamau kerja kantoran lagi karena itu. Yah, mau gimana lagi? Gue juga kalo tetap kaya gini bakal dipaksa resign sama bonyok.”

“Hmm. Terus ini artinya gue bakalan nikah, dong?”

Perempuan yang dipanggil Ran itu hanya menatap Mus pasrah. Tidak ada satupun jawaban yang akan bisa menenangkan gemuruh di hati Mus. Ending permasalahannyajugasudah terbaca. Tanpa menunggu lama, Ran segera beranjak memeluk tubuh sahabatnya itu. Di antara dinginnya udara malam Jakarta saat itu, dua perempuan muda yang mengadu nasibnya pada takdir berusaha menenangkan badai yang berkecamuk di hati mereka. Betapa nasib tidak pernah memihak pada mereka yang tidak berduit, juga pada mereka yang terlahir tidak menjadi laki-laki, pikir mus.

***

Di tengah lamunan soal bangunan bernama pabrik yang “katanya” akan menyelesaikan seluruh masalah warga kampungnya, Ale dikejutkan dengan teriakan ibunya dari arah rumah. Buru-buru anak kecil itu bergegas menemui ibunya sebelum kena dampak karena tidak mau mendengarkan. Ibu Ale mengatakan bahwa teman sekolahnya yang bernama Didin 15 menit lalu dibawa ke Puskesmas setelah tadi pagi mandi di kali.

           “Emang kalinya kenapa sekarang, bu?,” tanya Ale.

           “Air kalinya kan sekarang kotor banget itu. Katanya, sih Didin keracunan atau kena penyakit dari kali. Udah, kamu sekarang nggak usah ke kali lagi. Kalo mandi di rumah aja sekarang!,” Ibu Ale menasehati.

Ale merunduk ketakutan. Bukankah tadi pagi dia juga sempat menemani Didin untuk mandi di kali? Bagaimana jika penyakit yang membuat Didin harus dibawa ke Puskesmas juga akan menyerang tubuhnya? Ale lalu membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi jika dirinya terserang penyakit yang sama yang menyerang Didin. Muntah-muntah, kulit badan  gatal-gatal, perut yang mulas kesakitan. Lebih buruk lagi, Ale membayangkan jika sampai dirinya dibawa ke rumah Puskesmas. Dia membayangkan dokter dengan wajah galak akan memarahinnya karena telah mandi di kali sambil tangannya membawa jarum suntik yang sudah siap untuk disuntikkan ke tubuh Ale.

           “Ahhhh!,” Ale berteriak ketakutan menuju kamar. Di kamar, dia menyembunyikan dirinya di balik selimut tebal agar tidak dibawa ke Puskesmas. Selintas, Ale kembali teringat dengan kata beberapa orang di kampungnya soal pabrik di ujung sungai. Tidak menunggu lama, ide untuk pergi ke pabrik itu segera muncul di kepalannya. Barangkali ucapan orang tersebut benar, fikirnya.

Sesampainya di pabrik ujung sungai, Ale dikejutkan dengan sejumlah warga yang berarakan sambil membawa poster-poster besar. Tanpa harus bertanya pun, anak seusia Ale bisa langsung menyimpulkan  bahwa warga yang berkerumun di depan pabrik itu sedang meluapkan amarahnya. Beberapa warga bahkan berteriak kesal menggunakan speaker yang dibawannya. Ale semakin kebingungan, mengapa warga kampungnya berkumpul dan marah-marah disitu. Apa yang salah dari bangunan yang katanya akan menyelesaikan semua masalah di kampungnya itu. Ale lalu tersadar ini bukan waktu yang tepat untuk minta harapan. Dengan perasaan kesal, anak kecil itu akhirnya terpaksa pulang.

***

Ker tidak punya jalan keluar, tawaran di depan matannya itu adalah satu-satunya harapan yang akan membawannya keluar dari permasalaahn ekonomi yang menjerat keluargannya.

“Zaman sekarang nyari duit itu susah, sayang. Ini udah paling pas. Aku nggak bakal nawarin ini  lagi, ya. Udah capek!” Perempuan paruh baya dengan tampilan necis khas orang berada itu berujar ringan.

“Tapi ini beneran ngasih untung, kan? Aku juga nggak mau rugi,” Ker mengkonfirmasi.

“100% untung. Masa iya bohong. Lihat aku dulu, nih. Semua yang aku punya sekarang ya berkat pekerjaan ini,” perempuan itu berusaha meyakinkan.

Ker terdiam cukup lama. Dia menimang tentang resiko yang bisa saja dialaminnya apabila pekerjaan ini diambil. Tapi sekilas berikutnya fikirannya terbayang tentang keluargannya yang sangat membutuhkan dirinnya. Bayangan tentang mereka membuat segala resiko yang akan diterimannya dari pekerjaan ini terasa tak berarti. Sebagai seorang suami sekaligus bapak, Ker menyadari bahwa tanggung jawabnya tidaklah kecil. Sejurus kemudian, tangannya terulur ke arah perempuan itu, mengisyaratkan sebuah persetujuan.

“Nah, gitu dong. Kalo gini kan enak. Oke, barangnya akan aku kasih besok. Kita ketemu lagi disini, ya. Jangan lupa pake topi, masker atau apapun supaya kamu nggak mudah dikenali, oke?”

Ker menangguk paham. Belum juga melakoni pekerjaan barunya itu. Dia sudah membayangkan bagaimana dia nanti akan bekerja memasarkan pil-pil narkoba itu ke pelangannya. Melihat perempuan paruh baya di hadapannya ini, nyali Ker seolah tertantang. Jika perempuan ini saja bisa melakoni pekerjaan penuh resiko itu, mengapa dirinya tidak. 

Sepanjang perjalanan pulang Ker melihat arak-arakan pendemo memadati jalan. Kendaraan yang ditumpanginnya bahkan sempat berhenti beberapa kali karena jalanan sudah di kuasai pendemo yang kesal. Meski tidak berdiri bersama mereka, Ker sepenuhnya paham luapan kekesalan yang tengah dirasakan pendemo itu sampai membawa mereka turun ke jalan.

Undang-undang Cipta Tenaga Kerja yang baru disahkan setengah tahun lalu itu telah membuat perubahan yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat. Para buruh pekerja yang sudah kesusahan mencari makan seakan makin disusahkan. Sistem kontrak karyawan sudah menjadi budaya yang dilakukan perusahaan sebagai dalih untuk meminimalisir pengeluaran usaha mereka. PHK menjadi satu-satunya jalan keluar yang diambil perusahaan ketika karyawannya tidak patuh atau tidak sesuai tuntutan.

Belum lagi tentang eksploitasi lingkungan yang semakin kejam. Para kapitalis dengan bebasnya mendirikan pabrik-pabrik baru karena mereka tahu Undang-undang baru tersebut merangkul keinginan mereka. Di negerinya, para kapitalis itu bersahabat erat dengan pemangku kepentingan. Mereka berhubungan mesra dengan para pembuat kebijakan untuk sama-sama mengisi perut keinginan mereka yang tidak pernah kenyang. Terlintas di ingatan Ker soal pengalamannya dulu bersama guru sekolahnya,

           “Pak guru, pemerintah itu kerjanya ngapain ya?,” tanya Ker kecil di tengah pelajaran kewarganegaraan berlangsung.

           “Mereka bekerja untuk membangun negara kita agar lebih baik. Agar rakyatnya merasa berkecukupan dan tentram,” jawab pak guru menjelaskan.

            “Kalau begitu aku ingin jadi pemerintah, pak!”

Pak guru hanya terdiam. Dia lalu melempar senyum yang di paksakan pada Ker kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa. Di benak anak kecil seusia Ker saat itu, membangun negara agar lebih baik adalah pekerjaan superhero keren yang patut di idolakan.

Ker lalu tersenyum pelan. Persis seperti senyum pak guru dulu yang dipaksakan. Dia lalu membuka jendela mobil yang ditumpanginnya. Menyingkap maha karya ciptaan superhero yang pernah di idolakannya dulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.