Ilustrasi: Salsa

Penulis: Adelia Firsty Hernanda

Pandemi Covid-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan jumlah pasien positif. Akibatnya, banyak sektor mengalihkan kegiatan tatap muka menjadi daring, termasuk pelaksanaan RAJA Brawijaya 2020. Sebanyak 14.000 lebih mahasiswa baru (maba) akan bersiap sedia di depan laptop selama empat hari berturut-turut, mulai dari RAJA Brawijaya, lalu dilanjutkan dengan PKKMB Fakultas. Namun, pelaksanaan ospek daring juga menimbulkan keraguan di banyak pihak benak saya, akankah tujuan dan esensi ospek yang sesungguhnya dapat diterima oleh mahasiswa baru?

Istilah Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) mulai dikenalkan sejak tahun 1898-1927 di sebuah institusi pendidikan bernama STOVIA. Awalnya ospek memang digunakan untuk menunjukkan senioritas, namun semakin lama ada nilai-nilai positif yang bisa didapatkan karena diadakannya ospek, tidak melulu soal senioritas.

Ospek memberikan kita pengetahuan dan wawasan baru terhadap kampus, apalagi untuk mahasiswa baru yang sedang mengalami masa transisi dan harus mengenal banyak sistem yang berbeda dengan sekolah. Mahasiswa akan menemui serangkaian penyambutan besar-besaran dan menerima banyak sekali materi. Saya memperkirakan, di awal pelaksanaan ospek, maba akan memperhatikan seluruh materimateri tersebut karena perasaan excited. Perasaan tersebut kemudian berangsur-angsur hilang dan maba mulai merasakan rasa bosan. Hal yang sama juga pasti terjadi pada pelaksanaan ospek secara luring. Perbedaannya, ospek secara daring akan jauh lebih membosankan dan mudah mengalami distraksi, sehingga sangat mungkin para maba bergabung di zoom tetapi tidak menyimak sedikit pun. Pada akhirnya, euforia mereka sebagai mahasiswa akan terasa kurang ketika mereka tidak terlibat langsung di dalamnya.

Salah satu komponen penting dari ospek adalah penugasan. Walaupun merepotkan, penugasan memiliki esensi penting untuk meningkatkan kreativitas, pemecahan masalah, analisis, dan kerja sama. Nilai-nilai itu akan tetap didapatkan selama pelaksanaan ospek daring, namun terbatas. Beberapa proyek besar dapat dibuat secara berkelompok, namunn sekarang akan sangat merepotkan jika diberikan. Penugasan pada akhirnya akan terbatas pada menulis esai, membuat video dan sejenisnya yang dapat dikumpulkan secara daring. Belum lagi banyak yang bisa mengakali pengerjaannya, seperti penugasannya dikerjakan oleh orang lain. Jika benar begitu, mereka tentu tidak akan mendapatkan esensinya.

Selain itu, para maba-maba umumnya kerap mengadakan pertemuan dengan teman-teman barunya di kampus beberapa hari sebelum pelaksanaan ospek, entah itu karena ada tugas kelompok atau sekadar nongkrong biasa. Seringkali mereka akan memilih tempat untuk menginap karena sampai harus begadang ketika mengerjakan tugas kelompok. Lalu para maba ini juga akan bersibuk ria menyiapkan setelan dan alat-alat ospek untuk keesokan harinya. Pada momen seperti ini, mereka saling bahumembahu untuk menyelesaikan pekerjaan, dan betapa bahagianya saat benar-benar telah selesai. Dalam pandangan saya, maba tahun ini mungkin hanya akan merasakan secuil dari rasa kebersamaan seperti itu.

Ketika hari pelaksanaan ospek tiba, maba tahun ini tentu tidak akan lagi mendengar teriakan-teriakan “Jalan dipercepat, jangan lari” atau “Duduknya kurang rapat, dirapatkan lagi! Itu yang di belakang belum duduk”. Ah, kalimat-kalimat template bagi para panitia Korlap. Walau mungkin tidak akan mendengar kata-kata tersebut, maba tahun ini mungkin akan mendengar template lain dari mulut para ‘Korlap’—itupun jika ada, mungkin saja seperti “Jaringan dipercepat, jangan lemot”.

Seruan dari para korlap memang seringkali memang membuat emosi, namun di balik itu semua, kesadaran untuk hidup disiplin dimunculkan. Sifat yang tentunya akan berguna kelak selama mengikuti kegiatan akademik dan organisasi. Meski begitu, saya jadi penasaran dengan tugas ‘korlap-korlap’ tadi. Memangnya mereka bisa menertibkan maba secara daring?

Maba, khususnya maba UB, juga tidak akan merasakan sensasi duduk berdempetan di Samantha Krida, GOR Pertamina, dan UB Sport Center, maupun saat di fakultas masing-masing. Rasanya saat itu akan lebih baik egois untuk diri sendiri agar mendapat tempat yang luas, tetapi terhalang oleh pelototan mata korlap. Ibadah juga sangat melelahkan dan merepotkan, karena harus membawa air wudhu 1500 ml, bahkan ibadah pun dibatasi waktu, rasanya ingin beralasan halangan, sangat menguji iman. Tetapi untuk sekarang, ruang gerak bebas, ibadah pun mudah.

Selain itu, suasana evaluasi dengan tujuan untuk mengoreksi kelengkapan, peraturan dan sopan santun juga akan dilewatkan para maba. Bayangkan saja, jika ospek secara luring saja banyak yang melanggar, apalagi ospek secara daring yang sangat bisa untuk diakali. Saya khawatir, peraturan-peraturan yang dibuat dalam fakultas akan menjadi lebih sulit untuk dibiasakan.

Tradisi long march mengelilingi universitas, sembari meneriakkan jargon fakultas masing-masng pun lenyap. Padahal, teriakan-teriakan jargon tadi bisa meningkatkan kecintaan terhadap fakultas masingmasing. Lalu, bagaimana itu bisa dibangun saat ospek secara daring?

Banyak esensi ospek luring yang tidak dapat diberikan ospek daring.Terlepas dari esensi yang bisa jadi kurang maksimal diterima oleh mahasiswa baru, panitia mungkin bisa menciptakan sesuatu yang akan membuat Maba tetap merasakannya, atau dapat merasakan esensi lain dari ospek, karena ospek akan menjadi sia-sia jika hanya pengetahuan yang dapat diterima, sedangkan attitude tetap sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.