Thumbnail video Youtube “Negeri di Bawah Kabut” dari akun Negeri Films.

Judul: Negeri di Bawah Kabut (The Land Beneath the Fog)
Sutradara: Shalahuddin Siregar
Genre: Dokumenter
Tahun rilis: 9 Desember 2011
Durasi: 105 menit

Penulis: Octavio Benedictus Pradipa Ritung

Film negeri di Bawah Kabut, dirilis pada tahun 2011 oleh Negeri Films Production, di bawah dukungan Goethe-Institut Indonesien, Dewan Kesenian Jakarta, dan Ford Foundation. Film ini menceritakan kehidupan masyarakat Desa Genikan, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Ngablak, Magelang, Jawa Tengah.

Dalam film ini, divisualisasikan dengan sangat jelas bahwa Desa Genikan terletak pada lereng gunung yang sangat sejuk dan tanah yang subur. Tidak heran jika mayoritas masyarakat Desa Genikan berprofesi sebagai petani hortikultura (sayur dan buah-buahan).

Sepanjang film, penonton disuguhkan suasana kehidupan desa yang sederhana, ramah, dan tradisional. Dalam suasana seperti itu, tergambarkan juga kebingungan, kekhawatiran, dan perjuangan masyarakat untuk terus hidup. Dunia berubah dengan cepat namun tingkat kesejahteraan tidak meningkat, bahkan cenderung memburuk.

Para aktor – yang merupakan masyarakat Desa Genikan – sering dihadapkan pada situasi sulit yang membuat mereka terpaksa mengambil sebuah keputusan berani. Pada awal film saja, para petani dihadapkan pada kenyataan bahwa tanaman kentang yang mereka budidayakan berwarna kehitam-hitaman dan berdaun busuk. Hal ini menandakan bahwa akan ada banyak kentang yang busuk dan musim tersebut berpotensi gagal panen.

Melalui berbagai dialog, para petani menduga kebusukan tersebut akibat adanya perubahan musim. Padahal, menurut perkiraan hujan seharusnya sudah mulai mereda, tetapi kenyataannya hujan malah turun setiap malam hari. Akhirnya, mereka memutuskan untuk melakukan penyemprotan pestisida setiap hari. Bahkan, salah satu petani yang sedang berkumpul mengusulkan mencari dukun untuk menyelamatkan hasil panen kentang mereka.

Hasil tangkap layar salah satu adegan film. Foto: Aegis

Seiring berjalannya adegan film, terungkap bahwa ada salah satu permasalahan fundamental yang tak kunjung terselesaikan, yaitu pendidikan. Mayoritas masyarakat disana belum terlalu memikirkan soal pendidikan.  Lihat saja bapak dari Arifin yang secara gamblang mengakui bahwa ia tidak sekolah. Dalam dialog film pun digambarkan bagaimana ia menyayangkan jika anaknya tidak melanjutkan sekolah. “Kamu sudah dapat nilai tertinggi, sayang sekali kalau nggak bisa melanjutkan sekolah”, katanya.

Namun di sisi lain, ia menginginkan Arifin untuk membantunya bekerja. Ada hal yang mendasari mengapa Arifin diarahkan oleh ayahnya untuk bekerja dibandingkan melanjutkan studi. Dalam sebuah dialog antara Bapak Arifin, istrinya, dan temannya, dipaparkan mengenai total biaya yang harus dikeluarkan untuk menyekolahkan anak. Untuk menyekolahkan anak di SMP Negeri, kira-kira mengeluarkan biaya pendaftaran sebesar Rp750.000. Biaya tersebut belum termasuk buku, alat tulis, jahit baju seragam sekolah, apalagi jajan anak.

Mereka lalu mempertimbangkan opsi lain. Ada alternatif sekolah yang jauh lebih murah, yaitu pesantren. Setiap bulannya, hanya perlu membayar Rp8.000. Kebutuhan seragam pun dapat dibeli di pasar dengan harga yang terjangkau. Akhirnya, Bapak Arifin memutuskan pesantren sebagai tempat pendidikan Arifin selanjutnya. Tak disangka-sangka, untuk mewujudkan agar Arifin dapat masuk pesantren, Bapak Arifin rela mengunjungi tetangga satu demi satu demi mendapat pinjaman uang.

Secara garis besar, semua fenomena yang ada di flm ini erat kaitannya dengan kemiskinan. Menurut Oluwatayo et al. (2016), salah satu penyebab kemiskinan adalah lemahnya peran orang-orang miskin dalam proses pengambilan berbagai keputusan yang menyangkut hajat hidup mereka.

Lemahnya posisi tawar para petani di Desa Genikan dalam proses penentuan harga karena kuatnya intervensi dari para tengkulak/pengepul, menyebabkan mereka sangat rentan menjadi korban pemiskinan akibat transaksi yang tidak adil. Bayangkan saja, komoditas kentang hanya dihargai Rp2.500/kg, seledri Rp6.000/kg, dan sawi hanya dihargai Rp1.400/kg. Fenomena kemiskinan yang ada di Desa Genikan, dapat dijelaskan dalam teori lingkaran setan kemiskinan.

Lingkaran seran kemiskinan yang menjerat masyarakat miskin dapat dijelaskan sebagai berikut: Lemahnya tingkat pendapatan riil menyebabkan rendahnya kemampuan menabung sehingga berdampak pada lemahnya kapasitas modal untuk investasi. Kapasitas modal yang lemah, kembali menyebabkan lemahnya tingkat pendapatan riil (Nurkse, 1961). Proses melingkar tersebut, apabila tidak segera diputus akan menyebabkan masyarakat miskin sulit keluar dari keadaan miskinnya.

Maka dari itu, perlu dilakukan langkah progresif secara kolektif dan berkelanjutan demi memutus rantai pada lingkaran kemiskinan tersebut. Keputusan Arifin menempuh pendidikan pesantren adalah salah satu contohnya. Langkah Arifin ini harus diikuti oleh teman-teman sebayanya dan juga adik-adik kelasnya agar mereka mendapatkan pendidikan yang layak.

Selain itu, para petani di Desa Genikan juga memiliki urgensi untuk membentuk kelompok tani. Kelompok tani akan berfungsi sebagai wadah untuk memperkuat jejaring kemitraan antar petani. Kelompok tani juga akan mempermudah para petani untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi bersama, seperti masalah-masalah yang digambarkan di sepanjang film.

REFERENSI
Nurkse, Ragnar. 1961. Problems of Capital Formation in Underdeveloped Countries. New York: Oxford University Press.
Oluwatayo, I. B. Ojo, A. O. 2016. Is Africa’s Dependence on Agriculture the Cause of Poverty in the Continent? An Empirical Review. Journal of Developing Areas. Vol. 50/1. pp. 93-102.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.