Ilustrasi: Priska

Penulis: Abidah Ardelia Chosal (Anggota Magang Kavling10)

Kampanye Internasional 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) tahun 2020 adalah kampanye yang dimulai sejak 25 November 2020 hingga 10 Desember 2020. Berakhirnya kampanye tersebut bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia. Kampanye ini pertama kali diinisiasi pada tahun 1991 oleh Women’s Global Leadership Institute dan mulai diakui oleh PBB pada tahun 1999. Tujuan kampanye HAKTP adalah mendorong semua individu dan kelompok di seluruh dunia untuk menyuarakan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan serta meningkatkan kesadaran tentang kekerasan terhadap perempuan sebagai isu HAM di tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional.

Sebelum kampanye 16 HAKTP dikenal di dunia internasional, tanggal 25 November sendiri sudah diperingati sebagai Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan sejak tahun 1981. Peringatan ini merupakan bentuk penghormatan atas tewasnya tiga bersaudari Patria, Minerva, dan Maria Teressa asal Republik Dominika. Ketiganya tewas di tanggal yang sama pada tahun 1960. Mereka bertiga dipukuli hingga tewas dan dibuang ke dasar tebing oleh polisi rahasia Presiden Rafael Trujillo. Ketiga bersaudari tersebut dikenal aktif memperjuangkan demokrasi dan keadilan, serta merupakan simbol perlawanan terhadap kediktatoran Trujillo. Tanggal tersebut sekaligus menandai ada dan diakuinya kekerasan berbasis gender, terutama terhadap perempuan.

Di Indonesia, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) sendiri secara aktif menggelar kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan bersama organisasi masyarakat sipil sejak tahun 2003. Melalui laman resminya, Komnas Perempuan menjelaskan bahwa rentang waktu dari 25 November hingga 10 Desember dipilih dalam rangka menghubungkan kekerasan terhadap perempuan dengan HAM secara simbolik, serta menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan juga merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM. Selain hari HAM, dalam rentang waktu tersebut juga terdapat Hari AIDS Sedunia (1 Desember), Hari Internasional untuk Penghapusan Perbudakan (2 Desember), Hari Internasional bagi Penyandang Cacat (3 Desember), Hari Internasional bagi Sukarelawan (5 Desember), serta Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan (6 Desember).

Infografik/Adel

Pada kampanye 16 HAKTP tahun ini, Komnas Perempuan mengajak kita untuk bersama-sama menyuarakan pengesahan RUU PKS atau Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang hingga sekarang belum menemui titik terang. RUU ini merupakan payung hukum bagi korban kekerasan seksual di Indonesia yang mencakup penanganan, perlindungan, dan pemulihan.

Namun sayangnya, RUU PKS justru dikeluarkan dari daftar Prolegnas (Program Legislasi Nasional) 2020. Padahal substansi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) hanya mencakup definisi kekerasan seksual secara terbatas dan tidak mengenal sejumlah tindakan kekerasan seksual sehingga undang-undang ini tidak cukup untuk memberikan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual. Dalam rentang tahun 2016 – 2019, Komnas Perempuan mencatat terdapat 55.273 laporan mengenai kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlah tersebut mencakup 21.841 kasus kekerasan seksual dengan 8.964 di antaranya merupakan kasus perkosaan. Ironisnya, hanya kurang dari 30% dari kasus perkosaan tersebut yang diproses secara hukum.

Di sisi lain, terjadi pola kekerasan yang meningkat di masa pandemi dan butuh pemahaman dan penanganan khusus, yaitu kasus Kekerasan Gender Berbasis Siber (KGBS). Hingga bulan Oktober 2020, terdapat 659 kasus KGBS yang diadukan langsung ke Komnas Perempuan. Kasus ini melonjak dari tahun sebelumnya yang hanya terjadi sebanyak 281 kasus. Dari 659 kasus tersebut, kebanyakan di antaranya merupakan kasus kekerasan seksual yang mencakup penyebaran konten intim non-konsensual. Komnas Perempuan juga mencatat dari pemberitaan media bahwa semakin banyak kekerasan seksual yang mengorbankan laki-laki, serta kasus yang konteksnya sulit dimengerti orang biasa, seperti fetishim, swinger, dan pola baru lainnya.

Tahun ini, Kampanye 16 HAKTP berlangsung di 25 provinsi, 38 kota, dan 13 kabupaten di Indonesia, serta diikuti oleh lebih dari 167 organisasi dan masyarakat sipil dengan total 284 agenda kegiatan kampanye. Pesan nasional yang hendak disampaikan dalam peringatan Kampanye 16 HAKTP pada tahun ini adalah “Gerak Bersama: Jangan Tunda lagi, Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual” dengan tagar #GerakBersama #SahkanRUUPKS #JanganTundaLagi.

Mari kita bersama-sama galakkan kampanye secara serentak selama 16 hari untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan!

Editor: Abdi Rafi Akmal

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.