Ilustrasi: Afi
Oleh: Agung Mahardika

Hari ini adalah pekan kedua aku kuliah. Sambil menunggu jam kuliah siang, aku duduk sendiri di kursi teras perpustakaan. Letakku tepat di sebelah barat pintu masuk, di belakangku orang lalu-lalang keluar dan masuk perpustakaan. Perpustakaan siang ini sangat ramai, seluruh meja telah penuh.

Di samping kananku ada empat perempuan yang keempat-empatnya berjilbab. Mereka terlihat cukup akrab. Di meja sebelah barat dari empat perempuan itu ada tiga laki-laki yang masing-masing fokus dengan ponselnya. Yang gondrong berkali-kali menggulung layar sambil cekikikan sendiri. Yang dua lagi terlihat sangat sibuk bermain game dan berkali-kali teriak mengumpat. Sangat menganggu. Tepat di depanku ada sepasang laki-laki dan perempuan yang berhadapan. Yang perempuan memunggungiku, yang laki-laki menghadap ke arahku. Sepertinya sepasang kekasih.

Di antara banyaknya orang di teras perpustakaan, ada satu orang yang menarik perhatianku. Mejanya tepat di barat sepasang kekasih yang ada di depanku. Berjarak satu meja dari mejaku. Dari belakang kulihat laki-laki itu tubuhnya cukup jangkung dan rambutnya agak panjang namun tertata rapi. Dia memakai kemeja batik dan berkaca mata. Dari tadi dia terlihat sibuk dengan laptop dan beberapa buku yang tertumpuk di sebelah laptop. Ketika orang-orang sedang bersantai, dia malah serius. Cukup menarik.

Sudah hampir satu jam aku di sini. Masih setengah jam lagi kuliah siangku dimulai. Siang hari saat kemarau di kota ini sangat panas. Panas sekali.

Panas yang menyengat membuatku dehidrasi. Aku mendongak-dongak melihat ke seluruh sudut teras perpustakaan. Mataku mencari meja yang barangkali di atasnya ada air botol kemasan. Ternyata di atas meja laki-laki yang sibuk dengan laptop dan buku-bukunya kulihat ada bebarapa air botol kemasan yang diwadahi sebuah potongan kardus. Aku mengambil tas selempangku dan menuju meja tersebut.

Setelah sampai aku langsung mengambil satu botol dan mencari uang dari tas selempangku. Laki-laki tersebut jari-jarinya masih cukup gemulai menari-nari di atas keyboard laptop. Tak sedikit pun melihat ke arahku. Kuambil uang pecahan sepuluh ribu. Sebuah kaleng rokok tempat uang di meja tersebut kubuka untuk mencari uang kembalian. Ternyata kaleng tersebut belum terisi uang sama sekali. Kucari lagi uang di sudut-sudut tas. Kubuka kaleng rokok itu dan kututup kembali. Aku kembali morogoh, masih dengan upaya menemukan uang-uang receh di dalam tas. Rupanya setelah kukumpulkan tak lebih dari tiga ribu.

“Ada apa, mbak?”

Sontak aku kaget. Laki-laki yang dari tadi seperti tak punya kepedulian dengan sekitar menghentikan gerakan kesepeluh jarinya di atas laptop dan mendongak ke arahku.

“Oh, ini, mas … ini…”

Jawabku dengan gugup karena laki-laki itu mendongak ke arahku dengan matanya yang teduh dan cemerlang sambil membenarkan kaca matanya yang agak longsor. Seperti kulit di lengannya, kulit di wajahnya juga putih bersih. Dagu dan sisi-sisi pipinya telah ditumbuhi surai-surai tipis. Dengan sedikit senyum ke arahku, dia mengingatkanku pada El Profesor dalam film La Casa De Papel. Sungguh sangat menarik.

“Ini, mas. Mau bayar tapi gak ada kembalian,” jawabku sambil meletakkan kaleng rokok kosong kembali ke tempatnya.

“Ini pake uangku aja, mbak” jawabnya setelah mengambil yang dari dalam tas dan kemudian merah kaleng rokok kosong itu.

“Wah gak usah, mas. Saya gak jadi beli,“ tahanku sambil mengarahkan telapak tangan menolak ke arahnya

“Gak papa. Daripada kamu kehausan. Gak tau nih siang ini kok keras banget. Tumben banget”

Dia sudah memasukkan uangnya yang sudah dilipat rapi ke dalam kaleng.

“Makasih, mas,” ucapku sambil membawa satu botol air

Aku membalikkan badan menuju ke mejaku. Setelah satu langkah aku berhenti, mejaku sudah ditempati tiga laki-laki dan dan satu perempuan. Sialan memang. Aku memutar badan dan kepalaku sambil melayankan pandang ke seluruh arah. Dan tidak ada meja yang kosong.

“Ada apa lagi, mbak?”

Laki-laki itu kembali mengagetkanku

“Mejaku ada yang nempati. Ini aku cari ya gak ada yang kosong lagi,” jawabku sambil melayangkan pandanganku ke seluruh arah.

“Gabung sama aku aja gak papa, kok”

“Beneran? Enggak ganggu? “

“Iya, enggak papa”

“Makasih lagi, Mas.” Aku tersenyum malu ke arahnya

Aku duduk berseberangan dengannya menghadap deretan botol air.

“Kamu juga maba, ya?” Tanyaku mencoba memulai percakapan

“O, ini,” dia menunjuk ke arah name tag yang berada di dada kirinya. “Kamu dari fakultas mana?”

“O, iya, kenalin aku Tata dari Fisip,” aku mengulurkan tangan ke arahnya

“Aku Dana. FIB”

Setengah jam lebih kami bercakap-cakap. Saling tanya – jurusan kuliah, asal daerah, tempat kos – dan saling cerita. Percakapan yang tidak sengaja terjadi itu sangat cair. Dia mudah akrab dan sangat enak diajak ngobrol. Sosok yang cukup menarik. Aku sangat berharap dia menanyakan kontakku. Namun sampai jam kuliah siangku sudah tiba, dia tak menyinggung itu sama sekali. Akhirnya aku pamit pergi dan dia kembali memberikan senyum yang mengingatkanku pada El Profesor.

Bersambung…

Baca juga: 
Dana, Marilah Kita Berpisah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.